CEO Magang

CEO Magang
Bab. 24 • Dia memang kekasihnya


__ADS_3


Apakah Arash sudah pergi? Tidak. Pria itu masih di sana. Dia menepi untuk bersembunyi dari mereka. Arash masih butuh untuk waktu dalam penyamaran lagi. Dia ingin tahu dengan pasti perbuatan kotor dalam manajemen Alan, bukan hanya soal Sora.


Pria ini masih berdiri di tempat temaram. Memastikan lagi hubungan Alan dan Sora itu seperti apa dengan tetap menghindari identitasnya ketahuan oleh Alan. Meski tidak suka, Arash tetap memperhatikan keduanya.


"Aku pikir kamu sudah ada di dalam rumah. Ternyata kamu baru saja datang," ujar Alan.


"Ya," sahut Sora yang sepertinya tidak ingin mengatakan kalau dia masih harus tidur dulu di jalan karena lelah. Karena Alan seringkali kurang mau tahu soal itu.


"Kamu seperti tidak senang bertemu denganku," tebak Alan. Sora mengerjap. Dia memang sedikit lelah karena ini sudah hampir larut malam.


"Bukan tidak senang, aku hanya lelah. Ini sudah malam," kata Sora lemah. Dia tidak berbohong. Arloji di tangannya menunjukkan pukul 11 kurang sepuluh menit. Itu sudah lumayan malam.


"Baiklah. Sini aku peluk dulu. Mungkin kamu butuh tambahan energi." Alan melebarkan lengannya. Sora tersenyum dan menghambur ke dalam pelukan pria ini. "Maafin aku belum bisa mempublikasikan hubungan kita pada semua orang."


"Jangan membahas itu lagi. Aku akan siap menunggu," ujar Sora.


Arash tersenyum tipis, lalu mendengus. Setelah merasa cukup melihat apa yang ingin dia lihat, Arash menyalakan mesin motornya. Mereka memang sepasang kekasih. Malangnya Sora. Kamu di tipu pria ini. Entah siapa yang lebih dulu menjadi kekasih Alan. Kamu atau putri keluarga Burhan?


Alan melepas pelukan Sora dan menoleh ke belakang. Merasa ada orang yang sedang memanggilnya. Alan sempat melihat punggung Arash yang menghilang di kegelapan. Namun dia tidak bisa memastikan siapa itu.


"Aku pulang. Tidur yang nyenyak ya ..." Alan tersenyum sambil menyentuh garis pipi Sora.


"Ya."


***


Ini hari minggu. Namun karena tidak ada hari libur pada tanggal merah untuk anak cleaning servis, Arash tetap masuk kerja seperti biasanya.


Tangan Arash menyentuh kemeja kerjanya. Mengancingkan satu persatu seraya mematut diri di depan cermin. Sekelebat bayangan Sora dan Alan berpelukan melintas. Arash menyaksikan sendiri wajah perempuan itu begitu nyaman ketika berada dalam pelukan Alan. Rasa-rasanya pria itu adalah orang yang paling mencintainya.


Jika aku mengatakan kebusukan Alan, mungkin dia terlepas dari luka. Namun, apakah dia pasti begitu? Apakah dia akan setuju saat ada orang yang bicara tentang keburukan kekasihnya?


Arash yang bertekad untuk mengatakan siapa Alan sebenarnya urung. Dia ragu.


"Kak! Kak Arash!" panggil Arisha yang libur sekolah dari luar kamar, membuyarkan lamunannya.

__ADS_1


"Ya! Ada apa Arisha?!" tanya Arash setengah berteriak tanpa membuka pintu.


"Bunda bilang ayo makan."


"Ya! Sebentar lagi."


"Jangan lama-lama ya. Aku sudah lapar nih," keluh adik perempuannya itu.


"Ya."


"Awas kalau Kak Arash lama, ya ...," ujar Arisha tetap di sana untuk mengancam. Arash tergelak. Meskipun Arash sudah dewasa, Bunda tetap menerapkan makan dalam meja yang sama secara bersama-sama saat mereka tidak punya kegiatan mendadak. Karena dengan seperti ini, kehangatan di dalam rumah ini tetap ada. Kadang kala semua kehangatan hilang ketika semua orang menjadi dewasa.


Langkah Arash sudah sampai di depan meja makan. Oma menyambutnya dengan gembira. Mungkin ini salah satu penyebab Bunda mewajibkan makan bersama. Karena takut Oma dan Opa yang sudah tua merasa kesepian jika makan sendirian.


"Nah itu dia Kak Arash. Untung saja cepat datang, kalau tidak ... Aku harus menahan lapar," keluh Arisha lagi dengan wajah masam. Arash tergelak dan berpura-pura mematahkan leher adiknya. Membuat gadis itu histeris. "Dasar Kak Arash nih." Arisha memukul punggung kakaknya.


"Hari ini kamu bawa bekal lagi kan?" tanya Asha pada putranya.


"Emm ... Sepertinya Enggak perlu Bund. Hari ini aku dapat sif 3," jawab Arash seraya duduk di kursi setelah menggoda adiknya.


"Aku pulang jam 1, terus kembali lagi jam 5," terang Arash.


"Oh, sif yang menjengkelkan itu?"


"Bunda tahu?" tanya Arash takjub.


"Ya. Teman bunda dulu ada yang kerja di toko. Sama, sif-nya ada 3," kata Asha. "Sif paling menjengkelkan," imbuh Asha.


"Ya, itu benar," tukas Arash setuju. Dia tertawa senang. Bunda memang paling tahu dengan hal seperti ini. Setelah muncul Kakek sama ayah, mereka mulai makan pagi.


**


Arash yang sudah menjalani dua sif, kini harus terima ketika dia menjalani sif ketiga. Yaitu pulang jam 1, lalu balik lagi ke sini jam 5. Ini sif paling menjengkelkan menurut semuanya. Karena harus bolak balik rumah dan tempat kerja. Hingga banyak dari mereka yang memilih mencari kost-kostan.


Arash melewati selasar mal hendak keluar menuju ke area parkir untuk pulang. Saat itu Ronin muncul melambaikan tangan. Arash mendelik karena tingkah pria ini. Ronin sadar. Dia menengok kanan dan kiri. Tidak ada orang yang patut di takutkan. Bibirnya tersenyum merasa semuanya aman. Arash menipiskan bibir dan menunggu pria itu menghampirinya.


"Halo, sobat. Gimana pekerjaanmu?" tanya Ronin menyamai langkah Arash.

__ADS_1


"Baik-baik saja."


"Mau kemana?"


"Pulang."


"Jam berapa ini sudah mau pulang, Bung?" ledek Ronin yang sepertinya tidak tahu jadwal anak cleaning servis.


"Aku memang pulang kerja. Kamu pasti belum tahu kalau jadwal kerja anak cleaning servis itu ada tiga sif. Pagi, siang, dan seperti sekarang. Pulang jam 1, kembali lagi ke sini jam 5. Trus pulangnya nanti jam 10 malam," jelas Arash membuat Ronin terkejut.


"Benarkah?"


"Ya. Mungkin jam kerja mereka lebih padat darimu."


"Hei .... Kenapa dengan wajahmu? Ada hal tidak baik? Apa ini tentang Alan atau ... gadis kesayanganmu itu?" tebak Ronin.


"Keduanya. Lalu ... Sora memang kekasih Alan," tukas Arash. Mereka berjalan beriringan. Sesekali Ronin mengangkat tangan karena ada yang menyapa.


"Bukannya itu benar?"


"Aku sudah memastikan."


"Oh." Ronin mengangguk paham. "Lalu, kamu sudah memutuskan untuk memberitahunya?"


"Ya."


"Hei, sepertinya itu gadis mu," tunjuk Ronin pada seorang gadis di ujung selasar. Arash mengikuti telunjuk Ronin. Ternyata disana ada Sora. Gadis itu sepertinya hendak menuju area parkir.


"Aku pergi Ron," kata Arash.


"Ya," ujar Ronin seraya menepuk bahu Arash memberi semangat.


Arash segera mempercepat langkah kakinya untuk sampai. "Sora!" Karena takut kehilangan gadis itu, Arash memanggilnya. Gadis itu tidak mendengar. Justru jalannya makin cepat. Baru panggilan keduanya, Sora menoleh. Arash yang sudah dekat dengan tempat gadis itu berada sedikit terengah-engah.


"Hei, kamu yang memanggilku?" tanya Sora tidak menyangka.


...____...

__ADS_1


__ADS_2