CEO Magang

CEO Magang
Bab. 25 • Tidak punya hak


__ADS_3


"Ya," sahut Arash seusai mengatur napasnya untuk menjadi lebih tenang. Sora melihat dengan geli pria ini terburu-buru mendatanginya.


"Ada apa?" tanya Sora yang masih menyisakan gelak tawa di bibirnya.


"Kamu mau kemana?" tanya Arash.


"Pulang. Aku kan sif 3. Kamu sif 3 juga?"


"Ya."


"Eh, tunggu. Aku belum bilang terima kasih untuk yang kemarin. Kamu kan sudah nganterin aku. Meskipun terpaksa di anterin, aku tetap harus bilang terima kasih," ujar Sora ceria seperti biasa.


"Sama-sama. Aku enggak terpaksa kok," sanggah Arash.

__ADS_1


"Oh, ya?"


"Mungkin kalau aku tidak memaksa, pasti akan ada orang lain yang mengantar kamu pulang," kata Arash keceplosan. Dia yang awalnya tidak berniat mengatakan itu hari ini, terkejut sendiri.


"Orang lain? Apa maksud kamu?" tanya Sora tidak mengerti. Kedua alis gadis ini hampir bertaut karena menurutnya ada yang tidak tepat di dalam indra pendengarannya. Arash diam. "Hei, waktu itu kamu belum pulang ya?" Sora segera menyadari ini secepatnya. Arash masih diam. "Benar kan Arash?" desak Sora tidak sabar. Dia yakin Arash melihat dia dan Alan berpelukan.


"Jadi kalian adalah sepasang kekasih?" tanya Arash langsung mulai membahas hal ini. Keceplosan di awal membuatnya harus terus bicara soal ini.


"Jadi benar kamu melihatnya, ya?" Bola mata Sora melebar mendengar itu. "Cih!" decih Sora seraya mengepalkan tangannya.


"Abaikan itu. Kamu juga sif 3?" tanya Sora benar-benar tidak ingin menjawab pertanyaan Arash. Dia mengalihkan pembicaraan ke hal yang lain.


"Ya," sahut Arash. "Apa kamu tidak tahu bagaimana Pak Alan itu?" tanya Arash nekat, padahal Sora sudah memberi kode untuk tidak membicarakan hal itu. Sora mengerutkan keningnya.


"Apa maksudmu?" tanya Sora terkejut Arash mendadak membicarakan kekasihnya. Karena sejak awal bertemu, mereka tidak pernah membahas soal Alan baik dari segi pekerjaan ataupun di luar pekerjaan.

__ADS_1


"Apa kamu tahu bagaimana sebenarnya Pak Alan itu?" ulang Arash lebih tegas.


"Pak Alan? Kenapa? Memangnya kamu tahu dia seperti apa?" tanya Sora balik. Namun gadis ini bukan bertanya karena ingin tahu, tapi lebih menantang Arash dan menganggapnya sok tahu.


"Dia ... " Arash ragu karena melihat sorot mata tajam gadis ini. "Dia bukan orang baik, Sora." Sungguh tidak bijak Arash mengatakan itu dengan cara seperti ini. Namun dia sudah mengatakannya dan itu membuat Sora menatapnya lurus-lurus.


Salah! Aku salah mengatakan ini sekarang. Arash mendapat sinyal tidak baik.


"Tidak ada orang yang sempurna, Arash."


"Tapi aku tahu dengan benar siapa Alan." Arash sudah terlanjur mengatakan ini sekarang, jadi dia akan terus mengupayakan agar Sora tahu siapa Alan. "Kamu harus menjauh dari dia, Sora. Aku bisa membuktikan padamu. Dia punya kekasih. Alan bukan hanya menjalin hubungan denganmu. Dia menduakan kamu." Arash sudah mengatakannya.


Sora diam. Raut wajahnya yang ceria tadi sudah berubah masam.


"Aku tidak tahu kenapa kamu berkata seolah kamu tahu siapa Alan, tapi aku ingatkan ... lebih baik urus diri sendiri daripada mengurusi orang lain. Bukan tidak senang, tapi ini aneh. Karena apa, kamu tidak kenal Pak Alan, Arash. Kamu orang baru. Bahkan kamu belum pernah kulihat bicara dengan dia," ujar Sora menahan diri untuk tidak marah besar.

__ADS_1


..._____...


__ADS_2