
.......
.......
.......
Jam pulang kerja.
Arash membuka pintu loker miliknya untuk mengambil barang pribadi yang ia simpan di dalam.
"Hei, kamu pulang naik apa?" tanya Jengki yang tiba-tiba muncul di sampingnya.
"Kenapa senior?" tanya Arash tidak langsung menjawab pertanyaan pria menjengkelkan itu, tapi justru memberi pertanyaan.
"Aku mau pinjam motor kamu kalau kamu bawa sepeda motor." Jengki bicara seolah mereka dekat. Jika orang lain, pria itu akan marah dan tak segan melakukan intimidasi. Mungkin karena Arash berniat memanggilnya senior, Jengki juga merasa layak untuk bersikap dekat seperti ini.
"Sayang sekali, senior. Itu bukan motorku, tapi motor pamanku," jelas Arash asal. Tidak mungkin dia meminjamkan motornya pada pria ini. Meskipun dia punya misi untuk mendekati Jengki, tapi untuk meminjamkan barang, dia tidak mau.
"Paman? Kamu tidak tinggal dengan orangtua mu?" tanya Jengki mengerutkan kening. Rupanya sedikit terkejut.
"Tidak."
"Hei Jengki! Kamu di panggil Pak Alan!" teriak seseorang. Arash menoleh keluar.
"Ya!" Sahut Jengki menoleh sebentar pada orang yang memberi tahunya barusan. "Ya sudah. Pulang saja. Aku enggak jadi pinjam motor kamu, tapi jangan lupa. Kamu tetap menjadi juniorku yang baik." Jengki menepuk pundak Arash. Pria ini hanya mengangguk.
Teman? Jadi pesuruh maksudnya ... Arash mendengus. Junior baik bagi Jengki adalah mau di suruh apapun olehnya. Seperti mengambil alih semua pekerjaan di toilet. Pria ini mengambil waist bag miliknya dan bergegas menuju ke area parkir.
Saat itu ada Satria dan Riana di sana. kantor secure parking memang dekat dengan tempat parkir karyawan.
"Sora menemui mu?" tanya Satria.
"Ya. Kenapa?" tanya Riana.
"Aku menemukannya meringis kesakitan saat di selasar tadi."
"Benarkah?" Riana terkejut.
__ADS_1
"Dia tidak bilang?" tanya Satria heran.
"Emm ... mungkin dia sakit karena lapar ya ... " Riana paham.
"Sepertinya begitu."
"Dia tadi bilang memang kalau lapar karena memberikan bekal pada anak baru tadi."
"Memberikan bekalnya?" tanya Satria terkejut. Dia baru mendengar tentang ini.
"Ya. Dia bilang kasihan ada anak baru yang hanya makan sepotong kecil roti dan air. Sora jadi berlagak kuat, padahal dia sendiri tidak bisa menahan lapar." Riana tergelak.
"Ternyata begitu," kata Satria mengerti. Dia juga tersenyum lucu. "Karena ia meringis kelaparan, jadi aku menyarankan dia untuk menemui mu. Melihatnya lapar, aku jadi kasihan," kata Satria.
"Perhatian banget sama Sora," ledek Riana.
"Jangan memulai. Kamu tahu aku dan Sora hanya teman." Satria mengingatkan. Dia tidak mau Riana cemburu pada Sora.
"Iya ... Tahu." Riana mencebik.
Arash yang tadinya tidak peduli karena tidak mengenal dua orang itu sama sekali, kini menoleh. Nama Sora membuatnya ingin menguping. Apalagi saat mereka membicarakan soal bekal. Dia sempat menguping tadi. Kini ia mengerti bahwa Sora berbohong soal sudah makan.
"Jadi dia sengaja berbohong padaku kalau dia sudah makan, karena kasihan? Hhh ... Dasar gadis itu ... " Arash berdecak seraya menggelengkan kepalanya. Bibirnya pun tersenyum tipis mendapat fakta itu. Dia naik ke atas badan motornya dan menyalakan mesin.
"Dia pasti sangat lapar waktu itu," gumam Arash masih ingat dengan Sora. Sekilas memori ketika Sora menyerahkan bekal padanya melintas.
Angin petang ini terasa kencang. Namun karena hawanya yang panas, udara terasa sejuk juga dengan kencangnya angin ini.
Motor Arash melaju bersejajar dengan bis yang ada di sebelah kanan. Tidak lama, satu jendela kendaraan umum itu di buka oleh seseorang. Tak sengaja ia pun menoleh. Matanya melebar melihat siapa yang ada di bangku dekat jendela itu.
Ternyata itu Sora. Tanpa permisi, senyum di bibir Arash terlukis. Ia teringat lagi soal bekal makan siang tadi.
Tanpa sengaja gadis itu menoleh ke arahnya. Tatapan mata mereka berserobok. Namun karena Arash memakai helm teropong, gadis itu tidak mengenalinya. Dia melewatkan begitu saja pandangan mereka berdua.
Di depan, lampu merah menghadang. Motor Arash berhenti tepat di samping bis yang di tumpangi Sora. Arash menoleh lagi pada gadis ini.
"Kenapa pria itu melihat ke arah ku terus?" gumam Sora lirih. Namun dia tidak ambil pusing. Gadis ini memilih melihat ke arah lain. Mengabaikan Arash yang sejak tadi melihat ke arahnya.
Lagi-lagi Arash tersenyum ketika gadis itu membuang muka.
Padahal dia baik sekali memberikan bekalnya padaku tadi siang, tapi lihatlah ... dia bersikap tidak peduli sekarang, batin Arash. Oh, ya. Aku juga belum mengembalikan tempat bekalnya. Besok aku harus mengembalikannya.
__ADS_1
"Hei, Sora!" panggil Arash iseng. Sora tersentak kaget mendengar pengemudi motor itu menyebut namanya. Gadis itu menoleh dan mengerutkan kening. Dia tidak mengenaliku, batin Arash menikmati main tebak-tebakan seperti ini.
Siapa dia? Kenapa bisa tahu namaku? tanya Sora dalam hati. Gadis ini dirundung rasa penasaran. Ia tetap melihat ke arah Arash tanpa bisa menebak siapa pria ini.
Sementara Sora sibuk mencari tahu nama dan wajah di balik helm itu, Arash tetap diam tidak menunjukkan siapa dia sebenarnya.
"Hei, kamu siapa? Kenapa tahu namaku?" tanya Sora setengah berteriak. Arash tergelak. Lampu hijau menyala di depan. Itu artinya kendaraan bisa melintas.
"Terima kasih untuk bekalnya," ujar Arash yang segera memacu motornya meninggalkan bis yang di tumpangi Sora.
"Hah? Bekal? Itu anak baru ternyata." Sora baru mengerti siapa itu. "Namanya siapa ya ... Aku baru sadar enggak tahu siapa nama anak itu," gumam Sora. "Besok aku tanyakan deh. Kita sudah banyak ngomong ternyata hanya dia yang tahu namaku." Sora menggelengkan kepalanya.
Sora melihat ke arah ponselnya. Sepi. Tidak ada pesan dari siapapun. Dia tidak mengirim pesan apa-apa, keluh Sora.
***
Arash tiba di rumah.
Ternyata bunda Asha tengah menunggunya di pintu ruang tengah. Setelah melihat dirinya, beliau terlihat lega dan senang. Sepertinya sudah sejak tadi bunda menunggunya.
"Oh Arash ... kamu sudah pulang?" tanya bunda antusias.
"Bunda bukan terus saja menunggu aku pulang kan?" tebak Arash tepat sasaran. Karenanya sang bunda tersenyum mendengar itu.
"Enggak kok."
"Jangan bohong."
"Hehehe iya. Bunda memang sejak tadi menunggu mu," kata beliau mengaku.
"Hhh ... " Arash menghela napas. "Kan aku enggak bakal hilang kayak anak kecil Bun," protes Arash lembut.
"Iya tahu, tapi enggak apa-apa kan kalau bunda menunggu. Lagipula ini hari pertama kamu bekerja," kata Bunda Asha. "Sudah, ayo makan malam dulu." Perempuan paruh baya ini langsung mengajak putranya ke dapur.
"Baiklah." Arash setuju.
__ADS_1
..._____...