
Langkah mereka bertiga bergerak menuju area parkir. Saat itu, ia melihat Alan dengan putri keluarga Burhan. Spontan Arash menarik tangan Sora.
"Eh, apa?" tanya Sora terkejut saat Arash menarik tangannya. Novi sendiri terlihat bingung melihat pria tampan ini menarik tangan Sora.
"Kenapa menarik tangan Sora?" Novi menegur. Dia tidak setuju.
"Kamu bisa jalan sendiri ke tempat motor kamu. Aku ingin bicara dengan Sora. Hanya berdua," kata Arash langsung mengusir Novi dengan tegas. Kening gadis ini mengerut. Dia tidak suka. Apalagi saat Arash langsung menarik tangan Sora untuk menjauh dari Novi dan area parkir tanpa peduli dengannya yang ada di sana.
"Kenapa aku di tarik ke sini, Arash?" tanya Sora yang terheran-heran dengan tingkah Arash. Pria ini tampak kebingungan sendiri. Dia tidak berpikir panjang dan langsung saja menarik tangan Sora karena melihat Alan sedang bersama kekasihnya.
"Em itu ..." Arash menggaruk kepalanya bingung. Mencoba mencari alasan yang bisa di gunakan untuk menjawab pertanyaan Sora.
"Kamu bilang ada yang ingin di bicarakan denganku." Sora mengingatkan apa yang di katakan Arash tadi.
"Ah, iya ..." Arash tersenyum canggung. "Mmm ... soal senior gemuk itu." Karena sekilas melihat senior gemuk itu melintas, Arash spontan menyebutnya. Dia tidak punya ide lain.
"Senior gemuk? Mbak Pita?" Sora menyebut sebuah nama. Arash baru kali ini mendengar nama perempuan itu untuk pertama kalinya.
"Ya." Arash merasa menemukan ide.
"Kenapa?"
"Novi bilang, dia sering marah-marah padamu tidak jelas." Akhirnya muncullah ide untuk membicarakan ini.
Bola mata Sora mengerjap mendengar itu. "Oh, itu. Tumben Novi bicara dengan fakta yang ada ..." Sora tersenyum tipis. Dari sini arash tahu bahwa gadis itu mungkin juga sering merundung Sora. Tidak disangsikan lagi karena Novi pernah bilang kalau dia tidak suka pada Sora. "Ya. Senior Pita memang begitu. Ada apa?" Tanya Sora balik. Ini membuat Arash bingung lagi.
"Eh, itu ..." Sambil mencari ide baru lagi, Arash juga tengah memperhatikan ke sekitar. Dia ingin melihat apa Alan dan calon tunangannya sudah pergi?
Sora melihat itu. Arash seperti mengabaikan pertanyaannya. "Kamu mendengar aku bicara kan?" tegur Sora sambil melongok ke wajah Arash yang melihat ke arah lain. Arash terkejut karena Sora memandangnya lurus-lurus.
"Ah, iya iya." Arash memperbaiki tingkahnya.
"Aku bertanya ada apa? Kenapa kamu bertanya soal senior Pita?"
"Oh, itu ... sepertinya kita bisa pulang sekarang." Arash langsung mengalihkan topik. Ia melihat area parkir sudah aman. Bola mata Sora mengerjap. Dia tidak paham arah pembicaraan Arash yang terkesan berbelit-belit dengan alur yang kurang jelas. Dia heran.
__ADS_1
"Ah, baiklah." Namun ternyata gadis ini cukup cool menghadapi Arash yang penuh dengan keanehan. Dia tidak ambil pusing. Mereka pun melangkah lagi mendekat ke area parkir.
Sora menghampiri motor bututnya yang berada tidak jauh dari tempat motor Arash di parkir. Arash tidak langsung pulang. Dia masih ingin melihat Sora yang mulai menyalakan mesin motornya.
"Dah! Aku pulang dulu." Sora berpamitan.
"Ya!" sahut Arash seraya mengangkat satu tangannya pada Sora. Setelah kepergian Sora, Arash menemukan mobil Alan dan putri keluarga Burhan melintas di luar area parkir.
"Berani sekali dia mengajak perempuan itu kesini. Padahal dia tahu kalau kemungkinan bertemu dengan Sora begitu besar," gumam Arash. "Ternyata dia sungguh lelaki menyebalkan." Arash mulai menyalakan mesin motornya.
**
"Bun, ayah mana?" tanya Arash ketika melihat bundanya di ruang tengah bersama Oma Wardah.
"Di ruang baca sepertinya. Ada apa?" tanya Asha ingin tahu.
"Tidak. Hanya ingin bertemu ayah."
"Datang saja ke ruang baca."
"Aku kan sedang latihan ekskul, Kak."
"Oh, ya? Apa kamu bukan sedang keluyuran?" selidik Arash tidak percaya begitu saja pada adiknya.
"Ih, Kak Arash curigaan nih."
"Karena kamu memang mencurigakan," tandas Arash.
Arisha menipiskan bibir. "Aku sudah ijin sama Bunda kok." Akhirnya senjata pamungkas yang di simpan Arisha di keluarkan.
"Bunda?" Kening Arash menyatu.
"Ya. Tanya aja sama bunda kalau enggak percaya." Gadis ini melipat tangannya penuh dengan kepercayaan diri yang kuat. Arisha tahu bahwa jika sudah menyangkut sama bunda, kakaknya ini akan mengalah.
"Awas saja kalau kamu berbohong," desis Arash pelan lalu pergi meninggalkan Arisha.
__ADS_1
"Hhh ... Untung saja tadi memang ijin sama Bunda, kalau tidak ... Kakak akan terus menginterogasi ku. Bisa ketahuan kalau aku bukan sedang latihan ekskul." Arisha menghela napas lega.
Arash melangkah menuju ruang baca. Dia mengetuk pintu. Lalu membuka pintu perlahan.
"Oh, Arash. Masuklah," pinta Arga saat melihat putranya yang sedang berada di balik pintu. Arash mengangguk. Dia melangkah masuk setelah menutup pintu. "Ada yang ingin di bicarakan dengan ayah?" tanya Arga langsung.
Arash sedikit terkejut. Berbeda dengan Arga. Melihat kemunculan putranya di ruang baca ini pasti karena ingin membicarakan sesuatu. Karena Arash tidak akan secara khusus menemuinya jika tidak ada hal penting yang akan di bicarakan.
Tubuh Arash merunduk sejenak untuk duduk di depan ayahnya.
"Apa ini soal mal?" tanya Arga sambil menutup buku yang dia baca tadi.
"Papa sudah menduganya?" tanya Arash.
"Ya. Sifat kamu mirip dengan bunda mu. Kamu tidak akan banyak bicara dan datang menemui papa secara khusus seperti ini jika tidak ada hal penting yang mau di bicarakan. Kamu cukup tertutup pada ayah dan lebih terbuka pada bunda mu." Arga mengatakan itu dengan senyum penuh pengertian.
"Kalau ayah bicara seperti itu, aku merasa tidak enak pada ayah sekarang," kata Arash.
Arga tergelak pelan. "Tidak. Ayah tidak apa-apa. Ayah mengerti itu. Ayo bicara."
"Aku mungkin belum tahu menyeluruh tentang isi semua bagian mall, tapi dari bagian cleaning servis ini saja, aku merasa ada banyak hal yang kurang tepat," kata Arash.
"Tentang pekerjaan atau manajemen?" terka Arga.
"Manajemen."
"Emmm ... Bukankah di sana ada temanmu. Alan dan Ronin?"
"Ya." Arash menaikkan alisnya.
"Jadi, masih ada yang kurang tepat meskipun itu sudah di pegang mereka?" tanya Arga seraya menyentuh dagunya. Keningnya juga mengerut.
"Hmm ... Ada sedikit hal yang kurang tepat menurutku." Arash tidak ingin mengatakan soal adanya kecurangan dalam penerimaan karyawan. Karena itu menyangkut nama Alan di sana.
"Jika kamu yakin, kamu bisa ambil keputusan sendiri. Ya ... itu saat kamu sudah resmi menjadi CEO nantinya. Apa kamu ingin acara pelantikan itu segera di lakukan, Arash?" tawar Arga.
__ADS_1
..._______...