
Alan diam sejenak.
“Kamu tetap meletakkan pria itu disana?”
“Ya. Karena dia orang yang di bawa oleh Pak Burhan. Itu teman atasan kita." Alan lebih jujur lagi. Dia terpaksa mengatakan alasan yang sebenarnya pada Sora.
"Atasan juga punya teman yang selevel dengan Jengki? Sepertinya tidak berkelas sekali," ejek Sora tidak tahan.
"Hei, jangan seperti itu. Kamu marah karena kita tidak bicara banyak saat kamu telepon itu?" selidik Alan sambil berusaha menenangkan gadisnya.
Sora diam. Mungkin iya, mungkin juga tidak.
"Nanti malam kita bertemu, gimana?" bisik Alan. Alan sedang merayu. Sora melirik. Pria ini tengah berusaha menenangkan kemarahan gadis ini.
"Bertemu?" tanya gadis ini tidak yakin. Karena kemarin saja seharian dia tidak bisa bertemu dengan padatnya jadwal Alan.
"Iya," jawab Alan yakin.
"Tumben." Sora mengernyitkan dahi. Ini sebuah sindiran.
"Kenapa?" Kali ini Alan yang heran.
"Bukannya kamu tidak ingin orang-orang tahu kalau aku kekasih mu?" tanya Sora. Ya. Tidak ada siapapun yang tahu tentang hubungan asmara mereka ini. Itu sebuah hubungan diam-diam. Backstreet.
"Bukan tidak ingin mereka tahu, hanya belum waktunya saja," ralat Alan. Tangannya menggaruk keningnya sejenak. Dia sedikit panik mendengar kalimat Sora. Ia mencoba melihat ke sekitar. Mungkin saja ada yang tengah menguping pembicaraan mereka. Namun tidak ada siapapun di lorong ini karena masih terlalu pagi.
"Hhh ... lalu sampai kapan aku harus sembunyi seperti ini, Alan?" tanya Sora lelah.
"Sabar saja. Karena akan ada hal manis jika kamu bisa bersabar ...," ujar Alan sambil tersenyum. Ia berusaha menenangkan gadis ini.
"Oke. Aku akan mencoba sabar untuk seratus tahun lagi."
"Tidak mungkin. Doakan saja ada waktu yang tepat untuk mengungkap hubungan kita," sahut Alan.
Semoga, batin Sora seperti tidak terlalu berharap. Dia pasrah.
***
__ADS_1
Siang ini.
Seperti sudah tahu kalau Sora akan muncul lagi di rooftop, Arash langsung menuju ke sana menenteng tas berisi makanan yang sudah di siapkan bunda. ia berniat membalas kebaikan Sora kemarin.
Ternyata dugaannya benar. Namun kali ini berbeda dengan kemarin. Sora bukan sedang tidur, sekarang Gadis itu tengah memandang ke arah luar gedung. Sedikit melamun.
Dari sisi ini, Arash bisa melihat wajah gadis ini dari samping. Terlihat tegas dan kuat. Bahunya naik dan turun dengan drastis. Menunjukkan dia sedang menghela napas berat. Berarti ada yang sedang ia pikirkan sekarang. Sesuatu yang membuatnya resah.
Meskipun Arash ingin membagi bekal, tapi ia merasa tidak tepat mengganggu gadis ini sekarang. Jadi tubuh Arash berbalik dan hendak pergi.
"Eh, kamu!" seru Sora yang telah melihat Arash lebih dulu sebelum pria ini menjauh.
Dia memanggilku. Berarti aku boleh mengganggunya kan? Arash berbalik lalu tersenyum.
"Mau kemana?" tanya Sora yang langsung menghampirinya.
"Aku mau turun," tunjuk Arash ke undakan disana.
"Turun? Terus tadi ngapain ke sini kalau sebentar saja sudah mau turun?" Gadis ini heran. Arash diam. Dia sedang memilah kata-kata.
"Tadi enggak mau ganggu." Arash menggerakkan dagunya menunjuk tempat Sora berdiri menatap keluar gedung.
"Oh, itu hanya sedang bengong saja. Di ganggu juga enggak apa-apa." Sora meringis sambil menggaruk tengkuknya. Dia melihat aku lagi termenung sepertinya. "Mau makan siang?" Bola mata gadis ini menemukan tas bekal yang dipegang oleh Arash.
"Ya."
"Mau makan denganku?" tawar Arash.
"Tidak. Aku sudah makan tadi," kata Sora bohong. Pagi ini dia kesiangan, jadinya tidak membawa bekal. Sarapan pun hanya makanan sisa tadi malam.
"Makan lagi aja," usul Sora.
"Tidak perlu." Sora menolak.
"Aku memaksa." Arash pantang menyerah. Kening Sora mengerut.
"Terang-terangan sekali kamu memaksa," sungut Sora bercanda.
"Hmm ... seperti kemarin. Kamu juga memaksaku untuk makan bekal kamu." Arash mengingatkan soal Sora kemarin.
"Jadi balas dendam nih?" tanya Sora.
__ADS_1
"Begitulah ..." Arash tersenyum. Sora tertawa. "Lagipula aku ingin mengembalikan sesuatu." Arash mengaduk isi tas yang agak besar itu. Sora ikut melongok ke dalam tas itu. Hingga akhirnya Arash mengeluarkan tempat bekal milik Sora. "Ini."
"Ah ... itu punyaku," seru Sora.
"Benar. Jadi aku mau balas kebaikan mu kemarin dengan membawakan makan siang untukmu," kata Arash mengeluarkan kotak-kotak berbahan plastik.
"Ini semua isinya buat makan siang?" tanya Sora heran.
"Ya." Arash sudah mengeluarkan semua kotak kotak itu.
"Wahhh ..." Sora takjub. Sebenarnya bukan hanya Sora yang takjub, Arash sendiri juga terkesima tadi melihat bekal yang di bawakan bunda. Ini banyak.
"Gimana? Kamu mau makan siang denganku?" tawar Arash.
Kenapa dia bisa bawa makanan sebanyak ini? Padahal kemarin dia hanya makan roti dengan ukuran kecil. Sora tertegun. Arash menemukan raut wajah heran milik gadis ini.
"Aku dapat ini dari tetangga. Karena terlalu banyak, jadi aku bawa semuanya. Biar bisa juga berbagi." Arash berbohong.
"Jadi begitu ya? Memang jadi buang-buang makanan kalau sampai tidak di habiskan." Sora mengerti. Sepertinya gadis ini tertarik, tapi dia masih enggan.
"Sudahlah. Ayo makan siang denganku." Tanpa sadar Arash menarik lengan Sora untuk duduk dengannya. Gadis ini sempat terkejut. Namun karena pegangan tangan Arash tidak lama, Sora membiarkan. "Nih sendok-nya." Arash menyodorkan sendok yang sudah di siapkan untuk gadis ini.
Sora mengerjapkan mata. Dia takjub.
"Kamu seperti sengaja mempersiapkan semua ini untukku," kata Sora sambil tertawa. Dia bermaksud bercanda. tanpa tahu sebenarnya memang ini semua sengaja di persiapkan untuknya.
Arash tersenyum. "Makanlah. Seperti yang kamu bilang, ini akan terbuang percuma kalau tidak ada yang makan."
"Baiklah. Aku akan ikut menghabiskan makanan ini. Ayo, e ... Eh, iya aku lupa sesuatu." Sora tersadar. Tangannya urung mengambil makanan di depannya. Dia menoleh pada Arash. Pria ini mengerjapkan mata melihat gadis ini menatapnya.
"Apa?" tanya Arash.
"Aku belum tahu nama kamu," kata Sora.
"Aku Arash," kata Arash sambil tersenyum.
"Ah ... Arash ya. Aku Sora. Eh, kamu sudah tahu namaku lebih dulu bukan? Curang sekali," tuding Sora. Tangannya mulai mengambil makannya yang ada di dalam kotak kotak itu.
"Bukan curang. Hanya sedikit lebih beruntung karena tahu nama kamu lebih dulu," ujar Arash.
"Beruntung? Hahaha ... Mana ada kata beruntung hanya karena tahu namaku. Hahaha." Sora menertawakan kalimat Arash. "Nama ku tidak se-keramat itu, Ar." Dalam sekejap Sora memanggil Arash dengan akrab. Seperti mereka sudah mengenal begitu lama.
__ADS_1
Ini mengingatkan Arash pada sosok seseorang. Seseorang yang juga memanggil namanya dengan cara yang sama.
...______...