CEO Magang

CEO Magang
Bab. 7 • Hari pertama kerja


__ADS_3


 


Pekerjaan cleaning servis lumayan membuat Arash berkeringat.


"Kenapa cairan ini tidak mempan membersihkan lantai toilet ini?" tanya Arash heran.


Dia melihat merek cairan pembersih di tangannya. Membacanya dalam hati.


"Sepertinya harus ganti. Bukankah sudah ada dana khusus untuk hal seperti ini? Apa mereka memang sengaja memberi perintah untuk memakai merek ini ...,” keluh Arash.


Pria ini kembali menyikat lantai. Meski sudah di gosok dengan keras, lantai itu tetap terlihat menguning. Padahal lantai di kamar mandi rumah saja di sikat dengan benar bisa bersih tanpa bekerja terlalu keras seperti ini.


"Hei, kamu sudah selesai menyikat semuanya?" tanya seseorang yang muncul dari balik pintu. Arash mendongak. Itu anak cleaning servis juga jika melihat dari seragamnya.


"Ya. Apa kamu juga piket hari ini?" tanya Arash ramah.


"Ya. Aku piket hari ini," jawab cowok itu.


"Kalau begitu, kamu menggosok toilet yang di sebelah kanan. Karena yang sebelah kiri sudah aku bersihkan. Biar wastafel aku yang membersihkan." Arash membagi pekerjaannya agar cepat selesai.


"Kamu anak baru kan?" tanya cowok itu dengan menyipitkan mata.


"Benar. Aku baru masuk."


"Makanya kamu belum tahu ya. Mulai sekarang, jangan seenaknya memberiku perintah ini dan itu,” protes pria itu pada Arash. Ini mengejutkan.


Cowok itu berjalan mendekat ke ruangan kecil di peruntukkan bagi karyawan. Ada kursi dan bermacam alat kebersihan di sana. Dengan santai, pria itu duduk dan mengeluarkan rokok dari sakunya.


Dari tempatnya, Arash bisa melihat itu.


“Apa yang kamu lakukan?” tanya Arash heran.


“Kamu tidak bisa melihat apa yang aku lakukan sekarang?” Pria itu justru balik bertanya. Arash mengamati lagi.


Pria ini menyelipkan rokok pada bibirnya. Selanjutnya menyulut api dengan korek yang ia pegang.


“Kamu merokok?” tanya Arash ingin tahu apa benar apa yang benar itu yang ingin pria ini katakan.

__ADS_1


“Ya. Aku sedang merokok.”


“Kamu tidak akan membersihkan toilet?” tanya Arash heran.


“Kamu ini bodoh atau bagaimana sih? Bukannya aku sudah bilang kalau aku sedang merokok?” dengus pria itu kesal.


“Lalu itu?" tunjuk Arash pada toilet yang belum di bersihkan.


“Ishhh!”


Karena Arash terus saja menyuruh pria itu membersihkan toilet, dia marah. Tubuhnya bangkit dari duduk dan mendekati Arash.


“Perlu kamu ketahui. Aku ini tidak bisa di suruh-suruh oleh mu. Kamu itu bawahan ku. Karena kamu masih baru, aku bisa memaklumi sekarang,” kata pria itu pongah.


“Fuuhh ... “ Pria itu meniupkan asap rokoknya di depan wajah Arash. Untung saja Arash bisa membaca apa yang akan di lakukan pria itu, jadi dia menghindar lebih dulu sebelum pria itu menghembuskan asap.


“Harus kamu ingat. Aku adalah senior yang harus di layani. Setiap tugasku pasti di kerjakan oleh orang-orang seperti mu. Jadi tugas membersihkan ini pun harus kamu lakukan, paham?” kata pria ini sambil menunjuk dada Arash.


Jadi dia preman dalam bagian ini, ya?


“Siapa nama kamu?” tanya Arash.


“Oh, bukan. Maaf. Aku hanya ingin bertanya siapa nama senior agar kita semakin akrab.” Rupanya Arash tidak ingin penyamarannya gagal. Ini masih hari pertama dia menjadi office boy.


“Senior?” Mendengar Arash memanggilnya senior, Pria bernama Jengki senang. “Oh, kamu mau mengakrabkan diri rupanya. Oke, oke. Dengarkan baik-baik. Nama ku Jengki,” kata pria ini sok keren.


“Terima kasih.” Arash mengingat dengan benar nama karyawan ini. Itu bisa di jadikan bahan evaluasi saat dia benar-benar bekerja sebagai CEO nanti.


Rupanya ada sisi hitam di bagian terendah di mal ini. Dia perlu tahu lebih jauh lagi. Kenapa senioritas semacam ini bisa terus berkembang di dalam manajemen cleaning servis.


Karena itu, Arash membersihkan tugas Jengki juga. Dia harus terlihat patuh pada pria ini agar di anggap sebagai satu kubu.


...______...


Arash naik ke rooftop gedung mal ini. Dia tahu tempat ini berkat pekerjaannya sebagai cleaning servis. Mungkin jika sudah menjabat sebagai CEO, dia tidak akan bisa menemukan tempat tersembunyi dan menarik seperti ini.


Tangan Arash mengeluarkan roti sandwich yang ia beli di jalan tadi. Ia ingin mengisi perutnya sejenak sambil melepas lelah.


“Hoammm!”

__ADS_1


Sontak Arash terkejut. Tiba-tiba ada suara orang yang menguap. Sepertinya masih berada di sekitar tempat Arash berada sekarang. Meski terdengar jelas, tapi tidak tahu darimana asal suara itu.


“Siapa itu ...,” gumam Arash ingin tahu. Dia menutup kembali bungkus rotinya. Pria ini berdiri dan melihat ke sekitar. Mendadak muncul seseorang yang sepertinya baru bangun tidur.


Ternyata ada orang lain di tempat tersembunyi ini. Itu adalah seorang gadis di sana.


“Oh, ada orang?” tanya gadis itu sedikit terkejut dengan kemunculan Arash.


Ternyata itu Sora. Gadis cleaning servis. Arash menghela napas lega karena itu bukan orang lain.


“Kamu tidur di sini?” tanya Arash menetralkan rasa tegang di antara mereka tadi. Sesekali ia melongok pada tempat yang tadi di buat tidur oleh gadis ini.


“Iya. Hoamm ..." Sambil menutup mulutnya, Sora menguap lagi. Setelah itu dia mengucek matanya berulang kali. Gadis ini terlihat tidak sungkan dengan keberadaan seorang pria di depannya. Bahkan terkesan cuek.


Padahal ia baru saja bangun tidur. Dimana momen itu biasanya menjadi waktu yang di anggap buruk apalagi bertemu seorang pria tampan semacam Arash. Atau gadis ini tidak merasa Arash tampan? Entahlah.


Rambutnya juga sedikit acak-acakan. Namun dengan santainya ia menyisir rambut panjangnya dengan tangan dan mengikatnya.


“Kamu ngapain di sini?” tanya Sora. Arash belum menjawab, tapi bola mata gadis ini sudah menemukan sebungkus roti di tangan Arash. “Oh, makan siang?”


Arash tahu Sora menemukan roti di tangannya. “Ya,” sahut Arash tersenyum tipis.


“Aku juga tadi makan siang.” Gadis itu antusias mengambil tas berbahan spunbond berwarna merah marun. Lalu beranjak dari tempat ia tidur tadi dan mendekat pada Arash. Kemudian gadis ini mengeluarkan tempat bekal dari dalam tas.


Tiba-tiba gadis ini meraih roti dari tangan Arash. Pria ini terkejut. Secepatnya roti itu sudah berpindah tangan ke tangan Sora.


“Kamu itu harusnya makan nasi. Jangan makan itu saja. Untuk pekerjaan cleaning servis seperti kita, makan roti saja tidak akan mengenyangkan. Justru nanti menghambat pekerjaan karena tubuh kita lemah,” nasehat Sora sambil menyerahkan tempat bekal miliknya pada tangan Arash.


“Apa maksudnya ini?” tanya Arash tidak mengerti.


“Makanlah. Tubuh kamu butuh nasi, bukan hanya roti,” ujar Sora.


Arash menatap tempat bekal itu. Lalu mendongak menatap Sora seraya menaikkan alisnya.


...______...


 


 

__ADS_1


__ADS_2