
Apa yang dikatakan Sora itu benar, jika di lihat dari sudut pandang gadis ini. Sora tidak pernah tahu Arash sudah mengenal Alan. Entah siapa yang lebih mengenal lebih dulu siapa Alan. Karena bisa saja Sora juga tahu bagaimana Alan, tapi berusaha membelanya.
Sora menatap Arash lurus-lurus, lalu menggelengkan kepalanya seraya berdecih kesal. "Ini ... sangat menjengkelkan Arash." Dia geram dan kesal. Siapa yang akan suka jika tiba-tiba ada orang yang mengatakan hal buruk tentang kekasih kita, sementara dia tidak mengenal baik dengan kekasih kita. "Bahkan kamu sangat menjengkelkan sekarang," tuding Sora. Arash gagal.
"Maafkan aku Sora, tapi aku bisa membuktikan perkataan ku benar Sora," ujar Arash. Dia tetap pada pendiriannya. Berusaha menjelaskan kalau Alan adalah pria yang buruk. Pun sama halnya dengan Sora, di mata Sora itu juga sudah termasuk cacat yang tidak bisa di maafkan.
"Ini sudah tidak benar Arash." Sora kecewa.
"Aku kenal dengan orang yang bisa meyakinkan kamu bahwa yang aku katakan benar."
"Berhenti." Sora mengangkat tangannya untuk menghentikan Arash bicara. "Meskipun kamu bisa membuktikan perkataan mu bahwa Alan bukan orang baik, tapi siapa kamu berani mengatakan itu padaku? Apa tujuanmu melakukan itu?" tanya Sora membuat Arash terdiam. "Kamu tidak punya hak memaksakan keinginanmu itu. Kita hanya teman, bukan? Bahkan baru kenal."
__ADS_1
Arash menyadari sesuatu. Dia dan Sora memang tidak punya hubungan lebih dari seorang teman yang membuat Sora wajib mendengarkan kata-katanya.
"Sangat di sayangkan, tapi aku tidak suka sikap mu yang seperti ini Arash." Sora serius.
"Aku hanya ingin kamu bertemu dengan pria baik, Sora."
"Soal itu biar aku yang mengurusnya. Sekarang kamu harus tahu batas saat bicara, Arash. Apa kamu boleh mengatakan hal semacam itu padaku atau tidak. Karena sekarang kamu membuatku tidak nyaman bareng kamu." Suasana menjadi tidak se-asyik seperti biasanya.
Ronin yang tadi sudah mau pergi, mendadak berhenti dan melihat perdebatan tadi. Dia tidak bisa menguping karena takut gadis tahu tentang Arash.
"Ada masalah, Ar?" tanya Ronin yang langsung berdiri di samping Arash. Pria itu menoleh padanya sambil berdecak kesal.
"Semuanya tidak berjalan baik, Ron," ujarnya seakan menyesal. Ronin mengerjap. Pasti perdebatan tadi penyebabnya. "Aku sudah mengatakan pada Sora kalau pria itu punya kekasih. Namun dia tidak bisa menerima perkataan ku. Sepertinya aku terlalu gegabah untuk yakin bahwa dia percaya padaku."
__ADS_1
Ronin baru mengerti kalau ternyata mereka berdebat soal Alan. Sepertinya Arash juga kecewa. "Gadis itu marah?" tanya Ronin.
"Tidak. Dia kecewa." Arash yang tadinya melihat lurus ke depan, kini menoleh pada Ronin. "Bukannya kecewa lebih menyakitkan daripada marah?" Arash tersenyum mengejek dirinya sendiri. Ronin mengangguk paham apa yang di katakan temannya.
"Semua ini jadi berantakan karena dia hanya melihat dari satu sisi, Arash. Sementara kamu tahu keduanya. Jadi tidak salah dia dan kamu jadi seperti sekarang." Ronin menepuk punggung Arash. Pria ini sepertinya agak terpukul melihat reaksi Sora.
"Ya."
"Kamu jadi pulang atau bagaimana? Jika mau, temani aku. Aku mau ke sekolah lamaku," kata Ronin.
"Reuni?" tebak Arash. Ronin hanya tertawa.
..._____...
__ADS_1