CEO Magang

CEO Magang
Bab. 19 • Kawan lama


__ADS_3


Ruang kerja milik Alan di gedung putih milik building management.


Alan baru saja keluar dari ruangan admin untuk melihat laporan tenant di dalam mal. Saat itu ia melihat Ryan dari bagian HRD tengah berada di lorong gedung ini.


"Alan," panggil Jaya bergegas menuju tempatnya berdiri. Seperti dugaannya. Pria itu memanggilnya. Namun bukan berhenti dan menyambut Jaya, Alan justru terus melangkah melewatinya. "Hei tunggu, Alan." Hingga membuat Jaya harus berbalik arah dan mengejar Alan. "Aku mau bicara soal karyawan baru yang akan di rekrut itu," ujar Ryan setelah tubuhnya sejajar dengan Alan. "Aku ..."


"Masuk," perintah Alan.


"Apa?" tanya Jayan tidak paham. Alan menarik bahu Jaya dan mengajak pria ini masuk dengan paksa. "Hei, apa-apaan ini Alan?"


Bruk! Alan langsung menahan bahu Jayan ke dinding. "Seharusnya kamu berhati-hati bicara ketika berada di luar, Jayan. Mulutmu bisa membuat mu tidak selamat kalau bicara dengan sesuka hati tanpa berpikir panjang," desis Alan.


"Oh, ya. Aku lupa. Maafkan aku." Jayan langsung mengaku salah. Alan melepaskan tangannya yang menahan banu Jayan. Dia mendekati kursinya. "Ini karena aku sangat bersemangat kawan."


"Gunakan semangat untuk hal lain jika itu membuat mu membahayakan kita," desis Alan dengan alis naik karena dia melotot pada Jayan.


"Oke. Oke. Aku paham." Jayan segera memutus omelan Alan. Dia duduk di kursi. Pria mengeluarkan sebungkus rokok dari sakunya. Lalu mengambil satu batang rokok dan menyalakan pemantik. Lalu mengembuskan asapnya hingga puas.


"Hei! Kau merokok?" tegur Alan kesal. Ia mau marah. "Bukankah aku sudah bilang jangan merokok di ruangan ku, Jayan."


"Ah, kenapa? Putri keluarga Burhan mau datang ke sini?" Jayan menekan ujung batang rokok yang masih menyala pada asbak.


"Tidak, tapi tetap saja aku tidak suka." Alan menunjukkan raut wajah masam.


"Hhh ... kamu terlalu rewel, Alan." Jayan mendengus. Alan tidak menanggapi. "Lalu bagaimana soal anak-anak yang hendak masuk ke mall ini? Aku menemukan di daerah pinggiran sana."


"Lakukan seperti biasa," perintah Alan.


"Apa harganya tetap?" tanya Jayan.


"Memangnya kau mau mematok harga berapa setiap anak?" tanya Alan balik.


"Mmm ... Lima ratus?"

__ADS_1


"Apa harga itu masih bisa di terima?"


"Aku rasa mau. Karena mal ini merupakan mall terbesar. Bagiamana?"


"Aku setuju asal tidak ada yang membuka mulut kepada yang lain."


"Mereka tidak akan membuka mulut. Karena banyak dari mereka memang menginginkan bekerja di sini karena tidak perlu melalui proses wawancara dan sebagainya. Mereka bisa langsung bekerja bukan?" Jayan menaikkan alisnya.


"Lakukan saja asal semua tetap menjadi rahasia kita."


"Tenang ... aku akan tetap menjaganya. Bukannya aku bisa sampai di sini karena kamu. Jadi aku akan tetap memegang teguh pertemanan kita." Jayan tahu benar darimana ia berasal hingga dia bisa naik ke tempat ini. Karena Alan yang dulunya seorang kepala bagian HRD merekrutnya tanpa memedulikan jenjang pendidikan ia punya.


"Lakukan dengan benar, Jayan."


"Aku tahu. Ini bisnismu paling lama di mall ini. Aku tidak bisa membiarkan ini mengganggu mu," kata Jayan tahu diri. "Apa kamu akan menikah dengan putri keluarga Burhan?"


"Pasti, tapi kita masih akan bertunangan dulu," jawab Alan.


"Bukannya dia tergila-gila padamu?" tanya Jayan.


"Sayang sekali. Padahal kamu bisa menjadi pewaris salah satu perusahaan mereka jika menjadi suami wanita itu." Jayan menipiskan bibir membicarakan ini. "Lalu bagaimana dengan Sora?" tanya Jayan yang ternyata mengenal gadis itu juga.


"Dia masih bersamaku."


"Bagaimana kamu menjelaskan padanya kalau kamu akan bertunangan dengan putri keluarga Burhan?"


"Aku tidak akan memberitahu dia."


"Dia tidak akan tinggal diam ketika tahu kamu berkhianat." Jayan menasehati.


"Saat itu semua orang akan berpikir Sora lah yang mengarang cerita bahwa dia pernah menjadi kekasih ku. Tidak ada yang bisa di lakukan orang miskin ketika protes, Jayan," kata Alan dengan sorot mata penuh berapi-api.


"Benar. Kamu benar Alan. Aku yang ada di bawah tidak akan pernah di hormati mereka kalau kita tidak punya uang dan jabatan. Di mata mereka, kita hanya anak panti asuhan dimana tidak ada tempat untuk kita di perlakukan sama dengan mereka." Jayan ikut tersulut rasa amarah.


"Ya. Maka jangan berhenti mencari uang banyak, Jayan. Kamu akan di lempar keluar ketika tidak punya uang sama sekali," kata Alan bersungguh-sungguh.

__ADS_1


***


Arash dapat giliran sift siang lagi. Dia berangkat lebih awal. Ketika itu, dia melihat Sora di antar para penjual di sisi kiri mal. Karena dekat, Arash menghentikan motornya tepat di dekat tempat gadis itu berdiri.


Sora tidak menyadari kedatangan Arash karena fokus pada penjual yang sedang menghaluskan cabe rawit yang sudah di goreng. Pria ini turun dari motornya dan mendekat.


"Kamu sedang membeli apa?" tanya Arash. Baru saat suara Arash terdengar, Sora berjingkat karena sadar.


"Arash?"


"Apa itu? Kamu membeli cabe?" tanya Arash heran. Karena di atas cabe itu tidak ada makanan lain. Gadis ini tergelak mendengar penuturan Arash.


"Bukan. Tidak mungkin aku hanya nyemil cabe aja." Sora masih menyisakan gelak tawa karena geli mendengar Arash mengatakan itu. "Nah itu ada cemilannya." Sora menunjuk pada penjual yang tengah menuangkan tahu dengan isian dari tepung kanji yang di campur terigu sedikit yang baru saja di goreng.


"Itu apa?"


"Ini tahu kocek. Kamu enggak tahu?" tanya Sora seperti sedang memberi informasi pada bocah. Arash menggelengkan kepala. "Belum pernah makan?"


"Belum," kata Arash polos.


"Wahh ... kamu ketinggalan tren nih. Di daerah sini tahu kocek-nya pak ini tuh ramai banget. Sampai-sampai, masuk vlog anak-anak. Kadang juga enggak kelihatan mana penjualnya," terang Sora dengan gelak tawa.


"Ini Mbak." Ternyata tahu kocek-nya sudah rampung. Tahu dan cabe rawit yang di haluskan dengan uleg sudah tercampur. Tercium aroma pedas yang sangat dari sebungkus camilan itu.


"Terima kasih ya, Pak. Kamu mau beli juga?" tanya Sora.


"Oh, enggak. Sepertinya aku tidak bisa makanan pedas." Arash menggelengkan kepala. Dia memang bukan penyuka makanan pedas.


"Oh ya? Terus ngapain turun tadi?" tanya Sora heran. Tangannya sibuk menusuk tahu yang di potong-potong kecil itu dengan gagang kecil dengan ujung runcing. Mirip bambu untuk sate.


"Itu ... hanya ingin tahu apa yang kamu beli," jawab Arash jujur. Dia tertarik karena ada Sora di sini, bukan karena ingin beli.


"Hahaha ... random banget sih." Sora tergelak seraya menutup bibirnya dengan punggung tangannya. Arash juga tampak terhibur dengan gelak tawa ini.


...______...

__ADS_1


__ADS_2