
Makan malam di kediaman Hendarto.
Semua sudah duduk dengan rapi di kursi masing-masing. Melihat semuanya sudah berkumpul, Arash memberanikan diri untuk bicara soal dirinya yang ingin magang dulu sebelum resmi menjadi CEO.
"Aku akan menjadi karyawan cleaning servis, Yah," kata Arash di saat makan malam bersama.
Semua orang yang ada di meja makan menoleh bersamaan. Heran. Pria yang sudah lulus kuliah di luar negeri ini membuat semua orang di meja makan terkejut.
"Cleaning servis?" tanya Arga mengerutkan kening. Asha yang melihat putranya juga mengerjapkan mata. Dia tidak paham maksud putra pertamanya ini.
"Kakak sedang main drama?" tanya Arisha sarkas. Gadis ini juga terkekeh.
Asha dan Arga punya satu anak lagi. Dia sudah masuk SMA.
Ya, adik Arash ini sengaja mengejek kakaknya. Karena jadi keluarga kakek Hendarto itu sudah pasti akan jadi penerus keluarga. Jika tiba-tiba kakaknya ingin jadi cleaning servis, dia tahu pasti ada yang sedang menarik perhatiannya. Entah apa itu.
Arash hanya tersenyum tipis menanggapi adiknya. Dia memang ingin menjadi cleaning servis juga karena sesuatu. Namun Arash tetap menutup mulutnya agar ini tetap menjadi sebuah rahasia.
"Maksud kamu apa, Ar?" tanya Asha pada putranya. Pria ini menoleh pada beliau.
"Sebelum Arash di perkenalkan di perusahaan, aku ingin melihat dulu bagaimana kerja karyawan dari bawah. Seperti cleaning servis misalnya," jelas Arash. "Jadi, mungkin lebih baik aku terjun langsung dulu dari bawah sebelum berada di atas," terang Arash.
"Jadi kamu ingin melihat bagaimana keadaan mal dari sisi bawah?" tanya kakek.
"Ya Kakek. Semacam sidak sebelum aku masuk ke dalam perusahaan. Aku ingin tahu dengan pasti bagaimana sistem kerja mereka di mulai dari bawah." Arash tampak bersungguh-sungguh.
Kepala Tuan Hendarto manggut-manggut setuju.
"Belajar pekerjaan dari bawah itu memang penting. Jadi kita benar-benar memahami akar perusahaan. Kakek sangat setuju karena itu demi pembelajaran kamu menjadi pimpinan kelak. Entah bagaimana dengan ayahmu." Tuan Hendarto menoleh pada putranya.
"Sepertinya itu adalah hal baik. Baiklah. Ayah akan membicarakannya dengan Rendra terlebih dahulu," kata Arga setuju.
"Terima kasih Ayah," kata Arash sambil mengangguk.
Di belakang, Oma Wardah masih suka ikut campur dalam memasak meskipun tidak secepat dulu. Buktinya saat semua sudah siap makan, Oma Wardah masih sibuk dengan masakannya.
__ADS_1
Walaupun uban putih sudah banyak di kepalanya, beliau tetap aktif.
Asha juga kembali ke belakang membantu mertuanya. Karena kalau tidak begitu, Oma Wardah akan tetap berkutat dengan masakan.
"Bun, semua sudah menunggu," kata Asha.
“Nanggung. Kalian makan saja dulu,” sahut Oma Wardah.
“Bun! Ayo kita makan!” Tuan Hendarto memanggil istrinya.
"Iya! Ini sudah kok,” sahut Oma Wardah. Jika ajakan Asha tidak mempan, panggilan Tuan Hendarto ampuh.
“Ayo, ayo. Ayah marah nanti,” ujar Bunda wardah panik. Asha tersenyum.
Di tangan beliau ada sepiring masakan. Asha menyusul di belakang beliau. Wanita paruh baya ini masih sangat menyukai memasak.
"Ayo Arash, kamu harus makan yang banyak. Oma tidak setuju kalau kamu tidak makan dengan benar." Oma Wardah langsung menuangkan masakan pada piring Arash tanpa menunggu persetujuan cucunya.
"Iya, Oma." Meskipun tidak setuju, Arash mengangguk saat Oma bersikap memaksa seperti itu. Arisha tergelak saat melihat kakaknya pasrah.
"Ayo, Arisha juga harus banyak makan sayur. Buat perempuan itu juga penting." Oma Wardah menuangkan sayuran itu di atas piring gadis ini.
“A-nya satu saja. Jangan banyak,” protes Oma Wardah. Asha menoleh cepat ke putrinya sambil melotot.
“Iya, Oma.” Arisha meralat ucapannya.
Sudah menjadi kebiasaan Oma untuk memaksa cucu-cucunya makan masakan yang beliau masak. Meskipun mereka tidak suka, bibir mereka tidak mudah untuk menolak. Apalagi satu meja dengan bunda.
"Jangan menolak masakan yang sudah di buat oleh Oma. Bunda sangat tidak setuju jika kalian melakukan itu. Ingat itu," pesan bunda Asha mengingatkan kedua anaknya.
Bukan hanya sekedar memperingatkan, Asha juga mengingatkan ini dengan ekspresi wajah serius. Sepertinya hal ini bukan sesuatu yang bisa di bantah atau di buat main-main. Mau tidak mau, Arash dan Arisha mengangguk setuju dan tidak melanggarnya.
...******...
Arash sudah resmi menjadi cleaning servis dengan bantuan Rendra sekretaris ayahnya. Semua sudah di atur agar tidak ada yang sengaja memberitahu pada karyawan lain keberadaan calon CEO ini.
Pagi ini sekitar jam 9. Deru suara motor terdengar dari garasi rumah kediaman Hendarto. Asha yang berada di ruang tengah melongok keluar. Karena masih kurang puas, perempuan ini membuka pintu kaca. Lalu menjulurkan kepala untuk mendengarkan suara deru motor tadi.
Ternyata itu Arash, putranya. Dia membuka pintu lebih lebar dan keluar. Jarang sekali motor itu di pakai putranya.
__ADS_1
“Arash, kamu mau naik motor? Kemana mobil kamu?” tanya Asha.
“Ada, Bund. Di dalam garasi.” Arash menunjuk ke arah garasi di belakangnya.
Asha menjulurkan kepala melihat ke dalam garasi. Mobil kesayangan putranya memang ada di sana.
“Lalu kenapa pakai ini? Mobil kamu itu kenapa?" tanya Asha lagi.
“Arash kan sedang menyamar jadi cleaning servis, Bun. Jadi kalau pakai mobil, kan aneh. Mereka akan curiga,” jelas putranya.
“Oh, iya. Bunda lupa." Asha tersenyum geli. Kemudian kepalanya manggut-manggut.
Arash masih di halaman untuk memanaskan mesin motor setelah 'tidur' semalaman di dalam garasi.
"Oh, ya. Bunda ingin tahu, kenapa repot-repot menjadi cleaning servis? Kamu bisa langsung menjadi seperti ayah mu kan?” selidik Asha.
Arash tersenyum. “Iya, Arash mengerti Bund. Aku takut, tidak sempat tahu perkara di bawah karena langsung ke atas," jelas Arash.
“Kamu bisa mengawasi bagian bawah tanpa perlu terjun langsung.”
“Tentu tidak bisa, Bun. Jika mereka tahu aku adalah atasan, mereka akan bersikap baik di depanku. Celah untuk mengetahui mereka buruk atau tidak akan lebih sulit.” Arash menjelaskan. "Lagipula, lebih enak naik dari bawah dulu, daripada langsung berdiri di tangga paling atas dengan bantuan orang lain."
Asha tersenyum. Lalu menepuk punggung putranya.
“Karena hidup di dalam kehidupan yang mewah, Bunda takut kamu tidak bisa menjaga hati. Namun ternyata putraku masih bisa merendah diri.” Asha bangga pada putranya.
“Ayah dan Bunda kan selalu mengajarkan aku hal baik. Tentu saja aku menjadi pria yang baik, Bun," kata Arash.
Asha tersenyum bangga. Tangannya memijit pundak putranya dengan lembut.
"Benar. Kamu benar," ujar Asha. Arash mengulurkan tangan untuk berpamitan pada bundanya.
"Arash berangkat ya, Bund ..."
"Hati-hati ya sayang ..."
"Ya."
Setelah mengecup punggung tangan bundanya, Arash memacu motornya menuju tempat kerja.
__ADS_1
...______...