
Arash sengaja menunggu di area parkir untuk bertemu dengan Sora. Namun dia tidak menemukan gadis itu sama sekali di sana.
"Kenapa aku tidak melihat Sora sama sekali ...," gumam Arash ketika mendapati karyawan di belakangnya semakin sedikit. Itu artinya gadis itu tidak akan muncul atau bahkan sudah ada di luar karena dia bukanlah karyawan pertama yang memasuki area parkir.
Akhirnya Arash memilih menyalakan mesin motor untuk segera pulang. Ternyata menunggunya sia-sia karena gadis itu tidak bisa di temukan. Motor Arash melaju menuju pintu keluar.
Arash sudah memacu motornya agak cepat untuk sampai di rumah. Namun ketika melewati taman kota, ia melihat seseorang yang tak asing di sana. Tidak terlalu jelas. Arash hanya mengenali jaket dan motor yang parkir di dekat parkir tukang becak.
Karena laju motor Arash lumayan cepat, ia bisa berhenti agak jauh dari tempat ia melihat seseorang itu.
"Aku yakin tadi jaket Sora." Arash menoleh ke belakang. Namun itu tidak bisa memuaskannya untuk mencari tahu siapa yang ia lihat tadi. Arash membelokkan motornya untuk putar balik. Dia tergesa-gesa hingga hampir tergelincir. Untung saja motor masih bisa di kendalikan hingga bisa putar balik dan menuju tempat dimana dia merasa melihat gadis itu.
Arash segera menepikan motor dan turun. Ia tergesa-gesa karena gadis itu sekarang tengah menelungkupkan kepalanya pada kepala motor.
__ADS_1
Dugaannya benar. Yang dia lihat tadi adalah gadis itu. Gadis itu ternyata memejamkan mata. Sora tertidur.
Tidur? tanya Arash terheran-heran. Pria ini menatap Sora yang dengan santainya tidur di tempat seperti ini. Dia menoleh ke sekitar.
"Dia temannya, Mas?" tanya seorang bapak yang sedang duduk di atas becaknya. Arash menoleh.
"Iya, Pak," jawab Arash.
"Dia memang sering tidur di situ Mas kalau sudah lelah. Orang sini sudah hapal itu. Kasihan rumahnya jauh." Bapak itu menjelaskan dengan lugas. "Jadi karena takut terjadi apa-apa di jalan, kalau sudah lelah, dia tidur di situ."
"Tunggu saja sampai dia bangun, Mas. Kasihan kalau di bangunkan sekarang." Bapak itu bicara lagi.
"Iya, Pak." Arash setuju. Selain karena dia tidak punya urusan yang mendesak, Arash tidak tega membangunkan gadis ini. Tampaknya tidur Sora begitu lelap. Rumahnya jauh? Jadi dia benar-benar giat bekerja.
Arash memilih duduk di pot beton yang ada di pinggir. Tak hentinya dia menatap gadis di depannya. Tidurnya begitu pulas seakan dia sedang berada di kamarnya sendiri.
__ADS_1
"Mengherankan dia yang seperti ini bisa ketemu dengan bajingan semacam Alan," gumam Arash menyayangkan. "Jadi aku harus memberitahu mu langsung atau tidak?"
"Nnggg ..." Sora menggeliat pelan. Lalu membuka matanya. Sora mengerjap ketika mendapati Arash ada di depannya. Karena tidak percaya, gadis itu sibuk mengucek matanya.
Arash memperhatikan gadis itu dengan seksama.
Meski sudah mengucek mata, sosok Arash tetap ada di depannya. Ini membuat Sora tidak yakin kalau dia sedang bermimpi. "Kamu Arash?" tanya Sora meyakinkan.
"Ya," jawab Arash dengan senyum geli yang di tahan.
"Benar-benar Arash yang aku kenal?"
"Ya. Arash yang sudah kamu beri bekal sampai kamu mengaku sudah makan padahal belum."
"Hei!" Sora memekik terkejut.
__ADS_1
..._____...