
“Tidak. Kamu saja yang makan." Arash menggelengkan kepalanya. Dia tetap ingin menolak. "Lagipula kita berdua harus makan nasi karena sama-sama menjadi cleaning servis,” tolak Arash. Ia mengembalikan kotak bekal milik gadis ini.
“Makanlah. Jangan membantah,” paksa Sora menahan tempat bekal itu di serahkan padanya. Arash mengerjapkan mata. Ia mengembalikan tempat bekalnya pada Arash. “Aku sudah makan tadi. Kamu tahu, aku membawa bekal dua. Jadi sebenarnya itu bekal tambahan.” Sora tersenyum memamerkan giginya.
“Tapi ...” Arash ingin menolak.
“Tidak ada tapi. Kamu harus makan nasi. Nih, roti mu.” Sora menyerahkan roti pada telapak tangan Arash yang lain. “Habis makan nasi, baru makan roti, oke?"
Arash menaikkan alisnya sejenak melihat pemaksaan ini. Namun sejurus kemudian tersenyum.
"Kenapa?" tanya Sora.
"Tidak apa-apa. Lucu saja kamu memaksaku untuk makan," kata Arash geli. Sora meringis. “Beneran kamu sudah makan?” tanya Arash ragu.
“Iya. Habis makan tadi, aku langsung tidur. Jadi badanku sekarang sudah bertenaga.” Sora menunjukkan lengannya yang memang sedikit ada gundukan kuat di sana. Dia terlihat kuat.
“Kalau begitu ... Aku makan ya.”
Akhirnya Arash setuju untuk makan bekal gadis ini. Padahal ia sudah berniat keluar dari mall dan makan di sana. Namun demi menjaga perasaan Sora yang sudah tulus memberikan bekal padanya, ia mengikuti kemauan gadis ini.
“Yup. Makan saja,” ujar Sora ramah.
Arash memasukkan roti yang sudah kembali dalam bungkusnya ke saku. Sekarang ia mencoba membuka tempat bekal milik Sora. Agak sulit.
“Eh, enggak bisa buka ya? Sini, aku bukain.” Sora mengambil alih tempat bekal itu dari tangan Arash. Karena dia si empunya, tempat bekal itu mudah di buka. “Nah, bisa di buka.” Akhirnya tempat bekal itu berhasil di buka.
Kepala Arash melongok pada tempat berbentuk oval itu.
“Itu apa?” tanya Arash pada gorengan berbentuk kotak yang di selimuti oleh tepung roti.
“Nuget KW,” ujar Sora seraya terkekeh. Arash mengangguk. “Karena enggak bisa membeli nugget asli karena harus menghemat, aku membuatnya dari tahu,” jelas Sora antusias.
“Kamu membuatnya sendiri?” tanya Arash.
“Ya. Semuanya aku yang masak.” Dengan berbekal tepung roti sisa yang di kasih tetangga, juga telur yang adanya hanya sebiji saja, Sora membuat nugget tahu. “Ayo, makanlah.” Sora menyerahkan bekal itu pada Arash.
Dengan melukis senyum di bibirnya, Arash menerima bekal itu dan mulai menyuapkan sesendok nasi. Namun Arash urung melakukannya karena Sora terlihat memandanginya dengan wajah ingin makan.
__ADS_1
“Kamu ingin makan?” tanya Arash.
“Oh , tidak. Makanlah. Aku sudah kenyang.” Sora menepuk perutnya pelan. Sekedar menunjukkan bahwa ia sudah kenyang.
“Benarkah?”
“Iya. Ayo cepat makan. Lebih baik aku pergi saja kalau kamu canggung.” Sora beranjak dari duduknya dan berjalan menjauh. Arash tidak bisa mencegah.
“Padahal aku tidak segera makan karena lihat dia begitu ingin makan bekalnya, bukan karena canggung. Hhh ... Gadis aneh.” Arash menyuapkan makanan itu pada mulutnya. “Hmm ... Rasanya sedikit mirip dengan masakan Oma. Sepertinya dia jago masak.” Arash tersenyum.
**
Sora turun dari lantai atas.
“Oh, bodohnya aku. Kenapa aku memberikan bekal ku padanya? Padahal aku belum makan siang,” keluh Sora seraya meringis memegangi perutnya.
Rupanya gadis ini bersandiwara sudah makan tadi.
“Melihat dia hanya makan roti dan air, aku jadi kasihan. Mirip denganku dulu,” kenang Sora. Sebagai yatim piatu dari panti asuhan, dia benar-benar menghemat untuk membiayai hidupnya sendiri.
“Hei,” sapa Satria seraya menepuk punggung Sora. “Kenapa?” tanya Satria saat melihat wajah Sora yang meringis kesakitan.
“Lapar.”
“Jangan menyuruhku meminta-minta,” tolak Sora.
“Banyak alasan. Cepat sana. Dia ada di kantornya,” kata Satria. Dia mengenal Sora sejak lama. Bahkan ketika sudah punya tunangan juga masih berteman.
Sora tidak segera berangkat.
“Kenapa enggak cepat berangkat?”
“Enggak enak sama Riana.”
“Hallah ... Kalian kan sudah temenan lama juga. Kenapa jadi enggak enak sekarang?” tanya Satria seraya mendorong bahu gadis ini.
Karena Sora, Satria bisa jadian sama Riana. Bahkan sampai ke jenjang tunangan. Makanya dia begitu baik sama Sora.
“Karena di paksa, aku berangkat minta makan ya?” kata Sora pada akhirnya.
“Iya, sudah sana.”
__ADS_1
“Asyik. Makan gratis. Thanks Tria,” ujar Sora sambil menepuk lengan Satria pelan.
Satria tersenyum mendengarnya. Sora pun berjalan agak cepat menuju ruang kerja Riana. Gadis yang jadi admin secure parking area.
“Mungkin ini karena aku sudah berbuat baik, jadinya mendapat balasan yang baik,” gumam Sora gembira.
..._____...
Ia berjalan agak cepat menuju kantor secure parking area. Untung saja kantor sedang sepi, jadi Sora bisa masuk tanpa sungkan.
"Oh, Sora. Kebetulan nih, aku lagi bawa bekal banyak." Riana langsung menyambut sahabatnya ini. Sepertinya Satria sudah mengirim pesan terlebih dahulu.
Sora menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Jadi malu nih. Kesini cuma mau minta makan," keluh Sora.
"Enggak usah malu. Biasanya juga malu-maluin," canda Riana.
"Hahaha. Dasar kamu Ri," protes Sora. Riana tergelak. Dia mempersilakan Sora duduk dan membuka kotak bekal. "Jadi aku boleh makan ini semua?" tanya Sora.
"Ya. Ayang Satria sudah kenyang tadi. Jadinya enggak habis."
"Wahh ... terima kasih nih." Dengan bersemangat, Sora mulai makan.
"Memangnya kenapa enggak bawa bekal? Tumben banget. Biasanya nyerocos soal menghemat," ejek Riana dengan nada bercanda.
"Iya nih ..." Sora sibuk mengunyah. Setelah ia menelan, baru lanjut bicara. "Ada anak baru di tim ku. Trus saat makan siang tadi si atap tuh."
"Kamu tidur lagi di atap?" tebak Riana. Sora mengangguk. "Hhh ... Kalau ketahuan si monster itu, bisa gawat kamu."
"Enggak. Selama di sana enggak ada yang tahu. Ya hanya anak baru itu saja yang bisa menemukan tempat asyik itu."
"Hati-hati saja."
"Iya, aku ngerti." Sora menyuapkan makanan ke dalam mulutnya. "Anak itu hanya makan roti kecil doang. Kasihan banget kan?" Sora mengunyah lagi makanannya. "Jadi ingat aku yang dulu. Makanya aku kasih bekal ku ke dia karena membayangkan diriku sendiri," cerita Sora tuntas.
Riana menganggukkan kepalanya setuju. "Kamu baik hati juga ya ...," puji Riana. Sora menaikkan alisnya bangga. Lalu terkekeh. "Ya, udah. Habiskan saja semuanya. Aku dan Satria tadi sudah makan."
"Oke. Siap bos. Pasti aku habiskan makanan ini." Sora yakin mampu menghabiskan semua makanan yang di sediakan Riana.
Hitung-hitung dia bisa berhemat juga. Riana juga menyiapkan air untuk minum.
...______...
__ADS_1