CEO Magang

CEO Magang
Bab. 11 • Pagi yang heboh di dapur


__ADS_3


 


Pagi hari di rumah keluarga Hendarto.


Arash keluar dari kamar mandi dan berdiri di depan cermin. Rambutnya masih basah karena ia baru saja keramas. Sambil menatap pantulan dirinya di cermin, ia mengeringkan rambutnya perlahan.


Mendadak ia ingat sesuatu. Arash langsung melempar handuknya ke ranjang dan segera berlari turun ke lantai satu. Lalu belok menuju ke dapur. Ada apa?


“Pagi Arash ...” Suara Bunda Asha yang menyapa Arash tenggelam karena bingung dan heran melihat putranya terburu-buru saat masuk ke dapur. Beliau yang hendak menyapa jadi urung.


Pria ini bukan menuju ke meja makan melainkan ke rak piring tempat semua wadah yang habis di cuci di keringkan. Yang ia cari tidak ada. Lalu ia menoleh ke rak piring yang ada di atas meja dapur. Dia langsung membuka pintu rak dan mencari sesuatu di sana. Dari satu rak menuju ke rak lainnya.


Asha belum bertanya lagi. Hanya masih mencoba menilik ada apa dengan putranya. Namun rasa penasaran mulai menggerogoti.

__ADS_1


"Kamu itu nyari apa, Ar?" tanya Asha. Rupanya Arash tidak mendengar pertanyaan bundanya. Mungkin terlalu fokus mencari yang dia butuhkan, sampai-sampai suara bunda tidak bisa di dengar. "Arash?" tegur Asha lebih keras.


"Eh, iya Bun?" tanya Arash baru sadar. Baru Asha menaikkan sedikit nada bicaranya, Arash menoleh.


"Kamu itu sedang nyari apa? Baru bangun langsung sibuk mencari sesuatu di dapur. Tumben-tumbennya begitu ..." Asha merasa aneh.


"Bunda tahu tempat bekal warna biru toska enggak?" tanya Arash memilih bertanya dengan tetap mencoba mencari benda itu.


"Tempat bekal? Mm ... punya adikmu yang beli sepaket itu?" tanya Asha.


Tadi malam sepulang dari tempat kerja, ia mencuci tempat bekal itu dan meletakkan di samping bak cuci piring. Namun sekarang sudah tidak ada.


Dia harus mengembalikan itu hari ini. Setelah keluar dari kamar mandi ia baru ingat. Karena tidak ingin lupa, ia langsung melesat ke dapur.


Karena tidak menemukan di rak atas, kini Arash berganti mencari di rak bawah. Bibi di dapur bermaksud ikut mencari. Namun Asha menggelengkan kepala. Meminta bibi tetap memasak saja.

__ADS_1


"Memangnya kamu mau bawa bekal Ar, kok nyari-nyari tempat bekal segala?" tanya Asha ingin tahu. Arash yang mencari di rak bawah terdiam sejenak. Lalu mendongak pada bundanya.


"Bunda bisa siapkan aku bekal?" tanya Arash.


"Kalau kamu mau bawa, ya Bunda siapin dong. Kenapa? Kamu beneran mau bawa bekal?” tanya Asha pada putranya.


"Ya. Bunda siapin yang banyak ya. Aku mau bawa bekal hari ini," kata Arash yakin. Lalu ia kembali mencari tempat bekal gadis itu.


Asha mengerjapkan mata. Siapin yang banyak? Itu terdengar agak aneh. Namun karena tidak mau berpikir keras, Asha segera menyiapkan apa yang di katakan putranya.


"Lho, Arash ngapain itu?" tanya Oma Wardah yang muncul sambil membawa wadah toska heran.


"Dia lagi ... " Asha mengerjap serta kalimatnya terhenti ketika melihat wadah yang di pegang Oma. Kedua mata Asha juga melebar. Takut apa yang dipikirkannya benar.


Bibi di dapur juga terkejut melihat wadah yang di pegang nyonya besar. Beliau melirik Asha dan juga tuan muda.

__ADS_1


..._____...


__ADS_2