
Pagi ini Sora tergesa-gesa berangkat kerja. Karena kelelahan, gadis ini bangun agak siang. Itu membuatnya tidak sempat memasak untuk bekal hari ini.
Bahkan sekarang, Sora ada jadwal piket dengan Jengki. Dia kesal jika harus bekerja dengan pria itu. Karena artinya dia hanya akan bekerja sendiri. Pekerjaan yang sudah menumpuk kini kian menggunung saja. Itu menguras tenaga. Dia akan sangat lelah karena tidak membawa bekal.
Sora tahu soal reputasi pria itu. Namun dia ingin sesekali melawan.
Setelah hampir separuh dari toilet sudah Sora bersihkan, Jengki justru bersiap-siap untuk keluar. Pria itu hendak pergi meninggalkan pekerjaannya.
"Hei, toilet yang lain sudah aku bersihkan. Tinggal giliran mu untuk membersihkan separuhnya," tegur Sora sambil masih memegang alat kebersihan di tangannya. Mencegah langkah pria itu untuk pergi.
"Giliran ku?" tanya Jengki congkak. Dia terdengar heran dan terkejut mendengar perintah itu.
"Iya benar. Memangnya ada orang lain selain kamu, di sini?" tanya Sora balik. Wajah Jengki langsung mengerut masam. Dia berjalan mendekat ke Sora.
"Apa kamu tidak memakai otak mu?" tanya Jengki sambil mendekatkan wajahnya yang penuh dengan jerawat.
"Kenapa?" Sora diam tidak bergeming. Dia bertekad untuk melawan Jengki hari ini. Walaupun sebenarnya dia lelah jika harus berdebat karena tidak sarapan.
"Kamu kan tahu, Aku ini tugasnya hanya mengawasi, bukan ikut membersihkan toilet seperti kamu," tunjuk Jengki pada dahi Sora. Dengan cepat, Sora menepisnya. Lalu kembali menatap Jengki sinis.
"Memangnya jabatan kamu berbeda dengan ku?" tanya Sora. Jengki makin menautkan kedua alisnya mendengar bicara Sora yang membangkang. "Kamu dan aku ini sama-sama hanya cleaning servis. Jadi separuh pekerjaan ini adalah pekerjaanmu juga."
"Kamu mau melawan ku ya?" tanya Jengki sengit.
"Tidak. Aku hanya ingin mengingatkan kalau kita punya status yang sama." Sora tetap tak bergeming. Jengki kesal dan tiba-tiba mendorong tubuh Sora hingga gadis itu jatuh terduduk di lantai toilet.
"Hei!" teriak Sora seraya mendesis sakit.
__ADS_1
"Apa?" tantang Jengki dengan mata melotot ke arah Sora yang masih terduduk di lantai.
"Ehem!" deheman seseorang membuat mereka menoleh.
"Oh, Pak Alan." Jengki langsung membungkuk sopan dan hormat pada pria ini. Mendadak muncul Alan di dalam toilet ini.
"Ada apa ini?" tanya Alan saat melihat Sora duduk di lantai.
"Tidak ada apa-apa, Pak. Sora hanya terjatuh karena lantainya licin. Ayo Sora berdirilah," pinta Jengki seakan peduli dengan apa yang terjadi pada Sora. Padahal dia sendiri yang membuat gadis ini jatuh.
Pria itu mengulurkan tangan. Cih, dia berpura-pura baik sekarang? cibir Sora dalam hati.
"Tidak. Aku bisa berdiri sendiri,” ujar Sora menepis tangan Jengki. Sora menolak bantuannya.
Kurang ajar, umpat Jengki.
Alan mendekat dan mengulurkan tangan pada Sora. "Ayo aku bantu," ujar Alan. Sora mendongak.
"Berdirilah." Tanpa permisi Alan langsung menarik tangan Sora. Gadis ini sempat terkejut saat merasakan tubuhnya terangkat barusan. Padahal ia ingin berdiri sendiri. Namun sudah terlanjur. Alan berhasil membuatnya berdiri.
"Terima kasih, Pak Alan.” Sora membungkuk sedikit.
"Sudah selesai pekerjaannya?" tanya Alan. Sora melirik ke arah Jengki. Ternyata pria itu mulai membersihkan bagiannya sekarang.
"Ini baru mau selesai, Pak." Jengki tersenyum sambil menggosok WC. "Ayo, Sora. Bersihkan yang lain!" Jengki memberi perintah seolah Sora tipe pekerja yang malas.
Sialan orang ini! umpat Sora jengkel.
Terlihat sekali pria ini penjilat. Tadi saja dia tidak mau bersih-bersih. Sekarang dia justru terlihat paling bersemangat. Bahkan berlagak rajin dan memberi perintah.
__ADS_1
"Ah, sebentar. Aku mau bicara dengan Sora soal pekerjaan. Kamu bisa menyelesaikan itu sendiri kan Jengki? Nanti Sora menyusul." Alan tahu kalau tadi Jengki berlagak.
Jengki terkejut mendengarnya. Dia menggeram pelan karena akhirnya harus menyelesaikan pekerjaannya juga. Jika biasanya dia bisa lolos dari piket, kali ini tidak.
Namun dia tidak bisa menolak karena ada pak Alan.
"Iya Pak. Silakan saja Anda bicara dengan Sora. Saya ini kawan yang baik kok." Jengki berpura-pura sanggup melakukannya.
"Baiklah. Aku keluar dulu," pamit Alan.
"Baik Pak."
"Ayo Sora kita bicara di luar," ajak Alan. Meski tidak paham apa yang akan di bicarakan Alan, Sora tetap mengikuti langkah pria ini. Dia berjalan tepat di belakang Alan.
Apa yang akan di bicarakannya? Soal tadi malam yang lelah karena pekerjaan? Atau masalah yang lain?Sora mencoba menebak untuk apa Alan mengajaknya berbicara.
Setelah dapat jarak yang tepat dari toilet tadi, Alan berhenti. Sora ikut menghentikan langkahnya.
Alan membalikkan badan. "Kamu tidak apa-apa?" tanya Alan.
"Tentu saja tidak. Aku terjatuh tadi, Alan. Jengki mendorongku dengan sengaja," jawab Sora jujur. Sedikit mengadu. Lalu dengan cepat bungkam karena terasa kekanak-kanakan.
"Hhh ... Sudah aku katakan jangan melawan pria itu." Alan memberi nasehat. Ini tidak di sukai Sora. Dia mendengus kesal.
"Dia itu siapa? Bukannya dia juga sama seperti ku?" tanya Sora tidak setuju.
"Iya, tapi demi kenyamanan, lebih baik kamu menghindarinya, Sora," nasehat Alan. Lagi. Pria ini membela Jengki yang begitu menyebalkan.
"Kalau begitu, lebih baik kamu mengeluarkannya dari tim. Dia pria kurang ajar yang hanya ingin enaknya saja. Jengki itu tidak mau bekerja," desis Sora.
__ADS_1
..._____...