
Sontak Arash melihat ke arah tangannya. Dia terkejut melihat telapak tangannya begitu kotor. Dia ingat tadi tangannya masih bersih. Lalu kenapa sekarang begitu kotor?
Apa ini? Darimana aku mendapat kotor semacam ini? Ia mengerutkan kening berpikir. Mencoba memutar lagi memori ingatan sejak ia datang kerja hingga sekarang. Lalu dia ingat tentang pegangan eskalator tadi.
"Tangan kamu kotor banget," seru Ama yang melihat tangan Arash sambil meringis. Arash menoleh pada gadis itu cepat.
"Pegangan eskalator tidak pernah di bersihkan ya?" tanya Arash.
"Pegangan eskalator? Apa maksudmu?" Bola mata Ama mengerjap. Dia heran tiba-tiba di beri pertanyaan itu.
"Tanganku kotor setelah menyentuh pegangan eskalator tadi. Jadi aku rasa itu sudah lama tidak di bersihkan." Arash menunjukkan tangannya yang kotor. Setelah itu ia menyalakan kran dan membersihkan telapak tangannya.
"Siapa yang mau bersihin begituan?" Ama tergelak mendapat pertanyaan dari Arash. Mendapat respon seperti itu Arash melihat Ama dan diam. Lalu ia kembali menatap tangannya seraya menekan botol hand wash di atas wastafel.
"Bukannya itu penting?" tanya Arash tanpa menoleh.
"Ih, ganteng. Mana peduli orang-orang di atas kita untuk yang begituan. Jengki aja, kamu tahu jengki kan?" Ama berusaha mengingatkan pada pria itu.
"Ya, aku tahu dia," sahut Arash sambil menipiskan bibir.
"Nah kamu tahu dia gimana kan?"
"Hubungannya dengan pegangan eskalator yang kotor?" lanjut Arash bertanya. Kali ini tangannya sudah bersih.
"Tentu saja karena mereka malas bekerja," sahut Ama.
"Senior kita itu pinginnya dapat uang, tapi enggak mau capek. Jadi mana mungkin lah soal pegangan eskalator di pusingin. Mending mereka mikir yang pasti-pasti aja. Kayak toilet ini. Ini kan yang paling kelihatan. Gitu." Ama mulai mengambil alat-alat kebersihan. "Ayo kita bersihin ini." Gadis itu memberikan sikat dan pembersih pada Arash.
"Kenapa kamu enggak protes?" tanya Arash.
"Protes? Aku?" Ama melebarkan bola matanya. "Mana mungkin say ..." ujar Ama dengan intonasi yang berlebihan. Bahkan tangannya mengibas di depan wajahnya. Arash mendengarkan dengan menggosok lantai toilet dengan semangat.
"Kenapa tidak mungkin?"
__ADS_1
"Kamu banyak tanya juga ya ganteng. Tentu saja karena enggak beranilah." Ama juga melakukan hal yang sama, yaitu membersihkan toilet.
"Bukannya banyak orang yang menjadi cleaning servis?"
"Ya ampun. Sini aku kasih tahu." Tangan Ama melambai meminta Arash mendekat padanya. Pria ini diam saja seraya menatap datar pada gadis ini tanpa bergerak sedikit pun. "Ih," decak Ama. kesal.
Dia bermaksud dekat-dekatan sama Arash, tapi gagal. Karena benteng yang di buat pria ini begitu tinggi. Akhirnya gadis ini memilih mendekat pada Arash.
"Cukup berdiri di tempat mu dan bicara," cegah Arash.
"Ini rahasia. Mana bisa bicara tanpa mendekat. Bahaya kalau ada yang dengar. Mereka bisa melaporkan aku jadi pembangkang," kata Ama dengan wajah horor. Kepalanya menoleh ke kanan dan kiri.
"Bicara pelan saja dari situ aku juga bisa mendengarnya," kata Arash. Ama menipiskan bibir. Dia tetap mendekat. Ini membuat Arash ingin mundur. Namun ternyata gadis itu kemudian berhenti setelah jarak di antara mereka cukup untuk berbicara pelan.
"Jengki dan senior gendut itu kan bawaannya Pak Alan," kata Ama membuat Arash terakhir.
Ternyata Alan yang membawa orang-orang dengan kualitas buruk itu. Kenapa pria itu terlihat bodoh dari belakang sini? dengus Arash di dalam hati.
"Eh, kamu tahu senior gendut yang ada di kantor tadi kan?" Ama ingin memastikan Arash tahu lebih dulu siapa yang dibicarakannya. Arash mengangguk. Dia masih ingat tentang perempuan yang mencari Sora waktu itu. "Kita mana berani bilang kalau mereka begitu pada atasan. Bisa-bisa di balik tuh kejadiannya. Jadi kita yang di tuduh malas," cerita Ama lancar dengan berbisik.
"Jengki aja kalau pas dapat giliran piket, seringnya malah bersantai kan? Senior gendut yang tadi juga, dia sukanya marah-marah enggak jelas. Paling sering kena marah tuh si Sora. Karena dia suka membantah dan enggak mau bersikap patuh," bisik Ama. Ternyata mudah sekali dia membeberkan informasi. "Aku juga enggak suka Sora karena dia enggak bisa di suruh-suruh." Bibir Ama tertarik ke atas dan membuat wajah jutek saat membicarakan Sora. Arash menipiskan bibir sedikit geram saat mendengar gadis ini membicarakan alasan dia tidak suka pada Sora.
"Senior gendut itu enggak tahu kalau Jengki begitu?"
"Sepertinya tahu sih ..."
"Lalu?" kejar Arash ingin tahu.
"Ya, mereka sekongkolan lah ..."
Arash mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti.
"Masih banyak pekerjaan di luar sana. Kenapa harus memaksakan diri saat pekerjaan tidak nyaman?"
"Nggak bisa segampang itu dooongg ... Aku sudah melamar ke banyak tempat, tapi enggak ada yang mau menerima aku. Rejekinya di sini. Lagipula untuk aku, tempat ini tuh paling elit daripada yang lain. Enak kok di sini, tapi ya gitu ... harus pandai jaga sikap di depan senior lah ..."
"Meski mereka seenaknya sendiri?"
__ADS_1
"Mau bagaimana lagi ... " Ama mengangkat bahunya. Dia tidak punya banyak pilihan. "Aku sih enjoy aja. Pokoknya turuti saja keinginan mereka. Pasti kita aman. Jadi kita bisa juga berlagak di depan junior." Ama mengerlingkan matanya membuat Arash geli dan merinding.
"Pembersih ini kurang mempan. Sebaiknya minta ganti saja." Arash sudah tahu khasiat obat pembersih yang dipegangnya.
"Yang ada di atas kita kan juga ingin ambil untung. Makanya mereka milih pembersih yang murah." Ama mengomel lagi.
Ada banyak hal negatif dalam tubuh cleaning servis. Mungkin karena ini hanya mall kedua, mereka terlihat santai karena jarang di pantau langsung oleh atasan.
"Say, kenapa diam saja? Kamu juga mau bersantai kayak Jengki?" tegur Ama.
"Oh, maaf." Arash pun melanjutkan kegiatannya.
**
Malam jam 10.10
Arash muncul di kantor cleaning servis untuk check clock pulang kerja. Saat itu ia melihat Sora yang lebih sampai di kantor.
Ting! Gadis itu terkejut tatkala Arash sengaja menyerobot antrian untuk scan id card di komputer absen.
"Hei," sungut Sora.
"Halo Sora," sapa Arash.
"Oh, kamu." Nada suara Sora turun saat tahu itu Arash.
"Silakan," kata Arash mempersilakan gadis ini scan id card-nya sambil melucu. Sora tergelak. Ama yang melihat ini mendengus. "Jalan ke tempat parkir bareng?" tawar Arash.
"Oke," jawab Sora setuju. Setelah itu mereka jalan bareng. Ama yang melihat itu langsung menyeruak di antara mereka berdua.
"Apa yang kamu lakukan?" Tegur Arash.
"Aku juga jalan ke area parkir. Jadi sekalian bareng ya ..." Ama memaksa untuk ikut. Arash ingin menolak, tapi ternyata keduluan Sora yang bicara.
"Ikut saja," jawab Sora. Arash terpaksa menuruti perkataan Sora.
..._____...
__ADS_1