CEO Magang

CEO Magang
Bab. 20 • Siang yang menyegarkan


__ADS_3


Siang yang menyegarkan rupanya. Karena Arash melihat gadis ini selalu tersenyum. Kaki mereka tidak segera melangkah dari sana karena tahu bahwa waktu masuk kerja masih lama.


"Mau?" tawar Sora lagi. Karena melihat Arash terus memperhatikan camilan yang ia pegang, ia menawarkan jajanannya. Kepala Arash menggeleng sambil tersenyum. "Coba aja dikit. Kali aja kamu terus suka." Sora sedikit mendesak. Padahal Arash hanya senang memerhatikan Sora yang begitu gembira ketika makan camilannya. Gadis ini juga terlihat lucu ketika mendesis karena pedas dan panas campur jadi satu.


"Jadi aku boleh ambil?" Akhirnya Arash mengikuti usulan Sora.


"Boleh. Asal enggak ambil semuanya aja, hahaha ...,” kata Sora melucu.


"Enggak. Aku tahu kamu sangat suka camilan ini," kata Arash mengerti.


"Nih, coba." Sora menyerahkan bungkusan camilan itu pada Arash. Pria ini menerimanya. Masih hangat karena baru saja keluar dari wajan. Karena enggak ada tusuk lain, dia memakai bekas tusukan sate yang di pakai Sora tadi.


Tangan Arash mencoba menusuk satu tahu lalu memasukkannya ke dalam mulut. Rasa pedas dan asin langsung membaur. Dia menyipitkan mata sedikit menerima rasa yang di anggap asing untuknya.


Sora sendiri sedang memperhatikan ekspresi Arash yang sepertinya benar-benar baru pertama kali makan tahu kucek ini. Perlahan Arash terbiasa dengan rasa itu.


"Hmm?" Arash terkejut. Dia seperti mendapatkan sesuatu yang mengejutkannya. Tangannya menjauhkan plastik camilan. Melihatnya lagi dan mengerjap.


"Kenapa? Pedas?" tanya Sora. Ia langsung siap mengeluarkan botol minuman yang ia bawa karena Arash bilang memang kurang suka makanan pedas. Untuk level dia, makanan ini tidak terlalu pedas, tapi jika ada seseorang yang tidak terlalu suka pedas, level ini termasuk sangat pedas. Karena Sora tipe gadis penyuka makanan pedas.


"Sedikit."


"Iya. Banyak tadi cabe-nya. Sini aku pegang jajannya. Ini air. Minumlah.” Sora menyerahkan botol minumnya. Arash terkejut karena gadis ini sudah siap. Dia tidak menolak. Tangannya menyerahkan camilan itu dan menerima sodoran botol dari Sora. Pria ini meneguk minuman itu sedikit demi sedikit tanpa menyentuh ujung botol. "Kenapa terkejut tadi?" tanya Sora ingin tahu setelah melihat Arash menyelesaikan minumnya.


"Aku merasa tidak asing. Seperti sudah pernah makan." Arash benar merasa kenal tadi.


"Asing? Kamu seperti melihat makanan langka saja." Sora lagi-lagi tergelak. Arash tersenyum. Dia memang hampir tidak pernah melihat makanan seperti ini di meja makannya.


"Tapi tadi aku hampir mengenalinya. Seperti sudah pernah makan." Arash mencoba mengingat. Rasanya mulai terasa familier di lidahnya.


"Aku rasa begitu. Ini kan makanan rakyat yang pasti bisa di temukan di mana saja. Kamu pasti pernah memakannya," kata Sora.

__ADS_1


Oh, iya. Ini makanan yang pernah di buat oleh nenek. Arash tersenyum tiba-tiba. Itu ibu dari bundanya.


"Kenapa?" tanya Sora heran. Karena mendadak saja pria ini tersenyum.


"Aku ingat. Ini pernah dibuat oleh nenekku.” Arash berbagi cerita.


"Nenek? Berarti nenekmu suka makanan pedas ya?"


"Sepetinya iya. Karena bundaku juga suka," kata Arash teringat dengan nenek di kampung. Sora tersenyum mendengar itu.


"Eh, sepertinya kita harus cepat masuk. Waktunya mulai mendekati jam check clock terakhir," ujar Sora mengingatkan.


Arash ikut melihat ke arah jam tangan di tangan kirinya. "Benar. Ini sudah kurang lima belas menit." Karena keasyikan mengobrol, kedua orang ini lupa akan waktu. Arash naik ke atas motornya hendak menyalakan mesin. Namun yang ia lihat, Sora hendak menyeberang.


"Kamu ... jalan?" tanya Arash yang baru sadar bahwa gadis ini tidak membawa motor.


"Ya. Motorku di servis. Nanti istirahat aku ambil."


"Kalau begitu ikut denganku," ajak Arash.


Tidak sabar, Arash turun dari motor dan menghampiri Sora. "Naiklah," pinta pria ini mencegah langkah Sora.


"Hei, ini pemaksaan namanya." Sora melihat lurus ke arah pria ini. Bukan marah, hanya berpura-pura berang. Saat itu mobil Alan melintas. Perhatiannya teralihkan. Bibirnya bergerak samar. Seakan ingin memanggilnya. Namun rupanya Alan tidak melihat ada Sora di sini.


Arash ikut melihat ke arah titik pandangan Sora. Dia memang tidak tahu siapa yang melintas barusan, tapi dari nomor plat yang ia lihat, dia paham itu siapa.


Alan, desis Arash. Mobil pria itu berlalu.


"Ayo, Sora. Kita akan terlambat," ajak Arash. Tidak ada lagi pilihan selain ikut.


"Baiklah." Sora memilih patuh. Arash lebih dulu naik ke atas jok motor. Lalu Sora pun langsung ikut naik ke atas motor juga. Samar, Arash tersenyum melihat gadis itu mau ikut dengannya.


 

__ADS_1


***


 


Asap dari rokok batangan di tangan Jengki terlihat memenuhi ruangan kecil di dalam toilet tempat alat pembersih di letakkan. Pria itu terlihat santai. Tangan lainnya tengah mengutak-atik handphone. Terdengar suara berisik dari gawai pipih itu. Sepertinya dia tengah main game. Ketika mengambil alat kebersihan tadi,  Arash sempat melirik. Game domino sepertinya.


Sungguh sial nasib Arash harus bersama pria ini lagi. Namun itu bisa di jadikan rekaman di dalam otaknya, bagaimana sikap pria ini saat bekerja kelak.


"Hei, kamu masuk sini lewat jalan apa?" tanya Jengki tanpa menoleh pada Arash. Dia sibuk melihat ke layar ponselnya.


"Ya?” Karena fokus pada pekerjaan, dia tidak mendengar jelas pertanyaan Jengki.


“Kamu masuk mall ini lewat jalan apa?” Rupanya Jengki masih bisa mengulangi pertanyaannya.


“Oh, itu. Aku lewat pintu masuk customer tadi," sahut Arash polos.


"Pfttt ... hahahaha." Tiba-tiba Jengki tertawa. Arash yang tengah membersihkan toilet menoleh cepat. Sepertinya ada yang salah dengan jawabannya.


"Kenapa senior?" tanya Arash heran.


"Enggak, enggak." Jengki menggelengkan kepalanya sambil masih tersenyum geli. Rokoknya masih nyala di antara kedua jarinya. Arash mengerutkan kening dengan tetap membersihkan toilet. Dari pertanyaan itu seharusnya jawabannya benar dan tidak ad yang lucu sama sekali. Berarti ada istilah yang tidak ia mengerti.


Ia mencoba mengabaikan. Tangannya masih harus bekerja untuk toilet yang lain.


"Kenapa? Kamu lelah?" tegur Jengki ketika mendengar helaan napas Arash. Pria ini menoleh dan hanya tersenyum sambil mengangguk pelan.


"Kalau mau dapat uang ya memang harus begitu. Jadi jangan mikirin lelah," ujar Jengki menjengkelkan. Padahal dia sendiri sedang bersantai sekarang, malah sempat-sempatnya menasehati. Memang menasehati lebih mudah daripada melakukan pekerjaan itu sendiri.


Bisa-bisanya dia menasehati ku, batin Arash geram.


"Sip. Senior." Arash mengacungkan jempol dan bodohnya pria ini malah ikut mengacungkan jempolnya. Merasa bahwa ia paling bijak. Padahal dia juga pada posisi yang salah.


Setelah itu Arash masuk ke dalam dan menutup pintunya karena hendak menggosok dinding di balik pintu. Saat itu ada seseorang yang datang. Jengki menoleh.

__ADS_1


“Oh, Pak Alan.” Jengki terkejut karena yang muncul adalah atasannya.


..._______...


__ADS_2