
Arash tergelak. Sora langsung merasa terlepas dari rasa kantuk yang berat tadi. Bapak tukang becak yang tadi ikut tersenyum melihat perbincangan mereka. "Sejak kapan kamu ada di sini?" tegur Sora yang sudah mengumpulkan semua nyawanya.
"Sudah agak lama. Sejak kamu tidur dengan lelap," jawab Arash.
"Kenapa bisa ada di sini?" tanya Sora lagi seraya memperbaiki cara duduknya. Dia sempat meniarapkan tubuhnya tadi.
"Ini jalan umum. Siapa saja bisa melintas di sini," terang Arash. Sora melihat ke sekitar.
"Sudah bangun, Nduk?" tanya tukang becak itu.
"Iya, Pak." Sora tersenyum.
"Temannya itu sudah dari tadi nungguin," ujar bapak itu.
"Iya," sahut Sora. Arash tersenyum sambil mengangguk hormat pada pria paruh baya itu. Sora bersiap-siap untuk berangkat.
"Kamu mau pulang?" tanya Arash.
"Ya. Perjalananku masih jauh. Terlalu lama di sini juga membuatku lelah." Sora mulai memakai helmnya.
"Ya. Ini sudah malam. Kita harus segera pulang." Arash ikut beranjak berdiri dan duduk di atas motornya.
"Aku pulang dulu, Arash!" Sora menyalakan motornya dan mulai melaju dari area ini.
"Hei!" panggil Arash. Namun gadis itu tidak mendengarnya. Dia sudah melaju di aspal lebih dulu.
***
Sora melihat ke arah jam tangan dengan harga lima beras ribu miliknya. Jam 22.28. Sora memacu motor agak cepat, tapi karena motor ini adalah motor yang menggunakan mesin 1 silinder berkapasitas 97,1 CC laju motor tidaklah bisa cepat.
"Hei Sora," panggil Arash setelah bisa menyamai jarak.
"Ah! Kamu?" Sora terkejut pria ini sudah ada di sampingnya. Padahal dia sudah melaju agak cepat. Bahkan jalur ini jarang sekali di tempuh karena tidak banyak orang yang punya alamat yang sama dengannya. "Kenapa kamu bisa di sini? Apa rumah kita searah?" tanya Sora ingin tahu. "Tidak mungkin. Aku yakin rumah kamu bukan di arah ini." Sora menampik sendiri dugaannya.
"Ya. Arah rumahku memang bukan ke sini."
"Lalu kenapa lewat sini?" tegur Sora.
__ADS_1
"Aku mengikuti kamu," ungkap Arash jujur.
"Mengikuti? Penguntit?!" Sora memilih kata yang tepat untuk Arash sekarang.
"Hahahaha bisa jadi." Di beri julukan itu justru membuat Arash tertawa. Dia sadar bahwa dia memang seorang penguntit. Maka dari itu dia tertawa karena Sora menemukan julukan yang pas untuknya.
"Hei, kamu pikir jadi penguntit itu bagus?!" tegur Sora.
"Tidak." Namun mungkin menguntit kamu itu adalah pengecualian, batin Arash.
"Lalu?!" tanya Sora masih di atas motornya. Jadi kadang mereka perlu berteriak saat bicara karena takut lawan bicara tidak bisa mendengar.
"Aku sengaja mengikuti mu karena aku dengar rumah kamu jauh," ungkap Arash tanpa mengurangi kebenaran yang ada.
"Apa hubungannya rumah ku jauh dengan kamu mengikuti ku?" tanya Sora heran.
"Aku sedang mengantar kamu, Sora ..." Arash memperjelas tujuannya.
"Hahahaha nganterin aku? Kayak yang enggak pernah pulang sendiri aja nih." Sora tertawa mendengar alasan Arash. "Hei, ini bukan pertama kalinya aku pulang sendirian. Tiap hari juga begitu."
"Aku tahu, tapi lebih enak kalau ada yang nemenin kan?"
Arash tahu, tapi dia tidak bisa meninggalkan Sora sendirian. Apalagi ketika melihat gadis itu kelelahan dan menyempatkan tidur lebih dulu di jalanan seperti tadi. Itu artinya perjalanan masih lumayan jauh.
"Sudah tahu. Kamu kan gadis yang kuat. Kerja saja enggak hanya satu, tapi dobel. Atau mungkin tripel ya ..."
"Tahu darimana aku ada kerjaan lain?" tanya Sora heran. Arash lupa kalau gadis ini belum pernah bercerita kalau dia juga.
kerja di lain tempat.
"Oh, itu ... mungkin saja begitu. Karena kamu terlihat aktif banget. Jadi aku pikir kamu punya pekerjaan sampingan lainnya," ujar Arash berbohong. Dia takut gadis ini merasa insecure ketika orang lain tahu pekerjaannya yang lain.
Sora melihat Arash beberapa detik. "Kamu pernah pesen go food kebetulan aku kurirnya ya?" tanya Sora di luar dugaan. "Kok aku enggak ingat ya?"
"Go food?"
"Ya. Aku memang punya banyak pekerjaan." Sora justru mengaku. Ini membuat Arash yang takjub. Karena ia pikir tidak banyak gadis mau mengakui kalau dia punya banyak pekerjaan sampingan. Bahkan itu hanya seorang kurir.
"Dugaan ku benar, ya ..." Arash akhirnya bisa santai membicarakan ini.
__ADS_1
"Kamu sungguh pintar menebak." Sora tertawa lagi. Arash tersenyum. Tanpa sadar mereka sudah melewati jalan persawahan yang agak gelap. Obrolan-obrolan tadi membawa mereka jauh dari tempat bertemu tadi. "Eh, kamu jadi nganterin aku pulang beneran nih." Sora baru sadar.
"Eh, iya nih." Arash menimpali. Berbeda dengan Sora yang sedikit terkejut, dia justru sangat senang bisa mengantar Sora pulang sampai rumah. Bibirnya tersenyum.
Gadis itu menghentikan laju motornya. Arash ikut menghentikan motornya. "Mana rumah mu?" tanya Arash mencari tahu.
"Masih masuk gang."
"Masuk? Kenapa berhenti di sini? Bukannya gang itu lebar," tanya Arash perihal berhentinya gadis ini di sini.
"Rumahku masih agak jauh ke dalam. Jadi enggak usah ikut masuk deh."
"Kenapa?" Arash yang tadinya masih melihat ke arah dalam gang, kini melihat ke arah Sora.
"Ya ... enggak enaklah aku bawa seorang pria pulang," kata Sora dengan menggaruk pelipisnya. Arash mengerjap. Gadis ini terlihat gugup.
Tidak mungkin ini pertama kalinya dia bersama pria. Bukannya dia sudah punya kekasih Alan? Pria itu pasti sudah sering ke rumah Sora kan?
"Maaf, kalau begitu. Apa sudah aman kalau kamu jalan sendiri ke dalam?"
"Ini kan bukan pertama kalinya aku pulang ke rumah sendiri, Arash," kata Sora.
"Betul juga. Baiklah. Aku tunggu di sini, kamu bisa jalan masuk," ujar Arash mempersilakan.
"Eh, kenapa begitu. Kamu pulang saja dulu. Atau kalau enggak, kita pulang sama-sama. Aku masuk ke gang. Lalu kamu pulang ke sana." Sora menunjuk ke arah jalan besar.
"Tidak. Lebih baik kamu dulu masuk ke gang," ujar Arash tegas. Sora mencebik.
"Kamu kayak orang tua aja," sungut Sora. "Terserah deh. Pokoknya aku mau pulang ke rumah. Jangan mengikuti aku ya ..." Sora mulai menyalakan mesin motornya. Dia tidak bisa berlama-lama di sini. Arash belum beranjak dari sana. Dia masih menunggu gadis itu hilang dari pandangan.
Ketika itu sebuah mobil muncul dari arah berlawanan. "Sora," panggil seseorang dari dalam mobil. Sora menoleh dan menghentikan motornya.
"Alan?" Sora menoleh ke belakang. Dia mencari tahu apa Arash masih ada di sana atau sudah pergi.
"Mencari siapa?" tanya Alan yang sudah mendekatinya heran.
"Tidak ada," sahut Sora cepat. Ternyata Araah sudah tidak ada di sana lagi.
..._____...
__ADS_1