
"Apa kamu ingin acara pelantikan itu segera di lakukan, Arash?" tawar Arga.
Arash terkejut. "Tidak. Aku masih ingin melakukan apa yang aku kerjakan sekarang, Ayah," serobot Arash cepat. Dia tidak ingin segera menjadi CEO. Karena artinya dia tidak akan bergerak bebas karena banyak orang mengenalinya. Masih banyak yang ingin dia lakukan juga. Terutama soal gadis itu. Dia ingin melakukan sesuatu agar gadis itu tidak terperangkap dalam jebakan pria playboy semacam Alan.
Arga menaikkan alisnya sedikit. Dia menemukan suatu hal baru.
"Apa melakukan penyamaran begitu menyenangkan, Arash?" selidik Arga ketika melihat sorot mata antusias putranya.
Bola mata Arah mengerjap. Terkejut dengan pertanyaan ayahnya. Padahal itu terbilang hanya pertanyaan biasa saja. "Oh, itu hanya demi semua menjadi baik, Ayah." Pria muda ini langsung mengubah raut wajahnya dan mengelak. Arga mengangguk mengerti. Namun setelahnya pria ini tersenyum.
“Baiklah Ayah. Terima kasih telah mau mendengarkan Arash bicara.” Arash beranjak dari kursinya dan membungkuk sedikit dengan hormat pada ayahnya. “Sebaiknya aku keluar dan tidak mengganggu ayah.”
“Sebenarnya kamu tidak mengganggu, Arash. Obrolan ini menyenangkan buat ayah. Karena kamu terlihat lebih santai dengan bunda mu, jadi ayah merasa terasingkan juga,” kata Arga terdengar tengah merengek.
“Oh maaf.” Tanpa sadar Arash meminta maaf.
“Tidak. Tidak apa-apa. Jangan di buat serius. Kita ini ayah dan anak, kamu tahu,” sergah Arga seraya tergelak ringan. Senyuman tipis terulas di bibir Arash. “Kamu bisa melakukan apapun pada manajemen disana. Jika menurutmu itu tidak tepat, silakan di ubah. Ayah yakin kamu tahu mana yang baik dan tidak.”
“Ya. Terima kasih.”
***
Malam hari.
Di cafe.
Arash sengaja hanya bersama Ronin malam ini bukan untuk sekedar nongkrong. Karena dia akan membicarakan sesuatu dengan pria ini.
"Bagaimana pekerjaan mu? Sebagai cleaning servis ..." tanya Ronin bukan untuk meledek. Dia benar-benar ingin tahu keadaan kawannya ini di area yang sangat jauh dari kehidupannya.
"Baik."
"Kamu bisa menjadi CS?" Ronin tampak meragukan.
__ADS_1
"Apa yang kau khawatirkan?"
"Aku takut kamu susah membedakan sikat wc dan sikat gigi. Atau bisa juga kamu keliru menuangkan cairan pembersih dengan sabun cuci piring.” Kali ini Ronin sengaja meledek Arash.
"Dasar mulutmu. Kamu pikir selama ini aku hidup di belahan dunia mana, Ron? Kamu pikir aku tidak tahu hal semacam itu?" tanya Arash berpura-pura berang.
"Hahahaha." Ronin tertawa seraya menepuk bahu Arash. "Aku takut kamu kebingungan dengan dunia baru mu kawan. Bukankah selama ini tuan muda Arash hidup dalam dunia yang jauh dari kesengsaraan seperti itu?"
"Aku bukan tuan muda. Kita sama saja," pangkas Arash tidak mau berlebihan.
"Tetap saja. Meski kamu menyangkal kamu tetaplah Tuan Muda. Aku saja hidup dari gaji yang di bayar oleh keluargamu. Oh, tidak. Sebentar lagi kamu yang akan membayar ku." Ronin berkata benar. Arash mendengus dan meneguk minumannya. "Jadi keadaanmu baik ketika menjadi CS itu apa karena ada gadis pekerja keras itu?" selidik Ronin.
"Dia Sora."
"Wohoo ... kamu menyebutnya dengan akrab," goda Ronin. Arash menggelengkan kepalanya.
"Aku memang akrab dengan dia Ron. Karena aku pertama kali bertemu dia di bagian cleaning servis," ralat Arash. Seakan enggan di sebut begitu dekat dengan gadis itu. Padahal dia senang saat Ronin membahas Sora.
"Oke, Oke. Kamu tidak dekat dengan Sora." Ronin masih tersenyum ingin meneruskan ledekannya. Namun ia urung. "Apa kamu sudah mencari tahu bagaimana cara mengatakan pada Sora kalau Alan itu bukan pria baik?"
"Belum. Aku belum terpikir soal itu."
"Ya. Namun selain soal sifat buruk Alan soal perempuan, aku menemukan sesuatu hal janggal dalam manajemennya," ujar Arash mulai serius.
"Janggal? Apa itu?" Ronin yang sudah berhenti tertawa, mengerutkan keningnya.
"Aku belum tahu pasti, tapi aku rasa Alan menyalahgunakan wewenang dia sebagai atasan," ujar Arash mengerutkan.
"Apa maksudmu Arash?" tanya Ronin mulai serius. Pembicaraan ini di luar dugaannya.
"Ada banyak orang yang sebenarnya tidak punya etos kerja yang baik." Arash tampak sedikit berapi-api.
"Bukan tidak sependapat, tapi bukannya di suatu tempat pasti ada yang seperti itu?" Ronin membicarakan fakta.
"Aku tahu, tapi apa aku akan diam saja setelah tahu akan itu?"
"Tentu Tidak. Kamu yang akan menjadi CEO-nya. Kamu pasti tidak mau dalam perusahaan mu ada hal semacam itu. Namun kamu tidak bisa memantau banyak orang, Arash. Karyawan mu bukan hanya puluhan, tapi ini ratusan."
"Aku tahu. Bukan aku yang harusnya mengawasi mereka, tapi atasan mereka. Dan itu tidak ada pada Alan."
__ADS_1
"Jadi menurutmu, Alan penyebab terjadinya hal semacam itu di sisi bawah?"
"Ya. Mereka membenarkan tindakan mereka dengan ancaman memakai nama Alan."
"Hmmm ... jadi mereka mengandalkan nama Alan untuk melancarkan pekerjaan mereka yang buruk?" terka Ronin.
"Ya."
"Apa kamu tidak mencoba berpikir, bisa saja mereka menggunakan nama Alan ketika di belakang dia. Bisa saja di depan Alan, sebenarnya orang itu tidak benar-benar kenal dengannya. Yah, itu seperti ... aku mengatakan pada orang lain kalau aku adalah orang kepercayaan mu. Namun pada kenyataannya, kita tidak dekat. Bahkan hubungan kita bukan teman. Hanya seorang atasan dan bawahan. Hanya sebatas hubungan pekerjaan saja, tidak lebih." Ronin bicara dengan sudut pandang berbeda.
"Benar. Aku juga mencoba berpikir seperti itu. Jadi aku mencoba menyelidiki lebih jauh lagi.”
“Perlu bantuan ku?” tawar Ronin.
“Belum. Aku masih bisa melakukan sendiri, tolak Arash.
"Oke. Jika kamu butuh bantuan ku, aku siap."
"Ya."
"Jadi Alan sendiri juga belum tahu soal penyamaran mu ini?"
"Jangan. Jangan sampai dia tahu dulu. Aku akan menunjukkan diri di saat yang tepat," kata Arash.
"Bukannya cleaning servis berada dalam naungan manajemen building, tempat Alan? Jadi mustahil kalian tidak bertemu."
"Kemungkinan kita bertemu memang hampir seratus persen, tapi sepertinya Alan tidak akan cepat menemukanku."
"Kenapa?"
"Dia sangat jarang muncul di tempat aku bekerja."
"Memangnya Alan tidak pernah ke toilet sekalipun?" tanya Ronin dengan setengah bercanda.
"Itu konyol Ron. Bukannya itu tidak mungkin. Semua orang pasti akan ke toilet entah satu kali atau dua kali."
"Hahahaha ... Benar kan?" Ronin tertawa lepas.
"Namun seperti yang aku bilang, ada hal aneh di dalam manajemen Alan. Meskipun tidak selalu, bukankah seharusnya dia sering melihat pekerjaan cleaning servis juga? Setidaknya beberapa kali. Dengan begitu dia tahu ada hal tidak benar di dalam tubuh cleaning servis," kata Arash mengungkapkan kejanggalannya.
__ADS_1
..._____...