CEO Magang

CEO Magang
Bab. 12 • Wadah biru toska


__ADS_3

Asha langsung mendekat ke Oma. "Ini sudah tidak di pakai, Bun?" tanya Asha sambil menyentuh wadah toska di tangan mertuanya.


"Masih di pakai. Itu masih ada buah apel yang sudah di kupas tadi," kata Oma. Asha melongok ke dalam wadah oval itu. Benar. Masih ada beberapa potongan buah apel di dalamnya.


"Kalau boleh, Asha kupasin lagi buah apelnya ya?" bujuk Asha pelan.


"Enggak perlu. Oma tadi sudah makan buah apel banyak. Tinggal beberapa saja, tidak perlu nambah," tolak Oma Wardah yang tidak paham situasinya. "Kamu lagi ngapain Arash? Kalau kamu tetap di situ, bisa ganggu bunda kamu dan bibi masak. Kamu enggak mau sarapan terlambat bukan?" tegur Oma.


Asha melihat ke arah putranya dengan cemas. Bibi di dapur memilih fokus ke masakan di depannya.


Karena teguran itu, Arash memilih mencari wadah biru toska yang di carinya. Ia bangun dari jongkok tadi.


"Kamu ngapain itu tadi?" tunjuk Oma pada rak bawah sambil mengunyah buah apel. Saat berdiri dan membalikkan badan menoleh pada Oma, mata Arash melebar terkejut. Ia melihat wadah yang di carinya.


 


Dugaan Asha kalau itu wadah yang di cari putranya, benar.


"Oma? Kenapa Oma memakai tempat bekal ku?" tegur Arash dengan lembut dan hati-hati.

__ADS_1


"Tempat bekal?" tanya Oma Wardah seraya melihat ke arah tempat bekal yang dipegangnya. "Oma baru tahu kamu punya tempat bekal khusus, Arash." Kening Oma berkerut.


Arash memang tidak pernah punya tempat bekal khusus. Dia tidak terlalu mempedulikan itu, tapi sekarang berbeda. Karena dia yang membawanya dan juga milik orang lain.


Mendengar itu Asha melirik putranya. Dia juga tahu bahwa putranya tidak pernah punya tempat bekal khusus. Namun melihat ekspresi Arash, dia pasti punya alasan berkata seperti itu.


"Itu punya teman Arash, Oma. Jadi tidak enak kalau Arash mengembalikan wadah itu sampai tergores atau yang lainnya," jelas Asha memberi pengertian.


"Oh, benarkah? Oma baru tahu." Beliau melihat ke arah wadah yang berada di tangannya dengan rasa bersalah. "Oma akan habiskan buahnya dan membersihkan tempatnya." Oma mengambil buah itu dan makan satu persatu.


"Sini biar Asha yang cuci." Asha meminta wadah itu.


Sebenarnya Asha mau menolak dan mencuci wadah itu demi putranya, tapi melihat tekad Arash untuk mencuci sendiri, Asha menyerahkan pada putranya.


Oma hanya mengerjapkan mata melihat cucunya mencuci sendiri.


"Selamat pagi, Oma," sapa Arisha yang masih duduk di bangku sekolah.


"Pagi, cucuku yang cantik. Eh, ayo ikut Oma sebentar ke taman. Oma mau kasih tahu kamu bunga baru milik Oma," kata Oma sambil membimbing cucunya pergi ke taman bunga milik beliau.

__ADS_1


Arisha meringis mendengar ajakan Oma. Karena gadis itu tidak suka pada bunga. Namun lagi-lagi kekuatan bunda Asha yang melotot, membuat gadis itu terpaksa patuh.


Sekarang Asha melihat ke arah Arash yang mencuci wadah tadi.


"Jadi itu punya teman kamu?" tanya Asha.


"Ya."


"Teman baru?"


"Ya, anak cleaning servis," jawab Arash tanpa menoleh.


"Tumben sekali liat cowok bawa bekal. Bunda salut kalau lihat cowok itu enggak gengsi bawa bekal," celoteh Asha. Arash tersenyum tipis.


"Jadi Bunda juga salut pada Arash? Kan Arash juga mau bawa bekal," kelakar Arash. Bunda Asha tergelak.


"Untuk anak bunda, bunda selalu bangga kok." Asha menepuk pundak putranya. Arash tersenyum sambil mengelap tempat bekal itu agar kering.


...______...

__ADS_1


__ADS_2