
Kenyataan yang tak pernah aku sangka
Waktu berjalan begitu singkatnya keesokan hari dengan mata sembabku setelah kemarin habis menangis,aku menjalani keseharianku seperti biasanya.
Kali ini aku tengah bersiap siap berangkat ke ladang untuk bekerja seperti biasanya.
Aku yang Setiap harinya menjalani hari hariku sebagai buruh tani serabutan, kali ini aku berangkat dengan tetangga dan juga teman temanku yang usia mereka sebaya denganku. hidup di desa apalagi desa terpencil seperti tempatku tinggal saat ini, tidak ada namanya orang yang mengenal gengsi untuk menjalani hidup dan juga melakukan pekerjaan seperti apapun itu, meskipun itu menjadi seorang petani. Ya meskipun terkadang pekerjaan itu sering di anggap sebagai pekerjaan rendahan.
Aku kini berjalan dengan penuh semangat sambil menenteng ember plastik yang biasa aku buat tempat wadah topi dan juga sabitku menuju ke ladang yang ingin aku cabuti rumputnya.
Kali ini pak Burhan juraganku yang setiap hari menyuruhku untuk bekerja di tempatnya menyuruhku untuk menacabuti rumput yang ada di ladangnya.
Kucuran keringat dengan derasnya membasahi dahi juga wajahku Tak hanya itu badanku juga mengucurkan keringat dengan derasnya aku tak menghiraukannya yang terpenting aku bisa dapat uang buat menghidupiku dan juga keluaragku. Di bawah terik sinar matahari aku setiap harinya melakukan aktivitas seperti ini, ya meskipun kadang bergantian bukan hanya kerja mencabuti rumput kadang memetik tomat, cabai.
Saat diriku asik dengan pekerjaannyaku tiba tiba saja Riki anak pak Burhan datang menghampiriku dengan membawakan botol minuman Untuku.
" buat kamu" Riki menyodorkan botol minuman ke hadapanku dengan senyuman manis di pipinya.
" makasih mas" balasku lalu aku melanjutkan pekerjaanku sedangkan Riki menyuruhku untuk duduk dan beristirahat terlebih dahulu.
" kamu istirahat dulu biar yang lain mengerjakan ini" pintanya namun aku tidak enak melihat teman temanku dan juga pak Burhan yang ada di pondok sawah.
" maaf mas, nanti ada waktunya istirahat sekarang biar Aluna mengerjakan pekerjaan Aluna" aku meminta ke mas Riki namun mas Riki tetap keukeu dengan keinginannya. Jadi aku mau tak mau harus menurutinya karena pak Burhan sedari tadi menatapku dengan tatap mengkode seperti menyuruhku menuruti kemauan anaknya.
Aku duduk di tepi ladang yang sedikit teduh sambil meminum minuman yang mas Riki berikan.
" Aluna, mas mau ngomong sama kamu boleh?" Mas Riki bertanya kepadaku yang aku sendiri tak tau apa yang ingin di tanyakan kepadaku.
" mau tanya apa mas" balasku ke mas Riki.
" eum apakah kamu masih sendiri?" Mas Riki bertanya kepadaku entah apa maksudnya aku tak mengerti.
Aku mengagukan kepalaku menandakan kalau aku tak punya pasangan " eum iya mas masih sendiri, emang kenapa ya?" Aku bertanya kepadanya.
Sedangkan mas Riki tidak menjawabnya melainkan berjalan menghampiri pak Burhan yang ada di pondok yang ada di pinggir ladang.
" aneh banget" gumamku lalu aku melanjutkan pekerjaanku karena aku merasa sedikit sungkan saat para teman temanku yang lain sibuk dengan pekerjaannya.
****
Sedangkan kini di lain sisi Rukmini dan juga sanu orang tua Aluna tengah asik membicarakan tanggal pernikahan putri mereka tanpa sepengetahuan aluna.
__ADS_1
Mereka bersepakat menentukan tanggal pernikahan mereka pada tanggal 25 yang terhitung kurang satu Minggu.
Begitu cepat mereka melakukan itu tanpa berfikir panjang.
Entahlah nanti kalau Aluna tau pasti dirinya sedih dengan ulah orang tuanya itu.
***
Riki POV
Aku benar benar terkesima dengan aluna yang begitu menawan, rasanya aku gak kuat kalau harus berlama lama dengannya. Jantungku benar benar tak bisa di ajak untuk berkompromi saat duduk di dekatnya.
Kini aku tengah berbincang dengan bapaku untuk meminta saran kepadanya.
Aku mencoba membujuk bapak agar aku bisa menikahi Aluna tapi sayang bapaku tidak mau kalau aku terburu buru menikah karena bapak takut nanti kalau aku nikah aku fokus pada rumah tanggaku dan tidak lagi membantunya di ladang.
" tapi pak?" Aku menjaga membujuknya meskipun itu mustahil dapat restu darinya. Bapaku itu memang keras kepala kalau keputusannya sudah bulat pasti tidak bisa di ganggu gugat.
"Aku setuju kalau kamu nikah sama Aluna Riki, tapi bapak gak mau nikahin kamu secepatnya tapi kalau kamu mau dua tahun lagi bapak bakal usahain" pak Burhan meminta Riki menikah dua tahun lagi.
Riki tersenyum miris saat bapaknya menyuruhnya menikahi orang yang udah dia taksir hampir 3 tahun ini.
Kini Riki berjalan menghampiri Aluna yang telah kembali bekerja.
" Aluna kamu mau gak jadi pacar aku?" Aku mencoba menembaknya karena aku sudah tak tahan lagi dengan perasaanku yang sangat sangat menggebu gebu ini.
Saat Aluna mendengar pernyataanku dia benar benar kaget seperti melihat petir di siang bolong.
" maksud mas Riki apa? Aluna gak ngerti mas" Aluna membalasnya dengan balasan seperti itu.
" eum aku mau ngajak kamu pacaran kamu mau gak?" Tanyaku lagi ke Aluna.
Aluna tersenyum simpul dengan tatapan sendu yang sulit diartikan.
Aku yang berfikir Aluna bakal menerimaku tapi sayangnya tidak! Dia malah menolakku dengan cara yang halus.
" maaf mas, Aluna gak bisa" Aluna ternyata menolaku dengan lembutnya.
Aku menyunggingkan senyum simpul kearahnya lalu aku mencoba untuk berusaha bersikap biasa saja di depannya.
" Kenapa gak mau?" Tanyaku penasaran ke Aluna kenapa dia bisa menolakku.
__ADS_1
" maaf mas, Aluna gak mau pacaran Aluna masih pingin fokus sama bapak dan ibu Aluna" alasan Aluna memang setiap diajak pacaran sama orang selalu seperti itu terus.
Sebenarnya aluna dalam benaknya pingin merasakan pacaran, tapi sayangnya masa lalunya benar benar begitu buruk, soal dirinya yang pernah dekat dengan seseorang dan orang itu meninggalkannya sepihak.
Ya! Meskipun waktu itu Aluna masih kecil yang usianya baru bisa di katakan masih ABG.
Tapi hal itulah yang membuat Aluna merasa sedikit berhati hati untuk menjalin hubungan lagi dengan seorang laki laki.
****
Waktu berlalu begitu cepatnya kini Aluna telah sampai dirumahnya dengan tangan yang kotor terkena tanah dan juga keringat yang membasahi badanya.
" assalamualaikum" Aluna mengucapkan salam saat dirinya sampai di rumahnya.
" waalaikum salam" jawab Rukmini dan juga sanu bersamaan yang ada di ruang tamu.
" Aluna udah pulang nak?" Rukmini menayangkan keadaan Aluna.
Aluna terseyum simpul lalu berjalan ke dapur untuk menaruh ember yang berisikan topi dan juga sabit.
Setelah itu Aluna bergegas membersihkan dirinya ke kamar mandi.
Lima belas menit dirinya kini telah selesai membersihkan dirinya.
Wajah cantik Aluna dengan kulitnya yang kuning Langsat kini dirinya berjalan menghampiri bapak dan juga ibunya yang ada di ruang tamu.
Aluna membanting dirinya di kursi yang terbuat dari anyaman bambu duduk di sebelah ibunya.
" Aluna, mungkin Minggu depan kamu gak bakalan kerja ke ladang lagi nak" celetuk Rukmini ke anaknya.
Aluna menatap lekat kearah ibunya yang ada di sampingnya bertanya tanya.
" maksudnya Bu?" Aluna bertanya ke ibunya.
" Minggu depan kamu bakal nikah sama reno" timpal sanu yang berhasil membuat Aluna lemas.
" deg" detak jantung Aluna terasa berhenti saat mendengar pernyataan dari bapaknya.
" hah? Apa pak? Aluna Minggu depan nikah dengan laki laki itu?" Tanya aluna tak percaya.
" iya sayang, ibu harap kamu bisa menerimanya, karena itu pilihan yang terbaik buat kamu" ujarnya Rukmini ke Aluna yang ada di sampingnya sambilengelus pundaknya.
__ADS_1