
" Cerai? Menikah? Apa maksud kalian?" Widya ibunya Juna begitu sangat terkejut sekali mendengar kata perceraian dan juga pernikahan dari menantunya itu.
Kemudian Widya melirik ke arah wanita yang hanya berdiri dengan ekspresi santai seakan tak ada takut sama sekali melihat kedatangannya. Sekarang dia mengerti apa maksud dari kata cerai dan juga menikah tersebut.
" Apa kamu kembali dengan wanita ini?" Tebaknya menatap tajam sama anak.
" Apa kamu selama ini masih menjalani hubungan diam-diam dengannya?" Widya kembali bertanya dia sambil menggelengkan kepala tidak percaya dengan anaknya itu padahal sudah sangat jelas sekali Jika dia sudah menikah tetapi masih saja menjalani kasih dengan wanita yang tak lain tak bukan adalah kekasih yang tidak pernah ia restui.
" Apa salahnya? Kami saling mencintai." Yang menjawab bukanlah Juna melainkan Nayla dia berkata dengan sangat tegas sekali.
" Diam! Saya tidak bicara dengan kamu," emosi Widya dia bahkan sambil menunjuk Nayla.
" Wanita tidak tahu diri, sudah jelas anak saya sudah menikah tapi masih berani sekali kamu menggodanya." Widya pun langsung menghinanya menganggap jika Nayla adalah pelakor dan penyebab masalah utama anaknya dan menantunya tersebut.
" Di sini yang tidak tahu diri itu adalah kalian! Sudah jelas saya dan juga Juna saling mencintai, tapi dengan teganya kalian memisahkan kami dan langsung menjodohkan Juna dan juga Nanda tanpa memikirkan perasaan saya." Dengan nada lancang tanpa takut sama sekali Nayla melawan dia mengeluarkan unek-uneknya dalam hati.
" Dasar wanita kurang ajar!" Kesal Widya. "Lihatlah, betapa arogannya dia, Juna. Di mana mata dan akal sehat kamu sampai-sampai wanita yang tidak memiliki etika ini kamu cintai. Padahal sudah sangat jelas sekali jika Nanda jauh lebih baik ketimbang dia," ujar Widya pada Juna.
" Mah, tapi Juna tidak mencintai Nanda!" Nayla langsung tersenyum penuh kemenangan.
" Juna masih sangat mencintai Nayla. Juna sudah berusaha untuk menerima Nanda, tetapi hati Juna selalu menolaknya."
" Itu karena dia selalu menganggu kamu, coba saja jika kamu lebih tegas sedikit padanya untuk menjauh dari kehidupanmu. Mama yakin kamu pasti bakalan bisa menerima Nanda dan mencintainya." Widya tidak mau mendengar perkataan anaknya.
" Kenapa Anda begitu sangat yakin sekali Nyonya. Yang menjalani pernikahan adalah Juna yang menentukan masa depannya adalah Juna kenapa Anda yang sibuk mengatur urusan anak anda?" Nayla menyela.
Nayla begitu sangat kesal lantaran Widya selalu saja mengatur kehidupan anaknya, entah mau sampai kapan laki-laki itu selalu diatur oleh ibunya tersebut padahal sudah sangat jelas sekali Jika yang menjalani kehidupan adalah diri sendiri pikir Nayla.
__ADS_1
" Saya ibunya, saya yang mengandung dan melahirkan dan membesarkan. Jadi saya tahu mana yang terbaik untuk anak saya," jawab Widya menatap tajam Nayla. Dia begitu tidak suka sekali dengan wanita itu.
" Ingin yang terbaik tapi tega mengorbankan perasaan seseorang, dan bukan hanya satu orang saja di sini yang terluka. Melainkan dua! Semua itu karena keegoisan anda!" Ucap Nayla dengan nada sinis.
" Kau ..." Widya hendak menampar Nayla.
" Stop ..." Teriak Nanda yang sedari tadi hanya diam menjadi penonton perdebatan antara Nayla dan juga mertuanya. Dia tidak tahan lagi.
Nanda menghela nafasnya, di sini dia dapat melihat jika dan jika Juna dan juga Nella memang saling mencintai sementara dirinya hanya penghalang bagi mereka. Tentu Nanda tidak ingin terjebak dalam pernikahan yang tidak ada cinta, dan dia tidak ingin memaksa kehendak yang bukan menjadi takdir miliknya. Dia tidak ingin menjadi wanita egois karena dikhianati itu begitu sakit rasanya, jadi dia mengerti bagaimana perasaan Nayla saat ini karena yang pelakor sebenarnya.
" Sekarang Nayla sudah hamil jadi Juna berhak untuk bertanggung jawab," kata Nanda dengan nada lemah.
Karena bagaimanapun juga Juna memang harus bertanggung jawab.
" Apa!" Kedua orang tua Juna begitu sangat terkejut dengan mata terbelalak menanggapi pernyataan jika Nayla wanita yang tidak mereka sukai ternyata hamil dari anak mereka sendiri dan itu artinya yang berada dalam kandungan Nayla adalah cucu mereka.
Awalnya dia hanya diam saja lantaran tidak ingin ikut campur, biarlah permasalahan ini menjadi urusan anak dan istrinya. Namun mendengar pernyataan jika wanita lain hamil dari anaknya tersebut, membuat darahnya menaik. Karena sejahat-jahatnya dirinya, tetapi dia tidak pernah sampai menghamili wanita lain apalagi sampai di luar nikah seperti ini.
Juna hanya mengangguk pelan saja. Dan sontak di wajah tampannya itu mendapatkan tamparan keras dari ayahnya tersebut.
" Dosa apa yang sudah aku lakukan hingga anakku bisa berbuat seperti ini?" Ucapnya sambil mengusap wajahnya kasar.
Anton tidak bisa berkomentar apapun, di satu sisi dia tidak mungkin menyuruh wanita itu mengugurkan anak dalam kandungannya. Sementara di sisi lain, dia juga tidak bisa menyuruh Juna untuk bertanggung jawab lantaran pasti menantunya itu akan sangat terluka sekali.
Anton menghela nafasnya panjang, kemudian dia menatap Nanda.
" Maafkan Papah Nanda. Disini Papah yang terlalu bodoh," ucapnya penuh penyesalan.
__ADS_1
Andai waktu itu dia melarang istri untuk menjodohkan Juna dan Nanda, lalu memberikan restu pada hubungan anaknya dengan Nayla. Mungkin tidak akan ada yang tersakiti sekarang ini. Anton tahu jika Nanda lah yang paling tersakiti.
Nanda tersenyum sambil menggeleng, semuanya sudah terlanjur ibarat nasi sudah menjadi bubur. Tak ada yang perlu disesali toh tidak akan mengubah keadaan.
" Nanda tidak apa-apa Pah, mungkin Juna memang bukan jodoh Nanda dan terima kasih karena sudah menjadi orang tua yang baik untuk Nanda. Dan Nanda juga minta maaf jika selama ini Nanda belum bisa menjadi menantu yang baik dan membuat kalian bahagia," ucap Nanda sambil menggenggam tangan laki-laki paruh baya itu.
" Tidak Nanda, justru kamulah wanita yang terbaik dan pantas menjadi menantu Mamah dan papa. Maka sebab itulah kami menginginkan anak kami bahagia dan memiliki masa depan yang cerah," sela Widya.
" Jodoh, maut dan rezeki kita tidak ada yang tahu Mah. Apa yang kita rencanakan Jika Allah tidak menghendaki, maka kita tidak bisa berbuat apapun selain hanya bisa ikhlas dan pasrah."
Nanda begitu sangat dewasa sekali dia tidak marah kepada kedua orang tua yang sudah menjodohkan Juna dan juga dirinya. Karena dirinya tahu jika orang tua memang selalu ingin yang terbaik untuk masa depan anaknya.
" Sekarang apa pun yang menjadi keputusan kamu, Papa akan selalu mendukung dan papa hanya bisa berharap semoga kamu bahagia." Tak bisa banyak berkata apa-apa lagi hanya bisa mendukung apapun menjadi keputusan Nanda. Entah itu bercerai atau mengizinkan Juna menikah lagi. Semua keputusan ada di tangan anda dan dirinya pun tidak bisa lagi berkutik.
Anda tersenyum begitu sangat tulus sekali kemudian dia menoleh ke arah Nayla dan juga Juna lalu meraih kedua tangan sepasang kekasih itu kemudian menyatukannya dan tangan yang berada di tengah-tengah.
" Nanda hanya bisa berharap Papa dan Mama mau merestui mereka dan mengizinkan mereka menikah," ucapnya begitu sangat tulus sekali meminta izin agar supaya Juna dan Nayla dapat menikah dan restu tentunya.
" Nanda ..." Gumam Juna pelan, dia sangat terharu sekali melihat kebaikan hati istrinya tersebut.
" Lalu bagaimana denganmu?" Tanya Widya.
Nanda menghela nafasnya sejenak kemudian ia kembali tersenyum lagi walaupun itu sangat miris sekali dan hatinya terasa begitu sesak.
" Seperti yang Nanda katakan tadi, Nanda tidak mau dimadu apalagi Juna tidak sama sekali mencintai Nanda. Mungkin dengan bercerai inilah jalan yang terbaik untuk kami bertiga."
Begitu sangat tegas tanpa ingin dibantah lagi keputusannya sudah bulat walaupun begitu sangat berat sekali ia mengucapkan kata cerai namun demi anak yang ada dalam kandungan Nayla dan juga dirinya. Karena jika pernikahannya terus dipertahankan maka tidak akan pernah ada kebahagiaan di antara mereka.
__ADS_1