
" Dokter cantik ngapain disini?" Tanya balik gadis kecil itu. Nanda berjongkok lalu dia mengusap kepala Manda dengan lembut.
Seseorang laki-laki turun dari mobil, dia tidak menghampiri melainkan bersandar di mobil sambil terus memperhatikan Manda dan Nanda yang sedang berinteraksi. Nanda melirik laki-laki tersebut sekilas lalu dia kembali pada Manda yang sedang berceloteh dengan lincahnya.
" Tadi Manda sama Papi baru pulang kantor terus melirik dokter cantik berdiri disini sendirian. Memang lagi ngapain sih?" Manda kembali bertanya.
" Oh, tadi Tante lagi nungguin taksi. Mobilnya Tante mogok," jawab Nanda, dia masih berjongkok agar setara dengan Manda dan lebih tepatnya supaya gadis kecil itu bisa leluasa berbicara dengannya tanpa harus mendongak.
" Kalau begitu bareng aja sama Manda, nanti di anterin sampai rumah," kata Manda, dia bahkan sudah menarik tangan Nanda.
" Tidak sayang, mungkin sebentar lagi bakalan ada taksi yang lewat kok."
" Boleh kan Pi?" Seperti Manda tidak mau mendengar penolakan. Gadis kecil itu menoleh pada laki-laki yang bersandar di mobil yang ternyata adalah papinya.
" Iya sayang," jawabnya, suaranya terdengar lembut sekali. Nanda dapat melihat jika laki-laki itu begitu sangat penyayang.
" Ayo Tante, biar Manda anterin sampai rumah. Udah di bolehin kok sama papi."Manda memaksa.
" Tapi ..."
" Nggak apa-apa, lagian hari sudah semakin sore. Jadi sangat jarang sekali ada taksi yang lewat." Laki-laki itu memperbolehkan Nanda menumpang di mobilnya, bahkan dia sudah membukakan pintu mobil depan dan belakang lalu dia masuk ke mobil lebih dulu.
" Ayo Tante, kalau kata papi gak baik seorang perempuan sendirian di jalan. Nanti ada orang jahat," ucapnya sambil terus memaksa dan menarik tangan Nanda.
" Baiklah, terima kasih ya. Maaf sudah merepotkan Manda dan juga papi," ucap Nanda pada akhirnya mengalah. Nyatanya dirinya memang sudah sangat lelah sekali, karena kesempatan tidak akan datang dua kali dia pun akhirnya menumpang dengan Manda salah satu pasiennya.
" Asik, kalau begitu Tante duduk di depan saja, biar Manda yang duduk di belakang." Manda langsung masuk di penumpang bagian belakang dan membiarkan Nanda yang duduk di samping papinya.
" Maaf ya Pak, kalian jadi kerepotan," ucap Nanda saat sudah berada di dalam mobil. Tak lupa dengan sabuk pengaman.
__ADS_1
" Panggil aku Farhan saja, kalau bapak kesannya sudah sangat tua sekali," ucapnya. Dia menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang.
Nanda mengangguk, lalu dia duduk se nyaman mungkin lantaran merasa tidak enak karena sudah merepotkan orang.
" Alamat rumah kamu dimana?" Tidak mungkin tidak bertanya soal alamat rumah kan? Nanda pun memberitahu alamat rumah kediaman kedua orangtuanya karena sekarang ini dia tinggal disana.
" Tante, Tante ..."
" Ya sayang?" Nanda menoleh kebelakang.
" Tante sudah menikah?" Tak disangka ternyata gadis kecil itu bertanya tentang pernikahan. Seperti orang dewasa saja pikir Nanda, dia melirik arah Farhan yang berdehem.
" Sudah pernah, tapi sekarang tidak lagi," jawab Nanda, entah apa yang dia ucapkan bisa di mengerti apa tidak oleh Manda.
" Emmm, maksud Tante. Sudah tidak menikah lagi." Nanda berusaha menjelaskan karena Manda hanya diam saja seperti sedang berpikir,. mungkin sedang memahami ucapnya tadi piki Nanda.
" Aduh gimana ya menjelaskannya." Nanda menggaruk-garuk kepalanya, agak sulit seperti menjelaskan pada anak seusia Manda.
Sungguh sangat mengejutkan, melihat perawakannya Nanda dapat menebak jika usia Farhan sekitar 30 tahunan. Masih begitu mudah tampan dan tipe ideal sekali sebenarnya, namun sulit dipercaya ternyata seorang duda dan mau mengurus anak seorang diri karena biasanya jika laki-laki sudah bercerai dengan istri pasti anak bersama istri, realitanya kebanyakan seperti itu.
Nanda jadi tersenyum canggung.
" Apa Tante sudah punya pacar?"
Sontak membuat Nanda langsung tersedak air liurnya, dari mana sebenarnya anak seusia Amanda mengetahui hal tersebut yang seharusnya anak-anak seusianya yang masih 6 tahun tidak mengerti apa-apa mengenai perihal orang dewasa.
" Tidak, Tante tidak punya pacar," jawab Nanda memaksakan senyumnya.
" Oh, berarti sama kayak Papi. Jomblo akut yang mengenaskan," lanjutannya. Nanda melototkan kedua matanya, ini bukan lagi pikiran anak-anak pada umumnya. Sudah pasti ada ajaran yang salah pada gadis kecil itu.
__ADS_1
Nanda menatap tajam Farhan, dia ingin menanyakan bagaimana bisa anak seusia Manda mengetahui jomblo akut yang mengenaskan, dapat dari mana kata-kata itu. Ingin sekali dia bertanya tetapi lidahnya terasa kaku sehingga tidak terucap.
" Maaf ya Nanda sering mendengar kata-kata itu dari neneknya saat sedang bercanda."
Farhan seperti paranormal saja yang bisa membaca pikiran Nanda dia langsung menjawab tanpa harus ditanya lagi.
" Manda kamu gak boleh ngomong kayak gitu lagi ya," tegur Farhan melirik anaknya dari kaca spion mobil. Manda yang ditegur hanya cengingisan saja sementara Nanda hanya berdehem sambil garuk-garuk kepala.
Tak lama kemudian berjalan mereka yang cukup lumayan panjang kini sudah sampai di kediaman kedua orang tuanya Nanda. Setelah mobil Farhan berhenti tepat di depan gerbang Nanda pun melepaskan sabuk pengamannya.
" Terima kasih atas tumpangannya ya maaf sekali lagi karena sudah merepotkan," ucap Nanda.
" Tidak apa-apa lagi pula mana mungkin saya membiarkan perempuan sendirian di tengah jalan. Apalagi Manda sangat ingin bertemu dengan kamu karena selama di rumah dia selalu membicarakan tentangmu kepada neneknya," jawab Farhan, dia mengatakan yang sebenarnya.
" Oh ya," sungguh tak di duga, entah apa yang membuat Manda selalu membicarakan dirinya, Nanda pun menjadi malu.
" Memangnya Manda selalu membicarakan apa tentang tante kepada nenek?" Tanya Nanda dia menoleh ke belakang sebelum turun dari mobil.
" Dokter cantik," jawabnya singkat.
" Berarti kalau dokter tidak cantik, Manda tidak akan membicarakan tante dong?" Nanda pura-pura merajuk.
" Selain cantik, dokter juga baik, ramah dan tidak sombong. Makanya Manda sangat suka karena tante adalah tipe idealnya Manda dan cita-cita Manda adalah ingin menjadi dokter cantik seperti tante," ucapnya tersenyum lebar memperlihatkan deretan gigi putihnya.
" Wah, mulia sekali cita-cita kamu sayang. Kalau begitu belajar yang rajin ya supaya kelak bisa menjadi dokter cantik yang sukses." Nanda memberikan semangat. Manda pun mengangguk lalu dia mendekatkan kemudian memeluk Nanda dari belakang.
" Manda boleh minta nomor Tante gak?" Manda menampilkan wajah polosnya. Dengan senang hati Nanda memberikan kartu namanya dan nomor telepon tertera disana. Sontak membuat Manda gembira sekali, lalu Nanda pamit pada mereka untuk pulang. Setelah turun dari mobil, Manda melambaikan tangannya.
" Dada Tante cantik, lain kali kita bertemu lagi ya."
__ADS_1
" Iya sayang." Lalu dia pun melambaikan tangan kemudian mobil Farhan pergi meninggalkan karangan rumah tersebut barulah Nanda masuk.