Cerai

Cerai
27


__ADS_3

Nanda dan Widya keluar dari restoran tersebut dengan tubuh yang sudah sangat berantakan dan kotor. Bagiamana tidak karena semua pengunjung marah pada mereka atas tuduhan yang di fitnah oleh Nayla. Wanita itu memang pandai sekali berakting.


Nanda pun membawa Widya naik ke mobilnya dan pergi meninggalkan restoran itu menuju ke sebuah taman. Dan mereka membersihkan diri saat berada di dalam mobil tadi dengan menggunakan tisu basah dan juga tisu kering.


" Ibu nggak apa-apa?" Khawatir Nanda melihat keadaan mantan Ibu mertuanya itu yang nampak syok.


Widya mencoba untuk tersenyum saya menggelengkan kepalanya. " Ibu nggak apa-apa Nanda. Maaf ya gara-gara Ibu Kamu kena imbasnya juga," sesalnya begitu lirih.


Nanda sangat iba sekali melihat mantan Ibu mertuanya itu, padahal beliau begitu sangat baik sekali. Tetapi menantu barunya malah memperlakukannya sangat buruk bahkan Juna ikut-ikutan juga memusuhinya sungguh nak sekali nasib mantan Ibu mertuanya itu.


" Ibu yang sabar ya, Nanda yakin pasti Nayla bakalan kena karmanya. dia benar-benar sudah sangat keterlaluan," ucapnya sambil memeluk Widya.


Nanda melepaskan pelukannya lalu menggenggam kedua tangan wanita paruh baya di hadapannya yang sangat rapuh ini.

__ADS_1


" Apa Ibu mau menceritakan sebenarnya yang terjadi sehingga membuat kandungan Nayla bisa keguguran seperti itu."


Widya pun menceritakan sejak Nayla menjadi menantunya, yang memberlakukan dirinya sangat kasar dan buruk. Widya juga menceritakan jika Nayla selalu mengadu domba dirinya dengan Juna agar anaknya itu membencinya sampai drama keguguran pun terjadi dan jumlah memutuskan hubungan dengannya bahkan keluarganya.


Widya bercerita dengan Isak tangisnya karena hatinya begitu sangat terluka sekali mengingat anak yang sudah susah payah ia kandung, ia lahirkan dan ia besarkan lebih memilih istri ketimbang percaya kepadanya.


" Ibu pikir setelah lebih dari satu bulan tidak bertemu, Nayla tidak lagi memusuhi Ibu. Karena keinginannya membuat Juna memutuskan hubungan dengan ibu sudah membuatnya puas, tapi nyatanya tidak," ucap Widya begitu lirik sesekali yang kembali mengusap air mata yang selalu menetes seakan tak mau kering dari kelopaknya.


" Ibu yang sabar ya." Nanda menarik Widya ke dalam pelukannya dan ia pun mencoba untuk menenangkan sambil menepuk-nepuk pelan di punggungnya dan membiarkan mantan Ibu mertuanya itu menangis dalam pelukannya.


" Apa Ibu ingat siapa nama dokter yang menangani Nayla saat keguguran waktu itu?" Tanya Nanda.


Widya melonggarkan pelukannya menatap wajah cantik mantan menantunya itu kemudian dia diam sesaat dan berpikir mengingat nama dokter yang menangani Nayla.

__ADS_1


" Iya Mama ingat namanya dokter Hadi. Tapi kenapa?" Tanyanya penasaran.


Nanda pun tersenyum. " Nanda cuma ingin memastikan satu hal, Ibu tunggu saja kabar baiknya ya. Sebaiknya sekarang kita pulang, Ibu harus banyak istirahat, Nanda tidak mau Ibu sampai sakit karena banyak pikiran."


Ibu Widya pun mengiyakan. Nanda tersenyum lembut padanya kemudian mengajak mantan Ibu mertuanya itu kembali masuk ke mobil kemudian ia antar sampai ke depan rumah.


" Kamu tidak mau mampir?" Mereka sudah tiba di kediaman Widya.


" Tidak Bu, Nanda titip salam saja sama bapak ya." Hari sudah sore lagi pula Nanda tidak enak hati jika mampir dan bertemu dengan mantan ayah mertuanya rasanya sangat canggung sekali, beda hal jika bertemu dengan ibu mertua.


" Baiklah kalau begitu kamu hati-hati di jalan ya."


" Iya, Bu." Nanda masih bersikap ramah bahkan menyalimi tangan mantan Ibu mertuanya itu sama seperti dulu saat dirinya masih menjadi mantu.

__ADS_1


Widya hanya tersenyum saja, entah di mana otak anaknya itu karena sudah menyia-nyiakan wanita sebaik Nanda dan malah memilih wanita yang memiliki hati busuk seperti Nayla. Namun Widya hanya bisa meratapi kenyataan bahwa menantu kesayangannya itu sekarang sudah menjadi mantan, dan dia masih bersyukur bahwa Nanda masih mau bertemu dengannya, bahkan masih mau memanggilnya dengan panggilan ibu.


__ADS_2