Cerai

Cerai
bab 13


__ADS_3

Nanda kembali bekerja di klinik nya, dia bahkan terlihat biasa saja. Padahal sudah sangat jelas sekali jika hari ini adalah Perceraian nya dengan Juna yang sudah resmi di nyatakan jika dirinya bukan lagi seorang istri.


" Kakak gak apa-apa?" Tanya Maya asistennya Nanda. Gadis itu begitu sangat sedih sekali perihal kasus yang di alami oleh atasannya tersebut.


" Memangnya aku kenapa?" Tanya balik Nanda, dia tersenyum melihat wajah sedih asistennya tersebut.


" Hick ... Aku kasihan sekali dengan mu Kak. Padahal kamu itu wanita yang baik dan sangat cantik. Kok tega-teganya pak Juna selingkuh dengan wanita lain," ucapnya mewek. Maya hanya mengetahui jika Juna berselingkuh tanpa tahu cerita panjangnya.


" Apaan sih, lebay banget deh kamu," canda Nanda seraya terkekeh sambil menggelengkan kepalanya.


" Tapi beneran kok, kakak itu sangat baik dan cantik. Kurang apa lagi coba? Memang dasar laki-laki mata buaya, andai saya bisa memukul kepalanya," geramnya, Maya ingin sekali memukul kepalanya Juna, entah apa isi otaknya itu. Padahal istrinya sudah cantik dan baik tapi bisa-bisa berselingkuh. Itulah yang Maya pikirkan.


" Itu berarti jodoh ku dan Juna hanya cukup sampai disini saja. Kita tidak bisa menentang takdir yang sudah di tentukan," jawab Nanda santai sambil mengecek jadwalnya hari ini.


" Iya juga sih, tapi syukurlah deh kalian sidah cerai. Toh kakak memang sangat tidak cocok sekali dengan pak Juna. Kaka itu cocoknya dengan pangeran tampan yang baik hati dan tidak suka berselingkuh," ucapnya membayangkan jika ada pangeran lewat dan jatuh cinta pada atasnya tersebut.


Nanda hanya bisa menggelengkan kepalanya saja, dia audah tidak memikirkan untuk menikah lagi. Mungkin cinta dirinya sudah tidak percaya lagi, dan dia juga tidak tahu apa itu cinta yang sesungguhnya. Rasa kecewa ternyata sudah menutup hatinya rapat-rapat.


****


Sementara itu ...


" Akhirnya, tidak lama lagi kita akan bersama." Nayla memeluk lengan Juna erat. Dia terlihat sangat bahagia sekali karena sekarang kekasihnya itu sudah berstatus duda sehingga tak perlu lagi sembunyi-sembunyi saat bersama dengan kekasihnya itu.


" Aku seneng banget, akhirnya impian kita tak lama lagi akan terwujud." Sambil menyadarkan kepalanya di lengan Juna, Nayla tak henti-hentinya terus tersenyum lebar.


" Apa sebaiknya kita memilih gaun pengantin hari ini aja kali ya," kata Nayla bersemangat sekali.


" Hari ini aku harus ke kantor Nayla!" Jawab Juna singkat dan datar.


Nayla melepaskan tangannya yang memeluk lengan Juna lalu menatapnya sinis.

__ADS_1


" Kamu kenapa sih? Apa kamu tidak senang sekarang? Apa.kamu menyesal karena sudah cerai dengan wanita itu?" Teriak Nayla kesal, dia tidak suka dengan sikap Juna yang sekarang seakan menyesal.


" Apaan sih, jangan mulai lagi deh." Juna tak ingin menanggapi ucapan Nayla, dia lebih fokus menyetir mobil saja.


" Dari tadi kamu itu terlihat murung terus, kayak gak seneng cerai dengan Nanda." Ketusnya dengan nada tinggi.


Juna menarik nafas dalam. " Aku seneng kok, tapi bukan berarti harus jingkrak-jingkrak sambil bilang ... Hore aku sudah cerai ... Nggak kan?" Jawabnya sambil menoleh arah Nayla yang nampak cemberut.


" Terus kok murung gitu?" Tanyanya tak percaya.


" Aku cuma kepikiran pekerjaan, sayang. Hari ini ada klian penting, jadi aku merasa gugup," ucapnya.


" Jangan berpikir yang aneh-aneh lagi, kasihan anak kita. Jika waktunya sudah pas kita pergi pilih cincin ya. Terserah kamu mau pilih yang mana," ucapnya membujuk sambil menggenggam tangan kekasihnya lalu ia kecup tangan tersebut.


Sontak membuat Nayla kembali tersenyum lebar lagi. " Baiklah," ucapnya bahagia.


****


" Ini bagus," ucapnya saat melihat baju putih yang terpajang di patung.


" Apa anda menyukai yang ini?" Tanya sang pelayan toko ramah.


" Emmm, nanti dulu deh aku mau liat-liat yang lain lagi," ujar Nayla sambil melihat sekeliling. Banyak rancangan baju pengantin yang bagus-bagus, ingin sekali rasanya dia memilih semuanya, namun hanya karena cuma satu saja maka sia harus bisa memilih gaun pengantin tersebut dengan hati-hati agar tidak salah.


Tentu Nayla ingin terlihat cantik dan menawan saat memakai baju pengantin nantinya di hari pernikahan. Dia adalah pemeran utamanya, dan hanya dirinya yang harus terlihat cantik saat itu.


" Wah ..." Saat matanya melihat kearah salah satu gaun pengantin terpanjang di pojokan. Dengan langkah cepat Nayla menghampiri. Dia begitu sangat tertarik dengan rancangan gaun pengantin ini.


" Aku mau yang ini ... Eh ..." Nayla menoleh, ternyata bukan hanya dirinya saja yang tertarik dengan gaun pengantin ini. Kemudian wajahnya langsung berubah menjadi masam saat melihat siapa wanita yang seleranya sama tersebut.


" Wah, wah tidak menyangka ya kita ketemu disini?" Ujar wanita yang Nayla temui.

__ADS_1


" Oh, kebetulan sekali," jawab Nayla malas.


" Btw, dengar-dengar lo mau nikah? Sukses juga lo jadi pelakor," ucapnya seraya mengejek sambil melipat kedua tangannya.


Nayla tidak menggubrisnya, dia terlihat acuh saja.


" Mbak saya mau yang ini ya," ucap Nayla, dia tidak ingin berlama-lama disana.


" Gak bisa gitu dong, gue duluan yang melihat gaun ini. Jadi nie gaun punya gue." Wanita itu tidak terima lantaran dirinya juga menginginkan gaun pengantin tersebut.


" Emmm, jadi siapa yang mau ambil gaun ini?" Tanya sang karyawan kebingungan.


" Saya!" Jawab keduanya.


" Kok lo rese banget sih jadi orang? Kan Lo belum berencana mau menikah, ngapain menginginkan gaun pengantin segala," kesal Nayla kepada temannya yang tak pernah akur itu.


" Mbak saya gak jadi memesan gaun pengantin disini. Sudah tidak berselera." Kemudian Nayla pergi keluar dari butik tersebut dengan perasaan kesal.


Nayla merogoh tasnya lalu mengambil hp, dia pun menelpon Juna ingin mengadu padanya.


" Juna, aku kesal banget hari ini," adunya dengan manja.


" Ada apa lagi?" Tanya Juna di sebrang sana. Kemudian Nayla menceritakan kejadian di butik tadi sehingga tidak jadi memilih gaun pengantin.


Juna hanya bisa menghela nafasnya saja. " Yasudah nanti kita cari di tempat lain, aku temani ya," bujuknya.


" Beneran? Yaudah sekarang ya, aku tunggu."


Juna memutuskan sambungan teleponnya, dia pun terpaksa menemani calon istrinya itu untuk memilih gaun pengantin padahal sangat malas sekali rasanya. Namun Juna tidak bisa bilang tidak pada calon istrinya tersebut. Kemudian Juna keluar dari kantor, saat dia sudah berada di jalan tiba-tiba matanya melihat sebuah mobil yang dia sangat kenal tengah berhenti di pinggir jalan.


" Nanda, kenapa dengannya?" Juna pun menepikan mobilnya.

__ADS_1


__ADS_2