
" Ada apa ini?" Tanya Juna dia melihat istrinya di lantai. Nayla tersenyum licik kemudian dia berteriak.
" Aduh, sakit. Perut aku sakit ..." Ucapnya dengan ekspresi kesakitan sambil memegangi perutnya.
Nayla berteriak meringkuk sambil memegangi perutnya, padahal tidak terasa sakit sama sekali. Dia hanya berakting saja di depan Juna seakan dirinya terjatuh atas perbuatan mertua itu.
" Nayla ..." Juna langsung berlari menghampiri Nayla, dia berjongkok.
" Nayla kamu gak apa-apa?" Tanyanya panik dan sangat khawatir.
" Sakit Jun, sakit banget. Perut ku sakit banget, aku khawatir anak kita kenapa-napa. Tolong selamatkan dia Jun," ucapnya menyakinkan sekali dengan ekspresi kesakitan nya bahkan ada air mata di sana.
" Mamah apakan Nayla, Mah!" Bentak Juna menatap sang mama seakan menyalakan.
__ADS_1
" Apaan sih, mamah tidak mendorongnya terlalu kuat kok," ucap Widya tak terima di tuduh, dirinya memang tidak terlalu kuat saat mendorong Nayla tadi.
" Sudahlah, Juna bawa Nayla kerumah sakit dulu." Dengan wajah panik Juna langsung membawa Nayla keluar dari rumah dan membawanya ke rumah sakit terdekat. Dia sangat berharap bayi dalam kandungan istrinya tidak kenapa-napa.
Sementara Widya mengekor dari belakang, dia mengikuti mobil Juna dengan mobilnya sendiri tak lupa menelpon sang suami dan menceritakan kejadian yang sebenarnya.
" Kenapa Mamah sampai tega mendorong Nayla, Mah. Mamah kan tau kalau dia sedang hamil," kata Juna. Sekarang ini mereka sudah berada di rumah sakit dan menunggu hasil pemeriksaan Nayla.
Juna menanyakan soal sang mama yang mendorong istrinya, dia ingin tahu apa penyebabnya sampai-sampai harus melakukan kekerasan seperti ini.
" Mamah tidak mendorongnya terlalu kuat, dia sendiri yang melakukan kekerasan sama Mama duluan, apa salah mamah membela diri? Wanita itu mau mengusir Mama Juna!" Teriaknya tak terima lantaran sang anak malah menyalakan dirinya.
" Tapi gak sampai harus mendorong nya seperti itu, kalua sampai kenapa-napa dengan janin nya gimana?" Ujar Juna, dia memijit pelipisnya.
__ADS_1
" Jadi kamu menyalakan Mamah?" Sungguh sakit hatinya, anak yang dia kandung dan ia besarkan sepenuh hati malah tidak mempercayai dirinya.
" Jika Mamah tidak menyukai Nayla, tolong jangan menyakiti nya. Sekarang dia adalah istri Juna. Suka tidak suka mamah harus terima itu, dan kalau sampai Mamah menyakiti nya lagi, sebaiknya Mama tidak usah datang berkunjung ke rumah Juna lagi." Tegas Juna pada ibunya. Juma berpikir kejadian ini memang salah ibunya yang memang tidak menyukai Nayla. Apalagi ada kekerasan seperti ini jadi mau tidak mau Juna harus tegas dalam bersikap.
" Juna! Aku ini mamah kamu, teganya kamu bicara seperti itu ke mamah yang sudah susah payah mamah lahiran dan besarkan." Sungguh kecewa sekali, padahal dulu anaknya tak pernah berbicara kasar seperti ini.
" Sudahlah Mah, sekarang kita berdoa saja semoga Nayla dan bayi dalam kandungannya tidak kenapa-napa." Juna sudah sangat lelah sekali, dia tidak ingin berdebat apalagi istri dan calon anaknya masih di dalam ruangan yang tengah berjuang.
Widya menangis, dia benar-benar tidak percaya jika anaknya sudah berubah. Padahal sudah sangat jelas jika Nayla lah yang salah, dirinya hanya membela diri saat di tarik paksa, seorang menantu berani mengusir dari rumah anaknya bagiamana dia tidak emosi. Tetapi saat mendorong tubuh Nyala tadi, Widya sangat yakin sekali jika dorongan itu tidak terlalu kencang seharusnya tidak sampai terjatuh.
Tak lama kemudian seorang dokter laki-laki keluar dari ruangan. Juna langsung menghampirinya.
" Bagaimana dengan istri dan anak saya dok?" Tanya Juna tak sabaran.
__ADS_1
" Istri anda baik-baik saja, akan tetapi anak anda ..."