Cerai

Cerai
bab 24


__ADS_3

" Dok, bagaimana keadaan istri dan calon anak saya?" Tanya Juna dengan perasaan was-was.


Dokter Hadi terdiam sejenak, kemudian dia menarik nafasnya dalam lalu menatap Juna serius.


" Istri anda baik-baik saja, akan tetapi calon anak anda kami tidak bisa menyelamatkan nya,* ucapnya dengan raut wajah sedih.


Pada akhirnya dokter Hadi menerima tawaran yang sangat menggiurkan ini. Demi uang dia mempertaruhkan kedokterannya. Bagiamana nama lagi, tidak mudah mendapatkan uang apalagi secara instan seperti ini. Jaman semakin canggih dan apa-apa serba mahal, mengandalkan gaji dari pekerjaan nya saja tidaklah cukup apalagi hidup istrinya yang glamor, demi membahagiakan wanita yang dia cintai maka dokter Hadi pun terpaksa menulis keterangan palsu atas perihal keguguran anak dalam kandungannya Nayla yang nyatanya memang tidak mengandung.


" Apa!" Juna tentu sangat syok. Dia sedih atas kehilangan anak yang bahkan belum tumbuh besar dalam rahim istrinya. Dia terduduk lemas.


" Benturan keras hingga menyebabkan pendarahan dalam rahim bu Nayla. Sebab itulah janin yang masih sangat lunak dan lemah itu tidak bisa bertahan lebih lama dan memilih untuk pergi." Dokter Hadi menjelaskan dengan sangat serius sekali, dia menatap Juna yang sudah terduduk lemas kemudian dia melirik arah salah satu suster nya, kemudian diet duduk di samping juga lalu menepuk pundaknya.


" Yang sabar dan tabah ya Pak. Insyaallah kalian bakalan mendapatkan anak kembali di kemudian hari. Jangan patah semangat," ucapnya memberikan semangat lalu dokter itu pun pergi meninggalkan Juna yang terpukul.


Juna menghela nafasnya lesu." Maafkan Papah ya Nak. Kamu bahkan belum tumbuh dengan sempurna tapi sudah pergi begitu saja," ucapnya sedih.

__ADS_1


" Gak mungkin." Widya tak percaya, dia melihat tadi tak ada darah sama sekali yang mengalir dari kedua paha menantunya. Tapi kenapa bisa sampai ke guguran seperti itu. Widya merasa ada yang aneh dengan peristiwa ini namun dia tidak bisa menebak nya.


Pintu kembali terbuka sehingga keluarlah suster yang satunya kemudian jurnal langsung berdiri menghampiri.


" Apa saya boleh menjenguk istri saya?" Tanya Juna.


" Iya Pak silakan istri anda sangat terpukul sekali dan saya yakin hanya orang terdekatlah yang bisa menenangkan beliau," ujar suster itu dengan sangat profesional sekali tentu dia sudah menerima tawaran tersebut dengan senang hati yang mengikuti yang dibuat oleh Nayla.


Juna masuk begitupun juga dengan Widya sementara suaminya masih belum datang masih dalam perjalanan.


" Juna, maafkan aku. Aku bukan ibu yang baik buat anak kita. Aku minta maaf," ucapnya menangis histeris, bahkan air matanya keluar begitu deras. Nayla memang benar-benar pandai sekali berarti cocok untuk menjadi seorang artis papan atas.


Mencoba untuk menenangkan mengusap punggungnya sambil memeluknya erat.


" Tidak apa-apa mungkin belum mau saatnya dia tumbuh bersama kita."

__ADS_1


" Tapi aku sangat sedih sekali Juna Aku sudah lama menginginkan anak ini tapi kenapa? Apa salahku," hujannya seakan tidak menerima takdir tersebut.


" Aku selalu berusaha untuk berhati-hati tapi kenapa semuanya tiba-tiba seperti ini apa aku ditakdirkan untuk tidak menjadi seorang ibu?" Lanjut masih berakting sambil terus mengeluarkan air mata buayanya.


" Ini semua salah Mama. Coba kalau mama tidak mendorongku. Aku tidak akan kehilangan anakku, kenapa Mama jahat sekali sama aku, jika mama tidak menyukai aku Mama boleh menghukum, memarahiku, memakiku. Tapi tolong jangan bunuh anakku dia tidak salah apa-apa mah." Nayla histeris dia menyalahkan Widya.


Widya sangat terkejut dengan menantunya yang menyalahkan dirinya sebab salah siapa dia mendorong menantunya itu jika bukan karena Nayla yang berbuat duluan dia mungkin tidak akan sampai mendorongnya.


" Jadi kamu menyalahkan saya? Saya mendorong kamu tidak terlalu kuat. Dan sebab apa saya bisa sampai mendorong kamu?" Tentu Widya tidak mau disalahkan.


" Hiks, mama memang tidak pernah menyukai ku. Lebih baik kita cerai saja Juna agar supaya mama tidak kembali melukai anak yang tidak berdosa," ucap Nayla.


" Apa -apaan kamu, apa kamu gila hah!" Kata Widya tak percaya.


" Stop hentikan Mah." Bentak Juna menatap mamanya tajam.

__ADS_1


" Berhenti ikut campur lagi dengan hidup Juna. Mulai dari sekarang Mama tidak boleh lagi datang kerumah Juna. Apalagi sampai menyakiti istri Juna!"


__ADS_2