
Keesokan paginya Nanda dan Juna sudah sama-sama keluar dari kamar, keduanya sudah sama-sama rapi bersiap hendak berangkat kerja ketempat masing -masing. Mereka tampak tak saling berbicara.
Nanda hendak menelpon sarapan siap saji, dia tidak memiliki waktu untuk menyiapkan sarapan sehingga selalu mesan saja. Namun tiba-tiba dia mencium aroma wangi sedap di arah dapur lalu dia penasaran dan menghampiri siapa yang membuat masakan sewangi ini di pagi-pagi sekali dalam rumahnya.
" Nayla, kamu ngapain?" Terkejut ternyata yang membuat masakan suami ini adalah sahabatnya yang tengah berperang di dalam dapur miliknya.
Nayla menoleh kemudian dia tersenyum sambil mengangkat piring besar yang sudah berisi nasi goreng ala-ala dirinya sendiri.
" Aku bikinin sarapan untuk kalian, yuk makan pas sudah laper kan," ucapnya sangat bersemangat sekali sambil membawa piring besar ke arah meja makan lalu meletakkannya.
" Nasi goreng seafood ala Nayla sudah siap, tapi maaf ya alakadarnya saja," ucapnya penuh percaya diri sekali kemudian dia membuka piring yang ternyata sudah tersusun rapi di meja makan lalu mengambil nasi goreng itu Dan meletakkan ke dalam piring kemudian ia berikan kepada Nanda untuk yang pertama.
" Silakan dinikmati, walaupun terlihat tidak berselera tapi dijamin kok rasanya tidak mengecewakan," lanjutnya lagi-lagi dengan penuh percaya diri.
" Kamu nggak usah repot-repot seperti ini Nayla kita bisa pesan," kata Nanda dia merasa tidak enak dong Karena tamu malah yang menyiapkan sarapan untuk dirinya dan juga suaminya.
" Aku nggak ngerasa direpotin kok, aku malah seneng 'kan aku memang sangat hobi sekali dengan namanya yang memasak."
Nayla kemudian mengambilkan nasi goreng bikinannya untuk Juna.
" Silakan dinikmati aku yakin kamu pasti suka." Dengan senyum yang sulit diartikan dia kembali ke dokter mengambil nasi goreng untuk dirinya sendiri Nayla terlihat seperti Nyonya di rumah ini.
__ADS_1
" Gimana? Enak ..." Tanya Nayla saat sesendok nasi goreng masuk ke dalam mulut Nanda.
" Emmm, ini enak banget. Sumpah ini bener-bener enak banget. Kamu pintar sekali masak, aku nggak nyangka loh," ucap Nanda dia benar-benar sangat menyukai nasi goreng bikinan Nayla yang ternyata sesuai dengan selera lidahnya.
Nanda tersenyum puas kemudian dia melirik ke arah Juna.
" Kalau kamu ... Suka?" Tanyanya pada laki-laki itu yang sedari tadi terus memasukkan nasi goreng itu ke dalam mulutnya dan jawaban Juna hanya mengangguk saja.
" Syukurlah kalau kamu suka, nanti malam aku bakalan bikin masakan yang lain lagi ya, kesukaan kamu," ucapnya keceplosan sontak membuat Nanda langsung tersedak.
" Upss ..." Batin Nayla tanpa dosa seakan sengaja mengatakan hal tersebut.
" Maksud kamu?" Tanya Nanda dengan penuh selidik kepada Nayla.
Nanda menghela nafasnya lega ternyata dia salah mengerti akan kata-kata Nayla tadi, kemudian dia kembali melanjutkan menghabiskan nasi goreng bikinan Nayla hingga habis bersih tanpa sisa.
" Kenyangnya ... masakan kamu benar-benar top banget deh, cocok buka restoran tahu nggak," puji Nanda sambil mengacungkan dua jempolnya.
Nayla tertawa." Hahaha kamu bisa aja, aku hobi masak bukan untuk orang lain tetapi untuk suami dan anak-anakku kelak agar mereka selalu betah di rumah. Makanya aku selalu belajar masak," ucapnya.
Nanda terdiam, kata-kata Nayla seakan menyindir dirinya yang tidak bisa memasak, selama menikah dengan Juna dirinya tidak pernah menyiapkan sarapan atau makan malam dari masakannya sendiri. Nanda selalu memesan makanan siap saji jika sarapan dan malam harinya mereka akan selalu makan di luar jika sama-sama pulang lebih awal, atau jika malas keluar lagi-lagi Nanda akan memesan makanan siap saji saja.
__ADS_1
Sementara Juna hanya diam saja tanpa komentar apapun karena makanannya sudah selesai dia mengambil tisu dan lalu mengelap mulutnya kemudian bangkit dari tempat duduk.
" Terima kasih untuk sarapannya," ucap Juna pada Nayla. Kemudian dia melirik arah Nanda yang menatapnya. " Aku berangkat dulu."
Nanda hanya menghela nafasnya kemudian menatap punggung suaminya yang sudah pergi berangkat kerja. Dia tidak mengatakan apapun bahkan mengantar suaminya ke depan pintu saja, tidak. Nayla menyerngit dalam hatinya sangat senang bersorak gembira karena melihat Juna dan Nanda tak saling banyak bicara walaupun dirinya tidak tahu apa sebenarnya yang terjadi namun ini peluang bagus untuk dirinya.
" Emmm, kalian berantem?" Tanya Nayla kepo.
Nanda mendesah wajahnya terlihat murung sekali.
"Aku tidak tahu apa salahku Nay Entah kenapa Juna selalu menghindar saat aku membicarakan soal anak," ucapnya dia ingin mengeluarkan unek-unek dalam hatinya kepada wanita yang ia anggap sebagai sahabat itu.
" Aku menginginkan anak, tapi Juna selalu menjawab jika dirinya masih belum siap. Entah apa sebenarnya yang membuatnya belum siap memiliki anak. Padahal kami sudah menikah 3 tahun, mau sampai kapan terus menunda seperti ini?" Ceritanya dengan anda sedih.
Diam-diam Nayla menyunggingkan senyumnya tanpa sepengetahuan Anda lalu dia ada bangkit dari tempat duduk kemudian memeluk Nanda seakan dirinya tengah menenangkan.
" Kamu yang sabar ya," ucapnya sok penuh perhatian sambil mengusap-ngusap punggung Nanda pelan.
" Terima kasih ya, kamu memang sahabat baikku." Nanda tidak pernah berpikir jika wanita yang dianggap sebagai sahabat baik nya itu adalah duri yang sebenarnya.
" Mungkin saja Juna masih belum menginginkan anak darimu dia memiliki wanita lain," ujar Nayla tiba-tiba. Dia duduk di hadapan Nanda sambil menggenggam tangannya.
__ADS_1
" Apa maksud kamu?"