
Pernikahan tidak akan bahagia jika di paksakan, terlebih lagi hanya cinta sebelah pihak saja sehingga rawan sekali perselingkuhan terjadi. Bahkan pernikahan yang dijalani dengan sangat matang dan saling mencintai sekalipun belum tentu akan bahagia dan saling setia satu sama lain hingga berakhir di meja hijau pada akhirnya.
Mulai malam ini Nanda dan Juna memutuskan untuk tidur pisah kamar, dan tentu itu adalah usul dari Nanda sendiri. Dia ingin menenangkan hati dan pikirannya terlalu sakit saat melihat laki-laki itu jika terus bersamanya.
Nanda memeluk lututnya erat, sedari tadi air matanya tak berhenti menangis, sakit ... Itulah yang hati Nanda rasakan. Hancur berkeping-keping, laki-laki itu adalah cinta pertamanya sejak kecil pertama kali berjumpa. Saat mendengar jika mereka dijodohkan tentu Nanda sangat senang dan bahagia sekali, walaupun dia mengetahui jika Juna tidak mencintai dirinya namun Nanda berpikir akan seiringnya waktu berjalan Juna pasti mencintainya jika terus bersama.
" Kenapa aku bisa mencintai laki-laki yang salah ya Allah. Sakit sekali rasanya." Sambil memukul dadanya yang terasa sesak. Sakit namun tak berdarah adalah hal yang paling menyakitkan dan sangat sulit sekali untuk di obati.
" Kenapa tidak dari awal. Seandainya mereka mengatakan dari awal rasa sakit ini mungkin tidak akan pernah ada."
Kembali menangis, karena hanya dengan menangis lah semua unek-uneknya akan keluar. Nanda terus menangis sampai perasaannya lega hingga rasa lelah dan kantuk mulai ia rasakan. Nanda pun tertidur padahal hari sudah mulai subuh.
Pagi-pagi sekali Widya sudah mengetuk pintu kamar Nayla dengan keras hingga membuat tidur Nayla sangat terganggu sekali.
" Nayla buka pintunya, apa kamu ini sudah mati hah." Begitu sangat emosi sekali, Widya terus menggedor- gedor pintu tersebut.
" Astaga nggak apa-apaan ini? Pagi-pagi sekali sudah berisik sekali." Dengan sangat malas sekali Nayla membuka pintu sambil menutup kedua kupingnya.
" Dasar wanita tidak tahu diri bukannya tadi malam saya sudah menyuruhmu pergi kenapa kamu masih belum pergi juga dari rumah ini!" Ujar Widya dia sudah sangat tidak suka sekali dengan wanita itu sehingga dia pagi-pagi sekali mau sudah harus mengusirnya.
" Wanita tua ini ..." Batin Nayla sangat kesal sekali.
" Apa Anda tidak bisa sabaran sedikit calon mertua? Ini bahkan masih subuh, ayam aja bahkan belum pada bangun dan Anda sudah heboh sekali menyuruh orang keluar dari rumah ini sudah jelas aku bakalan menjadi Nyonya dan tinggal di rumah ini." Tutur Nayla nada seakan mengejek dan mengingatkan bahwa dirinya yang akan menempati rumah yang tidak menjadi nyonya sehingga tadi yang bisa mengusir dirinya bahkan orang tua cuma sekalipun.
" Ck, aku tidak sedih memiliki menantu sepertimu. Jangan berharap aku mau menerimamu," cibir Widya kesal.
Nayla hanya menyunggingkan senyumnya saja.
__ADS_1
" Cepat tinggalkan rumah ini!" Lanjutnya kembali untuk mengusir dengan tatapan tajam.
" Oke untuk sementara aku akan pergi dari rumah ini, tapi ingat valon mertua. Cepat atau lambat aku akan menjadi menantumu, dan anda tidak akan ku biarkan untuk mengusik kehidupan anakmu lagi."
Nayla berkata dengan berbisik dan sedikit dengan nada mengancam memberitahu jika dirinyalah yang akan berkuasa sehingga Widya tidak bisa lagi mengatur-ngatur kehidupan Juna. Setelah mengatakan itu dia tersenyum kemudian menutup pintu kamar tersebut agak sedikit keras.
Widya tercengang tak percaya, itulah mengapa dia tidak begitu sangat menyukai nayla karena sudah mengetahui sikap wanita itu yang begitu licik dan sangat ambisi sekali. Dia mengelus dadanya. Bagaimana bisa anaknya mencintai wanita seperti itu sungguh Widya tidak habis pikir.
" Pernikahan seperti apa yang akan kau jalani nanti Juna. Mama hanya ingin masa depan bahagia dan berada pada wanita yang tepat yang mau mengurus dan merawatmu kelak."
Tak ada orang tua yang menginginkan masa depan anaknya tak bahagia. Feeling yang begitu sangat kuat maka dari itulah dia sangat menentang sekali hubungan Juna dan juga Nayla. Namun semua yang ia rencanakan yang ia impikan ternyata sia-sia, apa ini yang dinamakan takdir? Widya tertutup lemas tak berdaya jika memang anaknya berjodoh dengan Nayla wanita yang tidak ia sukai lantas dirinya bisa apa selain menerima dan pasrah.
****
Satu minggu kemudian, jumlah dan juga Nanda tidak pernah saling bertemu lagi sejak saat itu. Sejak kepergian Nayla dari rumah itu jurnal pun memutuskan untuk tinggal di apartemen karena tidak ingin membuat Nanda semakin sedih karena dia tahu jika nandain statusnya masih istrinya itu selalu menghindari dirinya.
" Akhirnya ..." Batin Nayla tersenyum senang. Dia sangat berterima kasih sekali dengan ide cemerlangnya yang sudah ya susun begitu sangat rapi dan hingga tinggal menunggu selangkah lagi maka laki-lakinya cintai akan menjadi miliknya.
Sesaat kemudian senyum lebar itu tiba-tiba hilang saat melihat wajah kekasihnya yang nampak sangat murung sekali.
" Kenapa? Apa kamu tidak menyukai perceraian ini?" Tanya Nayla dengan ada sinis.
" Apa yang kau bicarakan?" Tanya balik jurnal dengan nada malas bahkan terdengar datar sekali.
" Apa kamu menyesal Juna?" Bentak Nayla dia menata tajam Juna saat ini mereka masih berada di luar pengadilan.
Juna menghela nafasnya dia melihat kiri kanan ada banyak orang yang lalu lalang melihat ke arah mereka.
__ADS_1
" Apa yang kau katakan? Jika aku menyesal, lalu untuk apa aku ada di sini? Sudah deh, jangan mengatakan hal yang aneh." Kemudian jumlah masuk lebih dulu dan meninggalkan Nayla yang begitu sangat kesal.
Nayla mengentakkan kakinya kemudian dia menyusul Juna.
Tak lama kemudian Nanda pun datang dengan nafas yang ia tarik dalam-dalam kemudian dihembuskan untuk menguatkan dirinya keputusannya sudah sangat bulat. Karena dengan cerai maka hatinya tidak akan sakit lagi.
Dengan nafas panjang kemudian ia melangkah masuk dan mencoba untuk tersenyum. Dia melihat jumlah dan juga Nayla sudah hadir di sana. Tak lama kemudian dia juga melihat kedatangan kedua orang tuanya dan juga kedua orang tua Juna turut hadir mengikuti persidangan tersebut.
" Nayla ..." Lisa memeluk erat anaknya. Dia bahkan tidak bisa menghentikan keinginan anaknya tersebut lantaran kecewa dengan apa yang dilakukan juna pada anaknya.
" Kamu sudah siap, sayang?" Sambil mengelus lembut punggung Nanda, dia memberikan semangat pada anaknya itu.
" Iya Mah." Kemudian keduanya duduk di kursi yang sudah disediakan. Nanda duduk tepat disampingnya Juna. Dia tersenyum saat kedua mata mereka bertemu.
Senyuman terakhir dirinya sebagai seorang istri. Hingga ketukan palu menyatakan bahwa mereka telah resmi bukan lagi sepasang suami istri.
" Terima kasih, senang bisa bersamamu selama 3 tahun. Semoga pernikahan kalian lancar dan langgeng sehingga akhir hayat." Nanda bersikap begitu dewasa sekali tidak ada raut wajah kecewa atau membenci mantan suaminya.
Cuma hanya dia mematok sambil terus memperhatikan wajah wanita yang kini sudah menjadi mantan istrinya tersebut.
" Aku yang seharusnya berterima kasih. Kamu adalah wanita yang baik, aku yakin suatu saat kamu pasti bakal mendapatkan laki-laki yang jauh lebih baik di luar sana dan mencintai kamu apa adanya." Juna menerima saluran tangan Nanda mereka pun saling berjabat tangan dan saling mengucapkan terima kasih satu sama lain.
Nanda tersenyum." Terima kasih atas doanya, aku pasti akan datang ke pernikahan kalian kalau begitu selamat tinggal dan semoga kalian itu bahagia."
Kemudian Nanda pergi meninggalkan Juna dengan senyum tulusnya. Wanita itu sudah merelakan laki-laki itu dengan lapang dada.
Juna hanya bisa menatap punggung mantan istrinya sambil merasakan bekas telapak tangan Nanda yang masih membekas di telapak tangannya.
__ADS_1
" Semoga kamu juga bisa mendapatkan kebahagiaan, dan maaf."