
Siang itu, Nanda baru saja selesai makam siang. Karena kliniknya masih dalam keadaan sepi jadi dia menyempatkan diri untuk beristirahat dahulu sambil bersandar di kursi kebesarannya tak lupa juga sambil memainkan hp-nya.
Nanda sudah tidak terlalu memikirkan perkataan Nayla tadi pagi, karena kesibukan sehingga membuatnya lupa. Lalu tiba-tiba hp-nya berbunyi pertanda ada pesan WhatsApp masuk. Karena nomor yang tidak dikenal Nanda pun males untuk membuka isi pesan tersebut karena dia tahu pasti hanya orang iseng saja karena biasanya yang menghubungi nomornya itu adalah orang-orang yang sudah ia kenal dan tambah lagi tak jarang orang menghubunginya dengan nomor baru apalagi hanya mengirim pesan jika memang penting sekali pasti orang tersebut akan menelponnya.
Lalu pesan kedua masuk di nomor yang sama, namun berbeda dengan yang tadi. Isi pesan tersebut hanya pesan teks saja hingga di notifikasi dapat terbaca olehnya. Nanda pun melirik dan membaca notifikasi tersebut. Sedikit terkejut melihat ada kata-kata suamimu di awal pesan notifikasi itu sehingga Nanda pun menjadi penasaran lalu dengan cepat dia membukanya.
Setelah membuka isi pesan dari nomor yang tak dikenal itu membuat kedua mata Nanda terbelalak, tentu sangat terkejut sekali melihat apa yang dikirim dari nomor asing tersebut. Yang pertama sebuah foto suaminya sedang makan siang bersama dengan seorang wanita dan yang kedua isi pesan, namun isi pesan itu dia tidak terlalu peduli, karena yang dia pedulikan adalah foto tersebut. Karena foto itu bisa menjadi sebuah bukti bahwa suaminya memang sedang makan bersama dengan seorang wanita namun dia tidak mengenali wanita itu siapa lantaran hanya bagian belakangnya saja yang nampak terlihat.
" Mungkin sedang makan siang bersama klien kali ya?" Di sini Nanda mencoba untuk berpikir positif mungkin saja suaminya sedang makan siang bersama dengan kliennya dan ada seseorang yang ingin sengaja menghancurkan rumah tangganya lalu mengirim foto tersebut kepada dirinya.
" Iya pasti Juna sedang bersama dengan kliennya, lagian itu semua hanya sebuah foto. Lagi pula mereka tidak bermesraan dalam foto itu," ucap Nanda lagi dia harus berpikir positif karena memang nyatanya difoto itu tidak ada kata mesra apalagi dalam foto tersebut Juna sibuk dengan handphonenya sambil menundukkan kepala.
" Siapa sebenarnya yang mengirim pesan ini, pasti orang yang iri dengan pernikahan kami," lanjutnya lalu meletakkan handphone ke atas meja dia tidak ingin terus-menerus melihat foto suaminya dan wanita itu.
Kemudian Anda tak ingin mengambil pusing toh bukti masih belum terlalu kuat jika suaminya itu memiliki wanita lain jadi sehingga dia tidak terlalu memikirkan lebih baik ya fokus bekerja agar pekerjaannya cepat selesai dan dia kembali pulang dan ingin bertemu dengan suaminya.
****
Sementara itu di kediaman Juna Nayla tengah merebahkan dirinya sambil tersenyum lebar sedari tadi memperhatikan fotonya dia pikir kau saat ini Nanda pasti akan sudah mulai mencurigai Juna nganterin foto yang ia kirim. Dan kemudian dia mau ngotak-atik handphonenya lalu menelpon seseorang untuk melanjutkan aksi yang kedua.
" Bagaimana? Apa hasilnya sudah kamu dapatkan?" Tanyanya dengan seseorang di seberang sana.
" Sudah, Nyonya. Sesuai dengan permintaan anda," jawab si penelpon tersebut.
__ADS_1
" Bagus, aku akan segera kesana untuk mengambilnya. Uang segera aku transfer, dan ingat ... jangan sampai bocor masalah ini, untuk sementara kau sebaiknya tinggalkan kota ini," ucap Nayla tegas.
" Baik Nyonya."
Nayla menerima licik dia benar-benar sangat puas dengan hasil yang ia dapatkan kemudian dia bangkit dari tempat tidurnya lalu berganti baju untuk segera mengambil ke alamat yang sudah si penelepon itu kirimkan untuk melanjutkan tentunya aksi yang kedua.
" Tidak lama lagi kau akan segera menjadi milikku Juna jadi kita tidak perlu lagi bersembunyi-sembunyi seperti tikus yang takut dengan kucing," ucapnya dengan seringai kalau dia pun menelpon taksi agar menjemput dirinya di rumah.
***
Malam harinya telah tiba kini Juna sudah kembali dari kantor dia melihat ternyata Nayla masih berada di rumahnya kemudian dia segera langsung menghampiri mumpung Nanda tidak ada di rumah itu.
" Kenapa kamu masih di rumah ini?" Tanyanya.
Juna menghela nafasnya kemudian dia menarik Nayla ke dalam pelukannya, pelukan itu tidak terlalu lama yang penting tubuhnya dan tubuh Nayla nempel sehingga dia pun cepat-cepat mendorong Nayla kembali karena takut jika Nanda keburu pulang.
" Kenapa kamu masih di rumah ini, kan aku sudah suruh kamu kembali ke apartemen," ucap Juna kini bernada lembut wanita itu sangat sensitif sekali sehingga dia harus berhati-hati saat berucap.
" Aku harus pamitan dengan Nanda, Juna. Tidak mungkin dong aku nyelonong pergi begitu saja, sementara aku datang ke rumah ini dengan baik-baik," ucapnya sambil berkata malas. Dia juga tidak ingin dong dicap sebagai wanita tidak memiliki sopan santun datang secara baik-baik masa pergi dengan begitu saja.
Juna kembali menghela nafasnya, ya mungkin dia terlalu takut jika kedua orang tuanya tiba-tiba datang malam ini dan melihat Nayla ada di rumah ini tentu akan menjadi bumerang untuk dirinya. Maka dari itulah dia buru-buru ingin Nayla itu segera pergi meninggalkan rumahnya.
" Baiklah, Nanda sebentar lagi akan pulang. Apa kamu sudah siap-siap?" Jawabnya. Nayla hanya mengangguk santai saja kemudian dia berjalan ke tempat tidur dan duduk sambil memainkan ponselnya.
__ADS_1
" Aku ke kamar dulu, mau mandi." Jumlah hendak pamit dia harus segera keluar dari kamar Nayla dengan alasan jika dirinya ingin mandi.
" Juna, tunggu sebentar." Nella menghentikan langkah jurnal lalu dia mengambil sebuah amplop berwarna coklat lalu ia berjalan mendekati Juna yang menatapnya bingung.
" Tadi aku periksa ke rumah sakit karena tubuhku merasa tidak enak badan, lalu aku muntah-muntah makanya buru-buru aku segera periksa karena sudah feeling," ucapnya sambil menyodorkan amplop coklat tersebut kepada.
" Feeling Apa maksud kamu?" Tanya Juna dengan raut wajah bingung.
" Buka aja kamu bakalan tahu," jawabnya.
Kemudian Juna membuka amplop tersebut lalu mengambil selembar kertas kemudian ia baca dengan seksama.
" A-apa ini Nayla?" Syok sekali rasanya, Juna nampak sangat terkejut setelah membaca isi selembar kertas putih tersebut.
" Seperti yang kamu lihat sekarang di dalam rahimku sudah ada baik kita," ucap Nayla sambil meraba perutnya yang masih rata.
" Ini gak mungkin? Kamu pasti bercanda kan Nayla!" Sungguh tidak percaya dirinya selalu menunda akan kehadiran anak tetapi ternyata justru malah di rahim Nayla ada anaknya.
" Apa aku terlihat bercanda?" Tanya Nayla dengan wajah serius.
" Nyatanya di rahimku sudah ada anak kita Juna. Aku hamil," ucapnya dengan nada sedikit tinggi.
" Hamil? Siapa yang hamil?"
__ADS_1
Juna dan Nayla langsung menoleh ...