
Setelah mengantar ibu Widya pulang dengan selamat, Nanda langsung pergi ke klinik miliknya. Nanda akan mencoba mencari tahu kebenaran yang terjadi, karena Nanda sangat yakin sekali jika ibu Widya tidak bersalah.
" Tapi aku harus minta tolong sama siapa?" Nanda memijit pelipisnya lantaran baru ingat bahwa tidak lah mudah memecahkan masalah bahkan jika dirinya pergi ke rumah sakit dan menemui dokter kandungan itu pasti tidak akan membuahkan hasil. Dirinya harus mencari seseorang yang sangat berkuasa dan pandai mencari segala informasi. Tapi siapa?
Pada saat Nanda sedang memikirkan banyak hal di ruang kliniknya. Suara ketukan pintu membuyarkan lamunannya itu.
" Masuk," terdengar suara serak, Nanda nampak sangat lelah sekali siang ini.
" Dok, ada pasien." Suster Rara mengantar pasien yang hendak mencabut giginya. Lalu mempersilahkan anak kecil berusia 7 tahun itu naik ke kursi supaya giginya dapat di periksa.
Nanda berdiri dari duduknya, tiba-tiba kepalanya berdenyut dan pandangnya terasa gelap. Nanda memegangi kepalanya dengan mata yang terpejam menahan rasa sakit seperti ditusuk itu.
" Ya Allah, Dokter gak apa-apa?" Cemas suster Rara memapah tubuh Nanda yang hendak tumbang. Lalu suster Rara membawa Nanda kembali duduk.
" Terima kasih Rara tapi sepertinya hari ini aku tidak bisa untuk bekerja. Sebaiknya kamu panggilkan Sinta untuk mengambil alih pekerjaan itu," titahnya tegas dalam keadaannya seperti ini dia tidak menangani pasien dengan baik.
__ADS_1
Suster Rara mengangguk paham kemudian dia bergegas keluar dari ruangan dokter Nanda untuk mencari dokter Sinta, pendamping Nanda yang sudah cukup ahli untuk mengambil tugas Nanda saat wanita itu sedang tidak berada di klinik.
" Dokter, lagi sakit?" Banyak anak laki-laki itu dengan baju polos memperhatikan Nanda sedari tadi.
Nanda pun tersenyum darahnya ya jadi merasa bersalah kepada anak itu karena tidak bisa menanganinya segera.
" Sorry, sepertinya kamu harus menunggu sedikit lebih lama lagi soalnya tugas menjadi dokter gigi hari ini adalah dokter Sinta," ujarnya memberi penjelasan.
" Oke," jawabnya singkat. Nanda tersenyum.
" Anda nampak pucat sekali, Dok! Sebaiknya pergi kerumah sakit," kata ibu si pasien kecil tadi melihat wajah pucat Nanda yang diyakini jika wanita itu tidak sedang baik-baik saja untunglah masih ada dokter cadangan yang mengambil alih tugas, karena jika tidak. Dia tidak akan membiarkan anaknya diperiksa oleh dokter yang sedang dalam keadaan sakit.
Pintu dibuka, seorang wanita bertubuh tinggi dan langsing itu masuk bersama suster Rara di belakangnya. Wanita itu berjalan mendekat kearah Nanda. Dan langsung menempelkan tangannya ke kening Nanda mengecek suhu tubuh sahabatnya itu.
" Badan kamu panas, apa perlu aku telpon kan orang tua mu untuk menjemput?" Dia adalah dokter Sinta, dokter pendamping sekaligus sahabat Nanda. Sinta sangat khawatir dengan keadaan Nanda, apalagi dengan kondisi seperti ini tidak mungkin untuk berkendara akan sangat berbahaya sekali.
__ADS_1
" Tidak apa, dan maaf ya karena aku harus merepotkan mu lagi." Nanda merasa tidak enak, dia sudah sering kali mengambil cuti.
Sinta memakai sarung tangan lalu dia menyalakan lampu sorot untuk menyoroti gigi yang hendak di cabut itu.
" Tidak masalah, serahkan saja semuanya padaku." Kemudian dia mulai fokus bekerja dan di temani oleh suster Rara di sampingnya.
Nanda bangkit dengan kepala yang terasa cenat-cenut saat berdiri. Tetapi dia mencoba untuk terlihat baik-baik saja agar supaya sahabat dan suster lara tidak mengkhawatirkan dirinya. Nanda berjalan perlahan, sebelum membuka pintu dia menoleh ke belakang melihat sahabat dan suster Rara sedang fokus mencabut gigi pasiennya.
" Tolong titip, ya," ujarnya.
" Oke," sahut cinta tanpa menoleh karena dia tentu sedang fokus dengan benda yang ia pegang untuk mencabut gigi tersebut selembut mungkin.
" Hati-hati di jalan, Dok." Suster Rara juga menyahuti, wanita itu melihat sekilas ke arah Nanda. Nanda tidak mengatakan apapun lagi, kemudian dia membuka pintu lalu menutupnya kembali.
" Kenapa kepala ku sakit banget sih?" Nanda sudah berada di luar klinik, dia berdiri di depan mobil sambil memegangi kepalanya yang terasa sakit. Tubuhnya tiba-tiba lemas hingga saat dia hendak melangkah tiba-tiba dia dan Untung saja seorang laki-laki sigap menangkap tubuhnya.
__ADS_1
Tangan laki-laki yang kekar berotot itu melingkar di perutnya, Nanda menoleh ke belakang.
" Mas ...!" Tentu Nanda mengenal laki-laki yang menghentikan tubuhnya yang hendak terjatuh tadi.