Cerai

Cerai
bab 19


__ADS_3

" Dari mana saja kamu?" Tanya Nayla dengan nada ketus lantaran dirinya sudah Sudah dari tadi menunggu kedatangan Juna, lebih dari satu jam dia terus menunggu hingga kesabarannya habis entah apa yang dilakukan laki-laki itu sampai-sampai memakan waktu begitu lama.


" Macet di jalanan. Ya udah ayo masuk, pilih saja apa yang kamu suka." Juna tidak mungkin mengatakan kepada Nayla jika dirinya bertemu dengan mantan istri karena pasti calon istrinya itu akan murtad padanya.


" Sudah tidak berminat," rajutnya mengejutkan bibir sambil melipat tangan di dada.


Juna menghela nafasnya sabar mengerti mungkin ini hormon janin yang dikandung oleh calon istrinya itu jadi jurnal berusaha untuk sabar.


" Ya sudah kalau begitu kita pulang saja," ajak Juna.


" Kok pulang sih, 'kan belum pesan baju pengantin. Niat nggak sih mau nikah?" Wanita itu malah semakin merajuk.


Astaga ... Juna menjambak rambutnya, dia berusaha untuk tahan emosi. Dia benar-benar tidak mengerti sulit sekali memahami wanita serba salah pada jelas-jelas tadi mengatakan tidak berminat giliran diajak pulang malah lebih salah lagi.


" Jadi kamu itu maunya gimana, tadi bilangnya tidak berminat giliran aku ajak pulang malah nggak mau." Juna mencoba untuk bersabar.


" Ih kamu tuh memang laki-laki nggak peka banget ya, kalau aku bilang nggak berminat itu ya berarti mau. Seenggaknya dibujuk kek, apa kek malah diajak pulang, kan makin kesal," ucapnya.


" Jadi sekarang kamu mau bagaimana? Jadi apa enggak pilih baju pengantinnya nanti keburu malam." Tidak ingin berdebat dia pun mengalah.

__ADS_1


" Tau ah ..." Nayla semakin merajuk dia mengentakkan kakinya sambil melipat kedua tangan dan memanyunkan bibir bahkan membelakangi Juna.


Juna Tak tahan lagi kesabarannya sudah habis calon istrinya ini Entah apa maunya dia berusaha untuk sabar tetapi kesabarannya malah diuji. Dia sudah lelah seharian kerja di kantor beban pikirannya begitu banyak ditambah lagi calon istrinya ini malah bertingkah semakin seperti anak-anak saja sehingga ia menjadi stress dibuatnya.


" Terserah ..."


Dengan ekspresi dingin jurnal langsung pergi meninggalkan Nayla yang sedang merajuk. Biasanya calon istrinya itu tak pernah bertingkah seperti ini dan apalagi saat bersama dengan anda dia bahkan tidak pernah menghadapi istrinya itu yang namanya merajuk tetapi hari ini benar-benar membuatnya sangat kesal. Lebih baik pergi untuk menghindar perdebatan di tengah-tengah jalan di tempat keramaian seperti ini.


" Juna, Juna! Iiih ngeselin banget sih." Nayla menggedor-gedor pintu kaca mobil Juna tetapi laki-laki itu tidak membukanya malah pergi menjalankan mobil dengan kecepatan dan meninggalkan Nayla yang berteriak-teriak memanggil namanya Juna tidak peduli lagi, dia sudah terlanjur kesal.


" Brengsek, kau Juna." Teriak Nayla. " Aaarrrrggh, nyebelin banget sih." Dia memukul setir mobilnya kemudian mengambil handphone dan menelpon calon suaminya itu tetapi malah tidak dijawab sama sekali sehingga membuatnya semakin kesal saja dan Nayla pun melempar handphonenya ke kursi belakang.


" Dia itu kenapa sih, nggak biasanya dia kayak gini. Mau merajuk kayak apapun, biasanya dia tetap mau membujukku." Heran Nayla.


Sementara itu di kediaman Juna, Juna tinggal di kediaman kedua orang tuanya karena rumahnya dan juga rumah Nanda sudah dijual untuk pembagian harta gono gini padahal sebenarnya Nanda menolak tetapi jurnal tetap ingin membaginya lantaran tidak ingin semakin bersalah kepada wanita malang itu yang tidak tahu apa-apa.


" Dari mana saja kamu Juna?" Tanya Widya hari hampir Maghrib dan anaknya baru saja pulang biasanya selalu tepat waktu yaitu jam 04.00 sore.


" Baru pulang kerja Mah." Juna baru saja duduk bersandar di sofa tetapi ibunya itu sudah mengajukan pertanyaan yang membuatnya males untuk menjawab.

__ADS_1


Widya duduk di samping Juna kemudian ia menetap anaknya.


" Juna, Apa kamu yakin benar-benar ingin menikah dengan wanita itu? "Tanya Widya untuk meyakinkan.


" Mah, tolong jangan bahas masalah ini lagi oke. Bukankah semuanya sudah selesai lantas ada masalah apa lagi?" Tanya jumlah dia tidak mengerti padahal sudah sepakat jika hubungannya dengan Nayla sudah mendapatkan Restu.


" Mama memang sudah merestui kalian tapi bukan berarti mama sudah menyukai dia. Mama malah semakin tidak suka padanya karena belum apa-apa saja dia sudah bertingkah," ucap Widya.


" Mah ..."


" Dia bukan wanita baik-baik, Juna. Lihatlah sekarang, dia bahkan belum menjadi istri kamu tapi dia sudah sok berkuasa. minta pernikahan yang mewah lah, minta lamaran di kapal pesiar lah, dengan baju pengantin yang mewah, semuanya serba mewah. Apa kamu yakin bisa bertahan dengan semua serba kemewahan itu?"


Widya takut jika suatu saat anaknya itu kewalahan karena terus menuruti apa kemauan calon menantunya itu.


" Kan Nayla sudah bilang jika itu adalah keinginan janin dalam kandungannya, cucu Mamah sendiri."


Nayla memang mengatakan jika semua keinginan itu bukan keinginan dirinya sendiri melainkan keinginan sang janin entahlah memang tidak masuk akal tetapi Juna memang tidak bisa mengatakan tidak kepada wanita itu.


" Mamah juga pernah hamil juga Mama juga pernah ngidam tapi tidak seperti itu. Keinginan dia kamu jangan mau dibodohin dia terus, Juna." Tentu saja Widya tidak percaya lagian mana ada janin mengidam sampai segitunya. Memang ini adalah akal-akalan Nayla saja.

__ADS_1


" Juna mencintainya Mah, apapun yang dia inginkan Juna pasti akan turuti selagi Juna bisa. Mama percaya kepada Juna, Jika dia adalah wanita yang tepat untuk istri Juna. Jadi tolong jangan lagi ikut campur dalam urusan rumah tangga Juna."


Setelah mengatakan itu junas pun langsung pergi ke pergi dan masuk ke kamarnya sendiri dia benar-benar sangat lelah sekali. Urusan kantor calon istri dan sekarang malah ibunya Juna benar-benar tidak bisa berpikir jernih kemudian dia bergegas mengunci pintu dan merebahkan diri di tempat tidur.


__ADS_2