Cerita Cinta Irene

Cerita Cinta Irene
Pertemuan setelah dua tahun


__ADS_3

"Kakak....!"


Dia berlari dan berhambur ke pelukan kakaknya yang sangat dia rindukan itu. Mereka berpelukan dan meluapkan segala perasaan,kerinduan yang ada di hati masing-masing.Air mata tumpah sampai kemana-mana,tidak memperdulikan keadaan sekitar orang-orang yang ramai lalu lalang. Mereka terus berpelukan sampai didekat sebuah taksi yang memang sudah berjajar di bandara itu.


"Dik, kakak sangat merindukanmu. Bagaimana keadaanmu? Maafkan kakakmu ini ga bisa menghadiri wisudamu di Inggris." Ucap Ivone masih terus memeluk adiknya sambil membelai rambut adiknya yang hitam lebat sepunggung itu.


"Aku juga sangat merindukanmu kak. Aku sangat baik sekarang karena sudah bertemu denganmu dan kita akan bersama-sama mulai sekarang. Aku ga mau lagi berpisah dengan kakak." Dia masih sesenggukan di bahu kakaknya.


Taksi melaju memecahkan keramaian di bandara itu dan bergerak menuju apartemen yang alamatnya sudah diberi tahu Ivone pada pak supir.


Ivone dan Irene adalah dua adik kakak yang anak piatu. Ibu mereka meninggal saat usia Ivone 18 tahun setelah lulus SMA dan Irene saat itu masih 14 tahun, kelas 2 SMP. Waktu itu mereka berdua benar-benar sangat terpukul dengan kenyataan yang ada. Mereka berpikir kalau hidup itu benar-benar tidak adil buat mereka. Karena Ivone adalah anak yang tertua dia berusaha sekuat mungkin dihadapan Irene untuk kuat walau sebenarnya hatinya hancur berkeping-keping,tidak ada gairah hidup. Dia berusaha tegar, memberikan kekuatan bagi adiknya, dan mencurahkan segala cinta dan kasih sayang buat Irene agar Irene tidak merasa kesepian dan kekurangan cinta kasih.


Sedangkan ayah mereka tidak tau pergi entah kemana. Ayah mereka pergi saat usia mereka masih anak-anak. Dulu ibu mereka berkata kalau ayah mereka pergi untuk bekerja. Tapi sampai sekarang mereka tidak pernah lagi bertemu bahkan Irene sudah lupa wajah dan suara ayahnya. Bahkan saat ibu mereka meninggal, ayah tidak datang sama sekali membuat mereka benar-benar merasa anak yatim piatu.


"Kakak sudah pindah ya? Tanya Irene heran saat taksi berhenti di gedung sebuah apartemen dan kakaknya memberikan beberapa lembar uang kertas pada pak supir.


"Iya, kakak pindah setahun yang lalu. Ayo!" Ajak Ivone.


Mereka menarik koper yang sudah diturunkan pak supir dari bagasi satu per satu.


"Berarti pekerjaan kakak sekarang sudah hebat ya." Irene mengedipkan matanya sebelah sambil tersenyum dan menggandeng tangan kakaknya sedang tangan yang lain mendorong koper disamping kirinya.


"Sudah jangan banyak bicara, ayo kita naik." Mereka menuju lift dan masuk.


Sampai di apartemen Irene langsung duduk di sofa sedangkan Ivone ke dapur mengambil minuman.


"Ini minum dulu, kamu pasti capek dan lelah kan setelah menempuh perjalanan jauh." Ivone menyodorkan minuman segar kehadapan Irene yang sedang menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa empuk itu.

__ADS_1


"Iya kak, aku capek dan lelah sekali." Irene menyambar minuman itu dan menghabiskannya.


"Kamu mau tidur, mandi, atau makan dulu?"


"Kayaknya aku mandi dulu deh kak, gerah banget badan aku."


"Baiklah, kamar mandinya disana." Tunjuk Ivone ke arah yang dimaksudnya.


Irene berdiri dari duduknya, melepas sweater dan meletakkannya di pinggiran sofa yang dia duduki tadi. Lalu dia menarik baju dari perutnya hingga terlepas di ujung kepalanya.


" Irene ....!" Sentak Ivone sambil memelototkan matanya ke arah Irene.


Irene langsung berlari ke kamar mandi sambil membawa baju ditangannya yang dipakai tadi. Ivone hanya geleng- geleng kepala melihat Irene yang belum berubah dari plin plan dan cerobohnya yang tidak melihat tempat. Ya begitulah Irene, dia tidak punya malu didepan kakaknya karena menurutnya tidak ada yang perlu disembunyikan darinya, toh mereka sama-sama perempuan. Padahal Ivone sudah memperingatkan Irene berkali-kali tapi Irene tidak mengindahkannya.


" Segarnya...." Ucap Irene dibawah guyuran shower. Setelah dua tahun akhirnya aku bisa merasakan lagi kesegaran di tanah airku ini, negara yang sangat aku rindukan. Dia bermanja- manja di kamar mandi sambil meresapi setiap tetesan air yang membasahi tubuhnya.


"Duduklah, mari kita makan. Kakak lapar, kamu juga kan." Ajak Ivone pada Irene yang sudah berpakaian santai tapi rambut masih digulung pakai handuk.


"Iya kak, aku kangen banget sama masakan kakak." Irene menarik kursinya.


"Kakak sudah memasak makanan kesukaan kamu. Urap, pepes ayam pakai daun kemangi dan yang lainnya."


"Terima kasih banyak ya kak. Kakak memang kakak terhebat di dunia, aku sayang sama kakak ".


" Irene,jangan pernah lagi ucapkan terima kasih sama kakak. Banggakan kakak dengan keberhasilanmu nanti." Jawab Ivone tegas.


Irene hanya tersenyum terhadap ucapan kakaknya. Ya, Ivone memang tidak suka kalau Irene berterima kasih padanya, karena baginya Irene adalah harta satu-satunya yang harus dia jaga dan rawat sampai kelak Irene menjadi pribadi yang tangguh dan bersinar karena kemampuan diri Irene sendiri. Walaupun dia harus bertumpah darah sekalipun untuk memenuhi semua keperluan Irene.

__ADS_1


Irene menyantap makanannya dengan sangat lahap. Karena saat di Inggris dia tidak dapat memakan makanan seenak itu karena bahannya tidak selengkap disini. Ivone hanya geleng-geleng kepala sambil tersenyum melihat kerakusan adiknya.


"Apa rencanamu kedepan Ren?" Tanya Ivone sambil membereskan meja makan.


"Mulai senin aku akan melamar pekerjaan kak, besok aku akan mempersiapkan segala sesuatu yang diperlukan. Pokoknya aku harus dapat pekerjaan secepat mungkin." Ucap Irene bersemangat sambil membawa piring-piring ke washtafel dan mencuci peralatan makan itu.


"Baguslah kalau begitu, kakak mendukungmu 100%." Ivone memberi semangat.


Setelah piring-piring dan meja makan bersih mereka menuju kamar karena hari memang sudah gelap diluar sana. Irene duduk di meja rias dan membuka handuk yang menggulung rambutnya sedangkan Ivone duduk di bibir ranjang memperhatikan adiknya.


"Kak, aku kangen sama ibu. Kapan kita kemakam ibu kak?"


"Besok, kakak juga sudah lama ga temuin ibu." Suara Ivone bergetar sedih.


"Apa ayah sudah ada kabar kak?" Irene sedikit ragu, melirik kakaknya dari cermin lalu memalingkan wajah ke arah kakaknya sambil menyisir rambutnya.


"Jangan mengungkit laki-laki itu lagi Irene, laki-laki yang tidak bertanggung jawab seperti dia tidak layak untuk di bahas." Ivone berapi-api lalu memainkan ponselnya entah apa yang dikerjakannya.


Irene langsung mengunci mulutnya rapat-rapat sambil terus merapikan rambutnya. Dia tau kalau sudah membahas ayah, kakaknya akan cepat emosian. Padahal kan dia cuma ingin tau saja.


Beberapa menit kemudian, dia beranjak ke atas ranjang merebahkan tubuh lelahnya.


"Kak, aku tidur duluan ya." Dia menarik selimut.


"Ya tidurlah, kamu pasti lelah sekali. Selamat malam Irene,mimpilah yang indah."


Tapi Ivone masih mengutak atik ponselnya, entah apa yang dikerjakannya.

__ADS_1


__ADS_2