
Irene tiba di butik kakaknya. Dia memutuskan kesana saja daripada harus sendirian di apartemen. Butik Ivone tidak terlalu besar tapi selalu ramai pelanggan. Di daerah itu butiknya memang sudah di kenal orang, tetapi tidak untuk tingkat kota karena butik itu masih baru di buka sekitar satu tahun yang lalu. Irene masuk dan membawa jinjingan di tangannya, sepertinya makanan.
"Selamat siang semuanya." Dia menyapa semua karyawan. "Apa kalian sudah makan siang?"
"Sudah mba Irene.." Jawab mereka bersahutan.
"Bagaimana mba Irene, apa interviewnya berjalan dengan lancar?" Tanya Citra antusias.
"Sangat lancar." Irene tersenyum. "Apa kak Ivone ada di meja kerjanya?"
"Ada kok mba." Jawab Citra masih memperhatikan Irene.
"Baiklah, saya kesana dulu ya." Irene berjalan terseok-seok ke meja kakaknya.
"Siang kak.. Kakak lagi apa? Kakak sudah makan siang?" Irene duduk di sofa meletakkan tas dan makanannya. Dia melepas high heelsnya. " Akhh tersiksa sekali pakai ini."
Ivone masih fokus memegang pensil di tangan mencoret-coret kertas putih di depannya. Hanya melirik sekilas ke arah Irene yang mengelus-elus tumit belakang kakinya.
Setelah beberapa menit barulah dia mendekati Irene.
"Nanti kalau sudah terbiasa tidak lecet lagi." Ivone duduk di sebelah Irene.
"Sekarang kamu makanlah dulu, nanti kita beli salep untuk mengobatinya."
"Baik kak. Kakak sudah makan?"
"Sudah."
Ivone masih setia menemani adiknya sampai selesai makan.
"Sudah kenyang?"
__ADS_1
Irene mengangguk.
"Baiklah sekarang ceritakan bagaimana interview kamu tadi."
Irene menceritakan semua. Dari awal dia masuk di periksa sampai kedatangan sekretaris Sam ke ruang interview.
"Kak, aku bisa menjawab semua pertanyaan-pertanyaan tanpa ada halangan yang berarti walau memang gugup sih." Irene memeluk kakaknya.
"Itu semua karena doa dan nasehat kakak. Terima kasih ya kak." Irene mendongakkan wajahnya melihat wajah sang kakak.
"Sama-sama adikku sayang. Syukurlah kalau kamu bisa menjawab semua dengan lancar."
"Kira-kira aku diterima ga ya kak?" Irene menyandarkan kepala di bahu kakak.
"Kita berdoa saja, apa pun hasilnya pasti itu yang terbaik buat kamu." Ivone menepuk punggung adiknya lembut.
Irene melepaskan pelukan dan duduk bersandar. "Tapi aku merasa aneh loh kak, sekretaris itu sepertinya kenal aku. Padahal aku belum pernah bertemu dengannya waktu magang di perusahaan itu."
"Mana mungkin kak, dia sangat di hormati di perusahaan itu. Auranya saja sangat terpancar kalau dia itu orang penting di sana.
"Benarkah?" Ivone acuh tak acuh dengan penuturan Irene.
"Iya loh kak, sebenarnya dia itu tampan dan ga terlalu tua sih menurut aku. Kayaknya seumuran sama kakak. Tapi sayang mukanya sangat serius dan terlalu datar ga pernah senyum. Coba saja kalau senyum, ketampanannya itu pasti sempurna."
Ivone sama sekali tidak mengindahkan ocehan adiknya yang sudah kemana-mana. Dia meneruskan rancangan desainnya yang tertunda tadi.
"Kak, kalau di lihat- lihat dia sama kayak kakak deh. Dingin seperti kutub."
"Irene..." Ivone menatap Irene tidak suka.
"Haha, maaf kak aku kan hanya menyampaikan penilaianku saja." Irene terkekeh. Kalau di pikir-pikir kalian memang sama kak. Kalau kalian bersama atau pacaran kalian akan ngapain ya, apa hanya diam-diam saja. Irene semakin terkekeh dengan pikirannya sendiri.
__ADS_1
"Irene kamu mengganggu kakak." Ivone meletakkan pensilnya dan melipat tangan.
"Maaf kak, silahkan lanjut pekerjaan kakak. Aku akan diam dan duduk manis disini. Selamat bekerja kak Ivone." Irene langsung mengunci rapat mulutnya.
Irene mengingat pesan sekretaris Sam. Bagaimana bisa dia memintaku mengubah kecepatan mengetik dalam seminggu. Apa dia tidak waras. Kecepatan mengetikku kan sudah tergolong cepat. Sudah di atas rata-rata, bahkan aku sudah bangga. Aku penasaran dia mengetik seperti apa...
Hari demi hari dilalu Irene dengan rasa cemas. Dia sudah tau apa bahasa spanyolnya pagi, siang, dan malam dan sedikit kata-kata yang di pakai sehari-hari. Dia mencemaskan kecepatan mengetiknya. Dia belum bisa mengetik sampai menjadi seratus kata per menit. Ini konyol. Sepertinya dia hanya bercanda dengan kata-katanya itu. Buktinya sampai sekarang perusahaan itu tidak menghubungiku. Mungkin saat itu dia menolakku dengan cara seperti itu. Tapi seharusnya kalau mereka tidak suka denganku tinggal bilang saja kan. Dia berjalan mondar mandir di kamar. Dia memilih tinggal di apartemen beberapa hari ini agar bisa konsentrasi mempelajari bahasa spanyol dan mengubah kecepatan mengetik.
Irene kembali mendudukkan bo****nya di tepi ranjang. Dia kembali meraih laptop dan mulai mengetik. Entah kenapa walau tidak mendapat kepastian Irene masih saja belajar mengetik.
Hari ini hari minggu. Irene semakin yakin kalau dirinya di tolak oleh perusahaan Central Group. Buktinya tidak ada kabar dari perusahaan itu. Sudahlah, aku akan melamar kerja di perusahaan lain. Nanti aku akan membeli surat kabar.
"Kakak hari ini kemana?"
"Tidak kemana-mana. Kakak mau bersantai saja di apartemen. Seminggu ini orderan lumayan banyak yang menguras tenaga dan pikiran. Kamu mau kemana?"
"Aku mau jalan-jalan ke taman kak. Kakak mau ikut?"
"Kakak malas, kamu saja."
Irene mengganti celana pendeknya yang memperlihatkan paha mulusnya. Dia juga memakai sweater tipis berwarna peach sangat cocok dengan kulit putihnya yang bersih.
Sampailah di taman. Dia duduk di bangku taman persis dua minggu lalu dimana dia bertemu dengan remaja si penjual koran. Irene memperhatikan sekelilingnya berusaha mencari remaja itu. Irene sudah lama menunggu sambil menikmati keindahan taman yang ditumbuhi bunga-bunga tapi remaja itu tetap saja tidak nampak. Lebih baik aku membeli koran di tempat lain saja. Irene beranjak. Tiba-tiba ponselnya bergetar, panggilan dari nomor tidak di kenal.
"Halo."
"Halo nona Irene, selamat pagi. Mulai besok anda bisa bekerja di perusahaan Central Group. Mohon untuk tidak datang terlambat di atas jam delapan. Saya harap nona sudah selesai mengerjakan pr yang saya beri. Sampai bertemu besok, selamat pagi.." Tuuut..tuuut.. tuut.
"Haahh, aku kenal suara itu." Sekretaris kutub. Dia berbicara dan menutup telepon sesukanya. Dia tidak mengijinkan aku berbicara selain mengucap kata haloku tadi.
Irene yang awalnya kesal berubah jadi bersorak bahagia. Dia tidak memperdulikan orang-orang yang mulai berdatangan ke taman. Dia berlari kecil ke apartemen. Ivone harus menjadi orang pertama yang mendengar kabar baik ini darinya. Perasaannya tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Dia bahkan sampai menitikkan air mata sangkin bahagianya.
__ADS_1