
Irene kini sudah berdiri lagi di depan gedung tinggi menjulang ke langit nan mewah Central Group. Hari ini hari pertamanya bekerja. Penampilannya sudah sangat oke menurutnya. Kemarin setelah acara peluk-pelukan dan hore-horean bersama Ivone, Ivone segera mengajak Irene shopping kecil-kecilan. Tentu saja Irene tidak enak hati menghabiskan uang kakaknya terus. Irene hanya membeli beberapa sepatu kerja, aksesoris rambut, anting-anting, gelang cantik, make-up, beberapa potong pakaian. Dan sekarang barang-barang baru itu sudah menempel di tubuhnya.
Irene berjalan dengan senyum bahagia. Dia melirik jam tangan imutnya, masih ada sepuluh menit lagi pikirnya. Dia hendak di hadang oleh security-security berbadan kekar, tiba-tiba seseorang keluar dari pintu putar.
"Biarkan nona ini masuk! Mulai hari ini dia adalah sekretaris tuan muda."
" Maaf, kami tidak tau sekretaris Sam. Silahkan nona.." Security-security itu menundukkan kepala dan memberi jalan.
Yakkk, tuan kutub ini benar-benar tampan dan gagah. Kali ini aku benar-benar berani menatapnya. Apa dia ini mau menyambutku??
"Mari nona, silahkan.."
"Ehh ia, maaf tuan." Kenapa aku bengong sih.
Irene menurut saja mengekor di belakang. Semua karyawan menunduk hormat kepada sekretaris Sam sambil melirik misterius ke arah Irene. Sekretaris Sam membawa Irene ke dalam lift dan menekan nomor lantai tujuan, hanya mereka berdua yang ada di dalam. Lift bergerak, tidak ada yang berbicara. Hanya suara nafas mereka yang terdengar.
Mereka sampai di lantai 50. Irene belum pernah ke lantai ini sebelumnya. Kakinya sedikit gemetar karena ini pertama kalinya dia menginjakkan kaki di lantai setinggi ini.
Sekretaris Sam membawa langkah kaki Irene menuju ruangan terbuka. Desain interior ruangan itu sangat mewah menurut Irene. Meja kerja yang besar dan bulat, lampu raksasa yang tergantung, ada juga bunga anggrek putih di atas meja kecil di samping kursi kerja. Di depan meja kerja ada sofa menempel di dinding yang pastinya empuk, di belakang kursi kerja ada susunan buku dan dokumen-dokumen penting. Dan yang tidak kalah menakjubkan di sebelah kanan meja kerja terdapat kaca besar yang menembus pandangan ke luar angkasa. Irene sangat takjub di buatnya.
"Nona Irene, ini ruang kerja anda. Semoga anda nyaman."
"Terima kasih banyak tuan. Saya sangat suka ruangan ini." Ekspresi Irene memang terlihat sangat bahagia.
"Saya tinggal dulu." Sekretaris Sam masuk ke sebuah ruangan.
Irene menelan ludah berkali-kali. Ia duduk di sofa sambil menatap kagum ruangan itu. Beberapa saat kemudian sekretaris Sam datang sambil membawa dokumen. Irene refleks berdiri.
"Tolong anda mengerjakan dokumen ini di Microsoft Excel dalam 30 menit." Sekretaris Sam menyerahkan dokumen itu.
"Ruangan ini sekarang adalah ruang kerja anda. Mohon anda jangan sungkan. Jika anda mau menanyakan sesuatu atau butuh sesuatu bisa menekan nomor XX melalui telepon kerja anda disana. Nomor itu akan tersambung ke meja kerja saya."
"Baik tuan." Irene
"Nona, jangan memanggil saya tuan. Anda bisa memanggil saya sekretaris Sam sama seperti yang lainnya."
__ADS_1
"Baik sekretaris Sam." Anda juga sebaiknya jangan memanggil saya nona.
Sekretaris Sam berlalu.
Irene menuju kursi kerjanya. Nyaman sekali. Tadi dia menyuruhku mengerjakan dokumen ini. Gila, ini sungguh gila. Dokumen ini isinya banyak dan dia hanya memberiku waktu 30 menit. Apa dia sedang menguji kecepatan mengetikku? Ya dia pasti sedang mengujiku. Aku kan belum bisa secepat yang dia mau.
Irene mulai berkutak dengan keyboard laptop yang sudah tersedia di meja kerjanya.
Tiga puluh menit kemudian.
Sekretaris Sam keluar dari ruangannya.
"Anda sudah menyelesaikannya nona?"
"Maaf tuan masih tersisa lima belas lembar lagi." Jawab Irene tertunduk setelah menghitung sisa lembaran dokumen. Padahal dia sudah berusaha sekuat mungkin untuk menyelesaikannya.
"Baiklah. Saya akan berbaik hati memberikan anda waktu empat hari lagi mulai hari ini. Pergunakanlah waktu itu dengan baik nona. Tuan muda tidak suka dengan orang yang kerjanya lelet. Ini agenda rapat nanti. Silahkan anda pelajari. Sepuluh menit lagi kita akan ke ruang rapat." Irene menerima agenda itu.
Apanya yang berbaik hati. Ini namanya penyiksaan. Apalagi hanya di kasih waktu empat hari.
"Nona, ini name tag anda." Sekretaris Sam menyerahkan benda itu. "Mulai sekarang dan seterusnya anda sudah bisa mengatur jadwal tuan muda untuk minggu depannya."
"Baik saya mengerti. Tapi saya ada pertanyaan sekretaris Sam?"
"Katakan nona."
"Maaf, tuan muda itu yang mana sekretaris Sam?" Tanya Irene karena sejak tadi ruangan yang bertuliskan Ruang Presiden Direktur di sebelah kiri meja kerjanya tertutup rapat tidak ada orang yang keluar dan masuk.
"Ah iya saya belum memberi tahu anda. Tuan muda sedang di negara XX. Dia ingin turun langsung ke perusahaan disana dan membereskan kekacauan yang ada.
"Seperti itu ya Sekretaris Sam."
"Apa ada pertanyaan lagi nona?"
"Tidak sekretaris Sam, terima kasih." Untuk saat ini saya belum berani banyak bertanya sekretaris Sam. Walau di kepalaku ini banyak sekali pertanyaan terutama mengenai anda yang mengenal saya.
__ADS_1
"Anda boleh pulang sekarang nona. Waktu jam kerja sudah selesai. Jangan lupakan pr anda." Sekretaris Sam pergi lagi ke ruangannya.
Ahh anda selalu memperingatkan saya pr itu sekretaris Sam.
Di apartemen
"Bagaimana hari pertama kamu kerja Irene?"
"Lumayan lancar kak. Semua karyawan di perusahaan itu sangat sibuk dan telaten di bidangnya masing-masing." Membayangkan kembali bagaimana sibuknya orang-orang di perusahaan tadi.
"Kamu juga harus bisa seperti mereka." Ivone sambil memasak makan malam.
"Aku pasti bisa kak."
"Bagaimana kakimu? Apakah lecet lagi?"
"Iya kak, aku sudah mengoles salep yang kakak beli dulu."
Irene mengambil ponsel dari dalam tas kerjanya dan menghubungi seseorang.
"Halo paman selamat malam. Bagaimana kabar paman dan bibi dan juga Tia?"
"Kami baik-baik saja. Kabarmu dan Ivone bagaimana?"
"Kami luar biasa baik paman. Iya paman aku mau kasih tahu kalau sekarang aku sudah di terima di perusahaan ternama." Irene girang mengabari.
"Syukurlah, selamat ya nak. Paman sangat bahagia mendengar berita bagus ini. Nanti kalau ada waktu senggang kami akan berkunjung kesana."
"Iya paman, ini semua berkat doa-doa paman dan bibi yang tiada henti."
"Kamu semangat kerja ya Irene."
Panggilan pun berakhir setelah beberapa lama bercakap-cakap.
Setelah makan malam Irene langsung mengambil laptop. Dia harus bisa menyelesaikan pr nya. Dia tidak mau diperingati lagi soal kecepatan mengetik. Irene sungguh bergiat menguasai itu, sampai-sampai dia tertidur didepan laptopnya.
__ADS_1