
Hari yang ditunggu-tunggu sekaligus mendebarkan bagi Irene pun tiba. Kini dia sudah berdiri di depan perusahaan megah mencakar langit terpampang nyata di hadapannya. Dari luar gedung saja aura mencekam sudah terasa. Kali ini jantung Irene lebih berdegup hebat ketimbang saat dia menjadi anak magang dulu.
Irene tenang, kamu hanya wawancara bukan untuk perang antara hidup dan mati. Batinnya. Dia menarik nafas sangat panjang berkali-kali dan mengeluarkannya pelan-pelan mencoba menenangkan diri, bibirnya tersenyum.
Dia melangkahkan kakinya setapak demi setapak. Dia sudah melewati pintu utama gedung itu dengan penjagaan yang sangat ketat. Ya para satpam itu menanyakan tujuan Irene, memeriksa tubuh dan menggeledah isi tasnya. Dulu saat dia magang tidak begitu amat. Gila, belum juga masuk aku sudah diintimidasi begitu, aku ga boleh ciut. Dia menghampiri resepsionis.
"May i help you?" Receptionist.
Hah, pakai bahasa inggris?
"Would you please show me where i can take the interview?" Irene
"Ahh, you are one of them. You have to take the elevator to the second floor. Then turn right, there is the writing of the meeting room."
"Thank you." Irene sedikit menundukkan kepalanya.
"You're welcome. Good luck." Resepsionis itu tersenyum.
Apa wawancara juga pakai bahasa inggris? Atau bahasa perancis? Atau bahasa spanyol?
Semoga saja tidak bahasa spanyol, aku tidak menguasainya.... Perusahaan ini berhasil membuat aku tercengang atas sambutan luar biasa ini. Salah satu syarat dalam lowongan kerja kemarin itu minimal menguasai tiga bahasa asing dan Irene tidak bisa bahasa spanyol.
__ADS_1
Tok.. Tok.. Tok.. Suara high heels Irene terdengar cukup nyaring. Dia sudah sampai di depan ruang rapat yang dimaksud resepsionis tadi. Sudah ada belasan orang pelamar yang menunggu sama seperti dirinya. Dan masih ada juga peserta lain berdatangan dibelakang Irene. Irene menelan ludahnya melihat peserta yang bodynya tinggi, berpenampilan menarik dan cantik-cantik.
Irene kamu harus percaya diri. Apapun yang kamu lihat nanti anggap saja tidak ada. Jangan perdulikan hal-hal yang mengganggu kenyamananmu. Tetap fokuskan hati dan pikiranmu ketujuan utamamu. Kamulah yang terbaik. Itulah pesan Ivone sebelum Irene keluar dari taksi tadi.
Baiklah.. Irene menenangkan hati dan pikirannya.
Tiga orang datang dan mempersilahkan semua peserta untuk masuk dan duduk di ruangan itu. Tiga orang itu sepertinya bagian dari personalia. Mereka membagikan lembaran-lembaran kertas. Seperti ujian saja. Ini adalah interview secara tertulis. Tiga orang itu tadi sudah mengarahkan para peserta yang berjumlah sekitar 20 orang supaya wawancara berjalan lancar dan semestinya sesuai prosedur. Para peserta hanya diberi waktu 30 menit untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tertulis itu.
Tiga orang itu mengawasi mereka semua, seperti guru mengawasi murid-muridnya saat ujian. Bagi Irene pertanyaan itu bukanlah soal yang terlalu sulit. Dia sudah memprediksi akan ada soal itu. Pertanyaannya pakai bahasa indonesia bukan bahasa spanyol seperti yang dipikirkannya tadi. Dalam waktu 20 menit saja dia sudah selesai. Bagian personalia mengamati Irene dan tersenyum. Setelah 30 menit mereka semua harus mengumpulkan lembar jawaban.
Para peserta dipersilahkan keluar ruangan, istirahat ditempat mereka tadi sambil menunggu hasil seleksi wawancara mereka sekitar 15 menitan.
Sementara tiga orang tadi membawa hasil wawancara mereka kesebuah ruangan paling sudut lantai dua itu.
15 menitan berlalu. Salah satu dari tiga orang tadi datang lagi. Dia membawa map ditangannya.
" Maaf sudah membuat anda semua menunggu." Dia mengajak kembali peserta masuk ke ruang rapat. Peserta duduk dengan rapi. "Disini tertulis nama-nama yang terpilih dari hasil seleksi wawancara tadi. Bagi yang tidak tercantum namanya jangan berkecil hati. Mohon untuk tidak membuat keributan. Nama-nama yang terpilih adalah...
bla.. bla.. bla
bla.. bla
__ADS_1
bla.. bla
bla.. bla.. bla
Irene menggenggam kedua tangannya diatas meja oval raksasa itu, matanya terpejam, seluruh tubuhnya gemetar. Pikiran kemana-mana. Apa aku ada harapan?
"Dan terakhir nona Irene Lucia P."
Dia tersontak mengumpulkan kembali kesadarannya kealam nyata. Hah, benarkah aku lulus ditahap ini?
"Selamat untuk anda berlima yang saya sebutkan tadi. Hanya kalian berlimalah yang lolos ketahap selanjutnya. Dan untuk yang belum beruntung, silahkan meninggalkan perusahaan dengan tenang."
Irene sangat bahagia.
"Untuk anda berlima silahkan tunggu lagi sebentar di luar. Sebentar lagi atasan saya yang akan wawancara secara langsung." Dia pergi.
Atasan?? Apa bos perusahaan ini? Irene menelan ludahnya.
Mereka menunggu 2 menit, 5 menit, 10 menit. Dan tiba-tiba ada orang-orang berjas dan dua orang wanita datang, mereka masuk ke ruang meeting. Aura mereka sangat dingin membuat bulu kuduk merinding. Irene dan kandidat lain tanpa diberi komando langsung berdiri karena kedatangan mereka. Salah satu pengawas wawancara mereka tadi juga ikut masuk belakangan.
" Untuk nona bla bla bla, silahkan masuk." Si pengawas wawancara memanggil nama kandidat 1menit kemudian. Nona itu masuk.
__ADS_1
Begitu selanjutnya. Kandidat dipanggil satu per satu sesuai urutan nama yang dibacakan tadi. Irene berusaha mendengarkan dari luar. Percuma.. Ruangan itu sepertinya kedap suara.
Irene berusaha membaca wajah para kandidat atau lebih jelasnya saingannya yang keluar dari ruang meeting. Ada yang seperti menahan tangis, ada yang kecewa dan ada yang tersenyum puas. Wajahku nanti seperti apa keluar dari sana??