
Kurang dari dua minggu sekretaris Sam sudah kembali. Tentu saja dia sudah mengabari tuan Pandu dan juga Irene akan kepulangannya. Begitulah sekretaris Sam, dia selalu bisa diandalkan dalam mengurus masalah perusahaan bahkan dia mampu menyelesaikannya sebelum batas waktu yang ditentukan.
"Selamat pagi tuan muda, sekretaris Sam." Irene berdiri dari duduknya memberi hormat ketika melihat Pandu dan sekretaris Sam datang pagi ini.
"Saya sangat merindukan anda sekretaris Sam." Ucap Irene lagi sampai matanya berbinar menatap sekretaris Sam.
Anda seperti tata surya yang memberi kekuatan bagi saya. Begitu yang dipikirkan Irene.
Sekretaris Sam terkejut bukan main. Begitu pun Pandu. Sampai-sampai mereka menghentikan langkah, tak percaya Irene berbicara seperti itu. Sekretaris Sam hanya tersenyum, dia kebingungan mengapa Irene sampai bisa mengatakan itu.
Irene sangat senang sekretaris Sam akhirnya kembali juga. Mereka bisa bersama-sama menghadapi tugas gila dari Pandu.
Bagaimana tidak, dalam beberapa hari ke belakang Pandu menyuruh Irene membeli makan siang di restoran. Pandu sampai menyuruhnya tiga kali bolak-balik dengan alasan pesanannya tidak sesuai dengan yang dia inginkan. Dia juga tidak mau menggunakan jasa pengantar makanan, alasannya tidak percaya dengan orang lain. Takut kalau-kalau sesuatu ditambahkan kedalamnya. Padahal ujung-ujungnya dia makan di kantin perusahaan juga. Irene jengah bukan main.
Pandu juga pernah menyuruh Irene membuatkan teh sampai beberapa kali. Katanya takaran gulanya tidak paslah, kepanasan airnya terlalu dinginlah, warna tehnya terlalu gelaplah dan masih banyak lagi tugas konyol yang sepertinya di buat-buat. Irene mengumpat kesal saat itu dan itu membuat Pandu bersemangat mengerjainya.
Ya, Pandu memang sengaja memberi Irene tugas seperti itu karena Bastian beberapa kali mengajak Irene untuk makan siang bersama atau hanya sekedar bertemu.
"Kenapa dia merindukanmu?" Tanya Pandu geram setelah mereka berada di ruang presdir.
"Saya tidak tahu mengapa nona Irene mengatakan itu tuan. Saya juga terkejut." Jawab sekretaris Sam jujur.
"Jangan dekat-dekat dengannya, kalau tidak habis kau." Pandu mengancam.
"Baik tuan muda." Hanya itu yang terucap dari bibir sekretaris Sam. Dia semakin bertambah bingung dengan ancaman Pandu. Karena yang dia tahu selama ini Pandu sangat acuh terhadap Irene.
Sebenarnya ada apa ini?
Jadwal tuan Pandu hari ini salah satunya adalah meeting dengan perusahaan Rupwell Group, perusahaan Bastian. Meeting kali ini diadakan di perusahaan Central Group untuk mengesahkan produk baru yang akan dirilis. Jajaran penting lainnya juga ikut rapat termasuk para dewan direksi, manager dan lain-lain.
__ADS_1
"Kau tidak usah ikut. Diam saja disini." Perintah Pandu pada Irene saat dia dan sekretaris Sam hendak melangkah ke ruang rapat.
Eh ada apa ini? Akukan harus ikut rapat.
Tapi karena yang memberi titah adalah baginda raja Pandu, Irene tidak berani membantah.
Dan sekretaris Sam semakin bingung. Apa nona Irene membuat kesalahan?
Beberapa jam berlalu. Waktunya makan siang. Irene merasa sangat lapar karena tadi pagi dia hanya makan sepotong roti saja. Tuan Pandu dan sekretaris Sam belum selesai juga dengan meetingnya.
Baiklah, aku makan siang saja dulu. Toh ini memang waktunya jam makan siang, dia tidak mungkin akan memarahiku. Sekretaris Sam juga tidak mungkin akan membalas pesanku dengan cepat, karena dia pasti mensilent ponselnya disaat rapat penting begini.
Irene mematikan laptopnya. Dia membawa tasnya dan melangkah menuju kantin yang ada di lantai bawah.
Hal yang tak terduga terjadi. Saat Irene hendak melewati ruang rapat, ternyata rapatnya selesai dan orang-orang berhambur keluar.
"Irene, ini benaran kamu ya?" Om Bara papanya Bastian berjalan mendekati Irene.
"Bastian sudah bilang kalau kamu bekerja disini. Kamu hebat bisa bekerja di perusahaan besar ini." Puji om Bara sambil memeluk Irene.
Irene memang sangat dekat dengan om Bara. Bastian pernah mengajak Irene ke apartemennya dan memperkenalkan Irene dengan papanya saat berkunjung ke Inggris dulu.
Setelah mendengar cerita Irene yang tidak punya siapa-siapa di Inggris dan ditinggal pergi ayahnya mulai dari kecil, om Bara jadi iba dan dia mengatakan bahwa dirinya dan Bastian bisa menjadi keluarganya. Mulai saat itu mereka jadi sering bertemu kalau om Bara datang ke Inggris dan hubungan mereka menjadi dekat.
"Maafkan Irene tidak sempat berkunjung om, padahal Bastian sudah bilang om tidak sehat beberapa waktu lalu." Sesal Irene.
"Tidak apa-apa, om maklum kerja kantoran itu sangat sibuk. Tapi sesibuk apapun kamu, kamu harus jaga kesehatan. Jangan seperti om ya, sampai jatuh sakit karena kelelahan bekerja." Om Bara memberi nasehat sambil mengusap kepala Irene.
Irene hanya mengangguk, menikmati setiap sentuhan di kepalanya yang menurutnya seperti belaian kasih sayang seorang ayah kepada putrinya. Sudah lama dia tidak merasakan itu lagi.
__ADS_1
"Irene, kamu sudah makan siang belum?" Bastian yang sejak tadi diam ikut angkat bicara, dia menyentuh bahu Irene.
Deg. Otak Irene berputar seperti teringat sesuatu. Dia memalingkan wajahnya ke ruang pintu rapat. Dan benar, Pandu sedang berdiri di bibir pintu menatapnya seperti ingin menerkam. Cepat-cepat Irene melepas tangan Bastian dari bahunya.
"Maaf om, Bastian. Saya masih ada pekerjaan penting. Kapan-kapan akan saya sempatkan berkunjung ke rumah ya om."
"Baiklah, om tunggu kedatangan kamu. Kamu jaga kesehatan ya." Om Bara memeluk Irene lagi. Sementara Bastian terlihat sedih karena usahanya gagal lagi mendekati Irene.
Pandu dengan kecepatan langkahnya berjalan meninggalkan ruang rapat. Irene seperti biasa mengikuti dari belakang. Dan sekretaris Sam tentu saja mengantar tamu kehormatan ke lantai dasar.
Irene sepertinya makin hari makin terampil dengan urusan high heelsnya. Diawal bekerja dia kesusahan sampai kakinya memar-memar karena belum terbiasa. Dia sangat bekerja keras untuk lulus dalam tantangan ini. Dia bahkan sampai ikut rebutan diskonan high heels dengan wanita-wanita penggila fashion untuk menambah koleksinya. Dia rebutan pakai high heels loh. Haha, ada-ada saja. Salut buat kalian Irene-Irene yang lain di luar sana.
Kembali ke perusahaan.
"Masuk!!" Suara Pandu memburu.
Irene menurut. Menuruti apa yang dia katakan pasti akan menyelesaikan masalah seperti sebelum-sebelumnya. Begitu yang ditangkap Irene di kepalanya.
Pandu menerawang jauh keluar angkasa melalui kaca jendela di ruangannya. Kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celana. Irene menunduk berdiri tepat di belakang Pandu. Dia sudah tidak terlalu tegang dengan situasi begini karena mungkin sudah biasa kali ya.
Pandu menarik napas, membuangnya sambil memejamkan mata. Dilakukannya beberapa kali.
Suara ketukan pintu terdengar, dan tak lama pintu itu dibuka.
"Keluar kau Sam." Pandu yang tak menoleh sedikitpun sudah tahu kalau itu adalah sekretaris Sam.
Sekretaris Sam belum mengeluarkan suara apa-apa dari mulutnya sudah diusir. Dia menoleh ke arah Irene. Irene hanya mengangkat kedua bahunya seperti memberi tanda tidak mengerti apa-apa. Sekretaris Sam keluar dengan hati-hati tanpa menimbulkan suara.
"Kau ....!"
__ADS_1
BERSAMBUNG