Cerita Cinta Irene

Cerita Cinta Irene
Aturan baru


__ADS_3

Irene mengutuki dirinya dalam hati. Apa yang akan terjadi setelah ini? Apa kali ini karirku benar-benar akan berakhir. Pak Adrian kemana lagi, bukannya tadi dia bersamaku.


"Bastian, aku duluan ya. Sekali lagi terima kasih sudah memijat kakiku." Irene cepat-cepat memakai sepatunya.


"Kamu tidak makan dulu?" Nada suara Bastian lembut.


"Nanti saja." Irene mencoba melangkahkan kakinya pelan.


Eh, enakan kaki aku. Ga terlalu sakit lagi seperti tadi. Irene sumringah.


Dia berjalan tapi tak bisa secepat biasanya.


Ah itu pak Adrian. Sejak kapan dia sudah bersama tuan Pandu?


Irene mendekat, dengan hati-hati melangkahkan kakinya. Dia sudah membuka pintu mobil di samping kemudi hendak masuk ke dalam.


Kenapa pak Adrian hanya berdiri di luar?


"Kau duduk di belakang!" Perintah Pandu.


Bagaimana ini? Baiklah aku menurut saja.


Irene menutup pintu depan dan menggeser pintu belakang mobil dengan hati-hati, lalu duduk tepat di samping Pandu. Menuruti perintah sang presdir pasti akan lebih baik begitu yang dipikirkan Irene.


Lima detik, sepuluh detik Pandu menatap kesal Irene dengan mata elangnya. Irene hanya tertunduk meremas kedua tangannya, sudah tidak tahu sepucat apa wajahnya sekarang apalagi dengan jarak sedekat ini. Tubuhnya berguncang hebat. Dia sudah pasrah kalau dia dipecat.


"Tuan, saya." Mencoba memecahkan ketegangan. Pandu mendengus kesal.


Apa yang harus aku katakan biar dia tidak marah?


"Tuan, saya tadi hanya bermaksud makan siang. Tidak tahunya anda dan pak Heri dengan cepat membahas masalah yang ada. Saya minta maaf telah membantah perintah anda dan membuat anda menunggu." Irene menghadap kearah Pandu dan membungkukkan kepalanya berkali-kali. Semoga dengan begini dia tidak terlalu kesal lagi.


"Kau sepertinya senang sekali ya dikejar-kejar laki-laki. Sebenarnya apa tujuanmu? Apa kau mau membuat semua pengusaha duduk bersimpuh mengemis padamu?" Pandu mengeluarkan semua bom kecemburuan yang selama ini dia simpan.


"Maksud tuan apa?" Irene berusaha mencerna kata-kata Pandu di otaknya.


"Sudah lupakan. Bagaimana kakimu? Aku tidak mau reputasiku jelek karena kakimu. Nanti dikira orang aku mempekerjakan dengan paksa karyawan sampai pincang begitu." Padahal Pandu khawatir loh.


"Sudah tidak terlalu sakit tuan. Tadi saya bertemu Bastian, eh tuan Bastian di dalam. Dia memijat kaki saya."

__ADS_1


Pandu mengeram kesal. Aku tahu, aku lihat dengan mata kepalaku sendiri. Kenapa Bastian bisa dan aku tidak?


"Kenapa kau gampang sekali mau disentuh laki-laki?" Pandu menatap Irene tajam. Tidak suka dengan jawaban Irene barusan.


"Maaf tuan?" Irene mengeryitkan dahi tidak mengerti.


"Mulai sekarang aku tidak mau melihatmu berdekatan dan bersentuhan dengan orang lain, terutama laki-laki. Aku tidak mau beredar gosip di luar sana sekretaris Central Group adalah wanita yang mudah didekati dan disentuh oleh laki-laki. Itu akan merusak nama baik perusahaan." Pandu membuat alasan.


"Baik tuan." Alasan macam apa itu? Bukankah kalau bertemu klien laki-laki harus berjabat tangan?


"Kau ingat itu baik-baik! Dan ya, kau masih berhutang pertanggungjawaban padaku saat kau berani meneriakiku di kantor tadi. Kalau kau berani melanggar aturan yang kuberi, aku akan melipat gandakan pertanggungjawaban itu dan kau harus menurutinya." Pandu tertawa dalam hati mengingat wajah kesal Irene karena dia berhasil mengerjainya tadi.


"Iya tuan, saya akan mengingatnya."


"Bagus. Adrian, masuklah!"


Adrian masuk dengan membawa sesuatu di tangannya.


"Saya akan pindah ke depan tuan." Irene membalikkan tubuhnya hendak menggeser pintu mobil.


"Baru saja aku memberi perintah dan kau sudah lupa." Pandu mendengus kesal lagi.


"Apa kau mau memberi pertanggungjawabanmu sekarang?"


"Tidak tuan."


Akhirnya Irene duduk diam mematung di samping Pandu. Tidak berani melihat Pandu lagi. Sepanjang perjalanan dia bingung dengan aturan yang baru saja diberikan padanya.


Bukankah seorang sekretaris harus dekat dan ramah terhadap klien-klien perusahaan? Syukur kalau kliennya wanita. Kalau laki-laki?


Irene pusing sendiri. Tidak bisa berpikir dengan jernih karena perutnya sangat lapar.


Sementara Pandu senang di dalam hati. Setidaknya aku berhasil membuatmu selangkah lebih dekat denganku. Aku tidak mau api kecemburuan ini membakarku terus, karena rasanya sungguh tidaklah enak.


Tibalah mereka di kantor. Adrian juga ikut masuk.


"Kau bersamanya saja. Jangan lupa yang kuperintahkan tadi." Pandu mengancam Adrian. Irene semakin bingung melihat Pandu mengancam begitu.


"Baik tuan." Adrian menunduk patuh. Pandu pergi duluan.

__ADS_1


"Sekretaris Irene, berjalanlah senyaman anda. Tidak usah mengejar tuan muda. Ini perintahnya, silahkan."


Irene tambah bingung. Bukankah sekretaris harus selalu mendampingi atasan.


Irene berhenti. Dia menunggu Adrian yang ada beberapa meter di belakangnya.


"Pak Adrian, mari jalan bersama. Saya tidak nyaman anda berjalan di belakang saya. Kita ini kan sama-sama bekerja disini."


"Anda saja duluan sekretaris Irene. Saya mengikuti dari belakang saja."


Kenapa begini? Kenapa pak Adrian seperti memberi jarak? Biasanya dia tidak sungkan begini.


Sampailah di ruang kerja Irene. Adrian sibuk mempersiapkan sesuatu di atas meja dekat sofa.


"Sekretaris Irene, anda makan siang dulu. Dan ini juga ada minyak pijat."


"Eh, apa itu untuk saya pak Adrian?" Irene bingung sekaligus senang karena makanan sudah tersedia di depannya. Sebelumnya dia belum pernah diperlakukan seperti ini selama bekerja.


"Iya sekretaris Irene. Kalau begitu saya permisi dulu." Adrian hendak melangkah pergi.


"Tunggu pak Adrian. Apakah anda dan tuan Pandu sudah makan siang? Soalnya kita tadi di kafe hanya sebentar."


"Saya bisa makan siang di kantin. Tuan muda katanya tidak lapar. Kalau begitu saya pergi dulu sekretaris Irene. Permisi."


"Tapi ini banyak sekali pak Adrian. Saya tidak bisa menghabiskan ini semua. Anda makanlah bersama saya." Pinta Irene.


"Tidak sekretaris Irene. Saya ada yang harus diurus setelah ini. Anda makanlah." Bisa habis saya kalau makan dengan anda sekretaris Irene. Sepertinya tuan muda menyukai anda. Itu jelas terlihat ketika dia tadi marah besar pada saya karena membiarkan anda dengan tuan Bastian.


Adrian bergidik ngeri mengingat kejadian di kafe tadi. Pandu sampai mengancamnya kalau sampai kejadian serupa terjadi lagi. Namun dia bahagia karena tuan mudanya bisa jatuh cinta juga.


Irene langsung melahap makan siangnya yang menggugah seleranya itu. Dia tidak mampu berpikir lagi dengan perut yang lapar.


Sedangkan dari ruang presdir Pandu sesekali mengintip gerak-gerik Irene dari kaca.


Melihatmu makan seperti itu sudah membuatku kenyang. Pandu tersenyum tipis.


Semakin dia menyimpan rapat perasaannya pada Irene, malah semakin besar rasa itu tumbuh.


Irene selesai dengan urusan makannya. Dia berpikir sejenak.

__ADS_1


Apa pak Adrian yang membeli ini semua? Dan ini minyak pijat. Pak Adrian baik sekali. Aku harus mengucapkan terima kasih nanti. Tadi aku tidak kepikiran untuk mengatakannya karena lapar.


__ADS_2