
Sudah sebulan Irene bekerja di Central Group. Kemarin dia sudah menerima gaji pertamanya. Tidak ada kendala besar baginya selama bekerja.
Hari ini adalah minggu. Dia berencana untuk mentraktir Ivone, Tio, dan karyawan kakaknya. Dia ingin berbagi kebahagiaan dengan orang-orang yang di kenalnya.
Irene yang akan menentukan tujuan mereka kemana karena dialah bendaharanya. Sebenarnya Ivone tidak mau ikut tetapi Irene memaksa.
Irene mengajak semua untuk nonton bioskop. Irene juga yang memilih film yang akan di tonton. Mereka sudah duduk berjajar didalam, tak lupa popcorn ukuran sedang di tangan masing-masing.
Film di mulai. Penerangan sudah dimatikan dan suasana hening. Film berputar sesuai alur ceritanya. Semua penonton tertawa terpingkal-pingkal menonton kekocakan yang di buat para pemain film My Stupid Boss. Ya, mereka menonton drama komedi. Irene dan semuanya tertawa lepas sampai sakit perut, begitupun Ivone.
Film usai mereka semua keluar dengan teratur.
"Pemain utama tadi kan perannya biasanya selalu yang serius, cengeng, tegang. Aku ga nyangka ternyata mereka bisa juga berakting konyol begitu." Sanggah Irene masih tertawa mengingat film komedi tadi.
"Iya mba Irene, mereka yang biasanya berpenampilan cantik dan ganteng, bisa diubah jadi lucu begitu." Citra juga tertawa mengingat film tadi.
"Iya betul. Yang cowoknya yang lebih lucu. Perutnya buncit dan rambutnya itu lo, bikin aku ilfil." Timpal Anggi.
"Aku ga terima fans aku jadi kayak badut gitu.
Tapi ga apa lah, aku terhibur sih." Sita tak mau ketinggalan.
Mereka berempat tertawa lagi. Lupa sudah kalau Ivone atasan mereka juga ada diantara mereka. Sedangkan Tio dan Riko berjalan paling belakang. Mereka melupakan rutinitas kerja dan meregangkan urat saraf sejenak.
"Ayo kita ke kafe itu." Tunjuk Irene ke arah kafe dimana dia dan Ivone pernah makan gila di sana.
"Ini masih acara traktir atau bmm nih kak?"
Goda Tio.
"Tenang saja Tio, hari ini aku yang jadi bendahara ya." Tersenyum.
Gaji Irene sebenarnya tidak seberapa bila dibanding dengan karyawan senior lain di kantor karena masih dalam tahap training. Kebijakan di kantornya memang seperti itu.Tapi menurutnya gajinya itu sudah lumayan besar.
Mereka memesan makanan kesukaan masing-masing dan makan sambil mengobrol.
__ADS_1
"Kak Ivone, kata ayah saat cuti nanti dia mau berkunjung." Tio melihat ekspresi wajah Ivone sebentar, tapi wajah itu masih sama. Tio melanjutkan ucapannya lagi.
"Katanya saat dia datang nanti dia mau menagih janji kakak." Timpal Tio lagi.
Janji apa? Mana pernah aku bikin janji dengan paman.
"Sepertinya kamu salah Tio. Kakak tidak pernah bikin janji dengan paman." Ivone santai.
"Itu lo kak, jodoh yang.."
"Ahh paman itu.. Selalu saja ingat itu." Gerutu Ivone yang sudah tau kemana arah pembahasan Tio. Untung saja karyawan-karyawannya ada di meja lain, jadi tidak bisa mendengar percakapan mereka yang menurutnya sudah pribadi.
"Iya kak, benar kata paman." Irene juga membuka suara.
"Kalian berdua bikin kakak tambah pusing." Ivone jadi tidak berselera makan.
Bagaimana ini? Apa aku menyewa pacar pura-pura saja. Tapi kalau di suruh paman langsung menikah gimana.. Ah paman.
Ivone bangun dari duduknya. "Kalian lanjutkan makannya. Aku pergi dulu." Ivone langsung pergi tanpa membiarkan Irene dan Tio berbicara.
"Memang rumit ya percintaan itu." Irene.
"Eh apa kamu punya pacar Tio? Kok aku sampai lupa menanyakan hal sepenting ini, hhaha.."
"Apa kak Irene punya pacar?" Tio balik bertanya.
Irene langsung terdiam dari tawanya mendengar pertanyaan itu. Sepertinya dia sedang mengingat masa lalunya.
"Dulu aku hampir berpacaran. Tapi mungkin karena bukan jodoh dan karena fokus kuliah aku tidak terlalu memikirkannya. Hei curang, harusnya kamu dulu yang menjawab pertanyaanku."
"Aku juga sekarang tidak terlalu memikirkannya kak. Setelah kerja nanti baru ku cari. Wanita sedikit ribet." Tio terkekeh.
"Bukannya yang ribet itu laki-laki ya? Laki-laki meminta agar wanita yang di sukainya menerimanya. Saat seorang wanita sudah mulai membuka hati, tapi laki-laki itu malah pergi dengan wanita lain."
"Apa kakak lagi curhat sekarang."
__ADS_1
"Iya, haha.."
"Sepertinya kakak juga harus mencari pasangan mulai sekarang biar ga di tuntut ayah."
Tio benar. Aku ga mau sampai harus bersitegang dengan paman tentang hal ini.
Irene melihat ke meja karyawan kakaknya. Makanan merekapun sudah kandas tak bersisa. Irene mengajak semuanya untuk keluar dari mall besar itu. Ivone mengirim pesan kalau dia sudah pulang.
"Kita kemana lagi sekarang?" Tanya Irene karena hari belum memasuki petang.
"Kalau kita sih terserah yang traktir saja. Namanya juga gratis ya kita pasti mau-mau saja kemana pun itu." Citra meminta persetujuan teman-temannya dan mereka mengangguk setuju atas ucapan Citra.
Irene melihat ke seberang mall. Disana terdapat pasar malam. Walau namanya pasar malam, tapi pasar itu sudah buka mulai sore. Irene mengajak teman-temannya kesana.
Mereka akan memasuki rumah hantu, tentu saja setelah Irene membeli tiket masuk. Baru memasuki pintu masuk saja sudah membuat bulu kuduk merinding. Pencahayaan yang sangat redup menambah suasana seram. Tio dan Riko berjalan di depan dengan maksud melindungi para wanita. Tapi tetap saja hantu jadi-jadian muncul dari arah yang tak terduga. Teriakan terdengar disana sini. Yang memiliki riwayat penyakit jantung di larang keras datang kesini.
Mereka sudah keluar dari rumah hantu itu. Para wanita bersumpah tidak akan mau lagi masuk kerumah hantu. Walaupun tadi ada kejadian lucu, dimana Irene menarik rambut 'mba kunti' sampai lepas sampai membuat mereka yang tadinya ketakutan jadi tertawa. Mereka mengelus-elus dada biar jantung mereka kembali berdetak dengan normal.
Setelah merasa cukup tenang Irene mengajak mereka lagi menaiki wahana bianglala. Wahana ini memang menguji adrenalin. Siapa yang takut ketinggian tidak disarankan menaiki ini. Mereka semua mau. Ternyata mereka adalah muda-mudi pemberani pikir Irene.
Irene membeli lagi tiket masuk. Mereka sudah duduk di posisinya. Mereka duduk berpasang-pasangan. Irene dengan Tio, Citra dengan Riko, dan Anggi dengan Sita. Bianglala perlahan berputar keatas. Naik wahana ini tidak semenegangkan masuk ke rumah hantu tadi asal jangan phobia ketinggian. Bianglala berputar beberapa kali. Mereka melihat ibu kota yang sudah gelap dari atas. Pemandangan kota sangat indah pada malam hari bila di lihat dari atas wahana itu.
"Apa kalian mau lagi?" Tanya Irene setelah turun dari wahana.
"Nggak kak, aku mau pulang aja sekarang. Ada tugas kuliah buat besok." Tio
"Benar mba Irene, sekarang sudah malam. Kita pulang saja."
"Baiklah kita pulang."
"Mba Irene terima kasih banyak ya, hari ini kami benar-benar senang karena mba Irene."
"Sama-sama, kalian jangan sungkan gitu dong. Saya sudah anggap kalian teman baik saya."
"Sayang sekali mba Ivone pulang duluan. Padahal kita bisa seru-seruan bareng." Riko.
__ADS_1
"Dia ada urusan mendadak tadi, jadi dia harus pergi." Jawab Irene bohong. Dia tau kalau kakaknya itu sedang bad mood karena pembahasan tadi dan pasti tidak mau diajak naik wahana beginian.
Mereka semua naik taksi yang sudah di pesan Irene. Mereka menuju ke tujuan masing-masing.