
Peserta ke empat sudah keluar. Raut wajahnya tidak bisa dibaca sama sekali. Irene tentu saja deg-degan.
"Nona Irene Lucia P silahkan masuk."
Glekk. Irene berdiri memejamkan matanya sesaat. Irene melangkahkan kakinya masuk. Dia mengarahkan pandangannya ke seluruh orang yang ada di ruangan itu. Mereka duduk dengan sangat berwibawa.
"Silahkan duduk." Irene mengangguk dan berterima kasih.
"Benar dengan nona Irene Lucia P?" Tanya salah satu wanita yang duduk didepannya sambil memegang map coklat, sepertinya itu lamaran kerja Irene.
"Benar bu."
Tiba-tiba pintu ruang rapat diketuk dan dibuka oleh seseorang. Orang-orang berjas dan dua wanita itu dengan sigap berdiri dan memberi hormat. Irene dengan tanpa di perintah juga melakukan hal yang sama.
"Silahkan semua duduk dan lanjutkan!" Semua orang duduk termasuk Irene. Pria itu berdiri disisi paling kiri orang berjas tadi dan memperhatikan Irene yang ada didepan mereka.
Siapa dia? Apa dia bosnya? Yang sepuluh orang ini saja sudah membuatku gemetar di tambah lagi dia. Jangan pikirkan itu Irene. Irene buru-buru menenangkan hati dan pikirannya.
HRD1: "Apa yang memotivasi anda untuk bekerja dengan baik?"
Irene: "Saya tertarik dengan adanya tantangan, tanggung jawab yang meningkat, keterlibatan tim, interaksi interpersonal, kompleksitas tugas serta kesempatan belajar."
HRD2: "Kualitas apa yang menurut anda paling penting untuk pekerjaan sekretarial?"
Irene: "Kemampuan merencanakan dan mengorganisir, kemampuan komunikasi oral dan tertulis, kemampuan menjaga rahasia, kemampuan beradaptasi, inisiatif, kemampuan untuk di andalkan, akurasi dan perhatian."
HRD3: "Software apa saja yang anda kuasai?
Irene: "Microsoft Office dan Excel, Portable Document Format, Adobe Photoshop, Software Cloud Storage, Aplikasi chatting, Software Manajemen Email.
HRD4: "Apa yang paling anda sukai dan tidak sukai tentang pekerjaan sekretaris?"
Irene: "Saya paling suka bertemu dengan klien. Karena klien adalah orang dari luar perusahaan jadi saya mempunyai kesempatan belajar dari mereka untuk memperbaiki kualitas diri. Dan sampai sekarang saya suka semua pekerjaan sekretaris."
Percaya diri sekali nona ini, siapa sih dia? Dia tidak tau bagaimana gilanya tuan muda kalau sudah menyuruh ini dan itu.
HRD5: "Sebutkan kekuatan dan kelemahan anda jika anda terpilih menjadi sekretaris."
__ADS_1
Irene: BLA....BLA..BLA...BLA
HRD6: "Dokumen apa yang pernah anda kerjakan di Excel?"
Irene: BLA.. BLA.. BLA
HRD7: ...........................
HRD8: .................................
HRD9: ............................
HRD10: .............................
"Kami sudah cukup sekretaris Sam. Apa anda mempunyai pertanyaan lain?" Ucap salah seorang HRD.
Apa? Sekretaris? Ternyata bukan dia bosnya. Tapi auranya itu seperti bos. Lalu bosnya seperti apa? Tunggu, kalau sudah ada sekretaris kenapa mereka mencari sekretaris lagi?
Selama magang Irene belum pernah bertemu dengan pimpinan perusahaan. Dia hanya tau namanya saja.
"Bagaimana kecepatan mengetik anda?" Sekretaris Sam mendekati Irene dan berdiri di belakangnya.
"Bisakah dalam waktu satu minggu anda mengubahnya jadi 100 words per minutes tanpa ada kata yang salah?
Ini keterlaluan. "Akan saya usahakan tuan."
Sekretaris Sam berjalan ketempatnya semula.
"Apa yang akan anda lakukan jika atasan anda tidur atau bermalas-malasan padahal akan ada rapat penting yang harus di hadiri olehnya walau sebelumnya dia sudah memperingatkan anda agar tidak mengganggunya?"
"Tentu saja saya harus membangunkan dan memberi tahunya tuan." Irene menjawab sangat mantap.
"Apa anda tidak takut di marahi atau di pecat?" Sekretaris Sam mengeryitkan dahi dengan tatapan ragu.
"Itu sudah menjadi resiko saya tuan. Kelangsungan perusahaan berjalan lancar adalah prioritas utama saya."
"Siapa nama anda nona?" Sekretaris Sam belum melihat CV biodata Irene.
__ADS_1
"Nama saya Irene Lusia P, tuan." Sahut Irene.
"Tolong anda berdiri.." Irene mengikuti perintah. "Coba anda mundur dua langkah di samping kursi anda." Sekretaris Sam memerintah lagi dan Irene menurut saja.
"Berputar pelan-pelan." Kenapa dia menyuruhku melakukan semua ini? Irene
Dia tidak pendek dan tidak tinggi. Menarik lah. Tapi sepertinya aku pernah melihatnya sebelum ini. Sekretaris Sam
"Nona, apakah anda yang pernah magang di kantor ini di bagian administrasi?"
Ehhh, apa dia kenal aku? Tapi aku saat magang dulu tidak pernah bertemu dengannya. Sungguh aku sangat penasaran kenapa dia bisa kenal aku.
"Iya tuan." Kok anda tau.
Aku hampir terkecoh dengan poni anda itu nona. Dulu anda tidak berponi. Itulah sekretaris Sam si ingatan tajam. Kejadian 20 tahun lalu dia juga pasti mengingatnya.
"Baiklah nona terima kasih untuk wawancaranya. Anda boleh pulang dan menunggu kabar dari kami. Jangan lupa memperbaiki kecepatan mengetik anda. Selamat siang." Sekretaris Sam
"Terima kasih tuan, saya permisi. Selamat siang."
Irene keluar dari ruangan itu dengan mengerutkan dahinya seperti mengartikan semua kata-kata sekretaris itu. Di awal masuk ruang rapat tadi dia sangat takut dan gemetar, tapi setelah pernyataan terakhir dari sekretaris itu, apa artinya dia diterima?
"Ehh kamu mau kemana?" Tanya peserta pertama melihat Irene pergi tidak duduk seperti mereka.
"Mau pulang." Irene berpaling melihat mereka.
"Sepertinya kamu tidak lolos ya, kami saja di suruh menunggu." Membuat wajah kasihan padahal mah dalam hati bersyukur, kurang satu saingan pikirnya.
Irene mengeryitkan dahinya lagi. "Tidak lolos? Kita lihat saja nanti.." Irene tersenyum dan pergi meninggalkan mereka.
Sementara di dalam ruang rapat sekretaris Sam meminta CV biodata Irene. Dia melihat semua berkas-berkas lamaran kerja Irene. Ternyata dia selama ini kuliah di Inggris. Pantas saja aku tidak menemukannya. Tuan besar pasti sangat senang mendengar kabar ini.
"Kalian suruh saja mereka pulang. Masalah ini biar saya yang urus." Sekretaris Sam keluar membawa map lamaran kerja Irene. Mengeluarkan ponsel dari saku jasnya dan menelepon entah siapa.
Yang di tinggal di ruang rapat saling pandang. Baru kali ini sekretaris Sam turun langsung dalam menyeleksi karyawan baru. Wajar memang sekretaris Sam terlibat dalam hal ini, karena dia yang paling tau siapa yang pantas jadi sekretaris pimpinan perusahaan itu. Dia harus membuat tuan mudanya nyaman dan aman saat bekerja.
Kembali ke Irene. Dia sudah di dalam taksi. Dia tidak tau harus senang atau gundah. Kata-kata terakhir sekretaris Sam tadi harusnya bisa menjadi jaminan dia telah di terima. Tapi dia tetap membuat wajahnya tanpa ekspresi. Dia bingung.
__ADS_1
Terima kasih, kenapa dia berterima kasih? Seharusnya kan aku yang berterima kasih di beri kesempatan wawancara di perusahaan sebesar itu. Bahkan cabangnya juga ada di Inggris. Aku sampai merinding membayangkan saham perusahaan itu?
Irene bersyukur lagi karena wawancara lisan tadi pakai bahasa indonesia juga. Syukurlah bukan bahasa spanyol, pikirnya. Baiklah akan ku pelajari dasar bahasa spanyol. Setidaknya aku tau apa bahasa spanyolnya selamat pagi, siang, dan malam. Biar bahasa spanyol tidak terngiang-ngiang terus di pikiranku.