Cerita Cinta Irene

Cerita Cinta Irene
Pijatan


__ADS_3

Pandu berjalan secepat kilat meninggalkan


Irene yang masih menelepon. Dia begitu marah.


Dia bilang dia tidak menyukai Bastian lagi, itu tadi apa? Dia masih saja meladeninya. Wanita macam apa itu. Cih, murahan sekali.


Perasaan di lubuk hati Pandu semakin bergejolak. Entah perasaan apa itu dia tidak tahu. Tapi yang jelas dia benci kalau ada laki-laki mendekati Irene.


Irene berlari secepat mungkin mengejar Pandu yang sudah jauh.


"Ahh, sakit." Irene terjatuh. Dia memegang pergelangan kakinya yang keseleo.


"Ah bagaimana ini? Tuan Pandu tidak kelihatan lagi." Irene melepas sepatunya. Dia berusaha berjalan meski terseok-seok.


"Berani sekali kau membuatku menunggu!" Teriak Pandu setelah Irene masuk ke dalam mobil.


"Maafkan saya tuan. Tadi saya ada sedikit kendala." Irene berusaha bicara normal meski kakinya sangat sakit.


"Berani sekali kau membuat alasan." Pandu masih ketus.


"Maaf untuk kelancangan saya yang membuat anda menunggu tuan. Saya tidak akan mengulanginya lagi. Mohon maafkan saya." Irene menahan rasa sakit di kakinya.


Pandu diam bersender. Dia tidak ada niat untuk menjawab lagi. Memalingkan wajahnya keluar kaca mobil. Dan mobil mulai melaju.


"Sekretaris Irene kenapa dengan kaki anda?" Adrian memperhatikan Irene yang memegang pergelangan kakinya. Sebenarnya dia ingin bertanya sedari tadi karena Irene berjalan terseok-seok tetapi keburu Pandu yang bicara duluan.


"Ah, ini tadi saya terpeleset dan sepertinya keseleo. Sebentar lagi juga sembuh." Irene berusaha tersenyum.


"Tidak mungkin bisa sembuh kalau dibiarkan. Nanti yang ada malah bengkak. Kaki anda harus segera diurut sekretaris Irene. Sepertinya kaki anda keseleo lumayan parah sampai anda berkeringat begitu."


Kenapa dia bisa terpeleset? Pandu mulai gundah tapi tidak berani bertanya. Dia kan si tuan akut yang penuh dengan kegengsian.


"Nanti pulang kerja akan saya obati pak Adrian. Terima kasih untuk saran anda." Irene berusaha tetap tersenyum sambil sedikit-sedikit memijat kakinya.


Pandu ingin sekali menawarkan diri untuk memijat kaki Irene. Tapi apa itu tidak memalukan bagi dirinya. Sial!!


Mobil sampai ditujuan. Adrian dengan cepat membukakan pintu untuk tuan Pandu. Tapi sebelum dia keluar dia berbicara dahulu kepada Irene.


"Kalau kau tidak sanggup berjalan tunggu saja disini." Pandu.

__ADS_1


"Tidak tuan, saya harus ikut."


"Jangan membuatku terlihat buruk di mata orang lain. Nanti aku terkesan sebagai atasan yang tidak berperikemanusiaan terhadap bawahannya yang sedang sakit."


Bukan itu alasan yang sebenarnya. Pandu hanya tidak ingin pergelangan kaki Irene bengkak karena banyak berjalan.


"Adrian, kau temani saja dia. Aku bisa sendiri." Pandu melangkah masuk ke dalam kafe. Dia bertekad setelah urusannya selesai dengan pengacara, dia akan memanggil tukang pijat profesional untuk Irene. Aku harus cepat menyelesaikan urusan ini.


"Pak Adrian, kita masuk saja. Saya lapar dan anda juga harus makan siang kan. Mana bisa kita konsentrasi bekerja kalau perut lapar." Irene tersenyum.


"Tapi tuan muda menyuruh kita menunggu di sini sekretaris Irene." Adrian ragu mengikuti permintaan Irene.


"Sudahlah, kita kan tidak masuk bersama tuan Pandu. Orang-orang tidak akan tahu kita adalah bawahannya. Lagipula kita hanya makan bukan bekerja, tuan Pandu juga tidak akan marah kan." Bujuk Irene.


"Baiklah. Mari biar saya bantu." Adrian keluar dari kemudi dan membantu Irene untuk melangkah.


Tiba di pintu kafe Pandu melihat mereka.


Buat apa mereka masuk? Sudah kubilang diam saja di mobil, keras kepala sekali. Pandu mulai gusar takut kaki Irene semakin parah.


"Irene, kamu kenapa?" Tiba-tiba Bastian entah datang darimana sudah ada di depan mereka.


"Ayo duduk di mejaku saja. Pak bantu saya ya." Pinta Bastian pada Adrian. Mereka memapah Irene menuju meja yang dimaksud.


Panas, panas, sudah mulai ada yang kepanasan padahal AC sudah di setel dengan suhu yang pas di beberapa sudut ruangan.


Bastian mendudukkan Irene di kursi.


"Kenapa bisa seperti ini?" Tanya Bastian. Terlihat sekali wajahnya khawatir.


"Tadi aku terpeleset. Mungkin kakiku belum terbiasa dengan high heels."


"Sakit sekali ya?"


Irene hanya mengangguk. Bastian melepaskan jasnya dan menutupi paha Irene. Irene memakai rok kerja sebatas lutut. Dan kalau duduk roknya akan tertarik sedikit keatas membuat pahanya sedikit terlihat.


Bastian jongkok, meraih kaki Irene yang keseleo dan meletakkan di pahanya.


"Tahan ya, hanya sedikit sakit kok." Bastian tersenyum sambil menatap wajah manis Irene. Dia memulai pijatannya.

__ADS_1


"Aww, sakit Tian." Irene meringis dan tanpa sengaja meremas bahu Bastian. Wajah mereka berdekatan. Bastian hanya tersenyum.


Irene merasai setiap sentuhan pijatan yang diberikan Bastian. Sakit tapi enak. Itu yang dirasakan Irene saat dipijat Bastian. Irene memandangi wajah Bastian dari jarak dekat ini. Wajah laki-laki yang pernah dicintainya. Dan tanpa sadar Irene tersenyum. Bastian membalas senyuman Irene.


"Kamu mengingat sesuatu?" Bastian masih tersenyum sambil memijat pergelangan kaki Irene dengan hati-hati. Sepertinya pijatannya itu ditambah dengan aneka bumbu-bumbu cinta.


Irene mengangguk dengan malu-malu. Dan itu membuat Bastian gemas dengan muka malu-malunya Irene. Ingin sekali dia mencubit pipinya itu.


Tentu saja Irene ingat. Ini bukan yang pertama kalinya Bastian memijatnya. Saat di London dulu Bastian juga pernah melakukan itu.


Dulu saat di London mereka pernah atau bisa dibilang sering berlari pagi kalau mata kuliah sedang kosong. Mereka jogging sambil bersenda gurau malah dorong-dorongan manis. Dan tanpa disengaja Bastian mendorong Irene membuat kaki Irene tergelincir dari trotoar. Untung saja Bastian dengan cepat menarik tangan Irene, kalau tidak Irene pasti sudah mendarat di aspal. Dan hal yang sama dilakukan Bastian saat itu seperti sekarang ini, memijat kaki Irene dengan cinta.


"Bagaimana rasanya sekarang?" Bastian memutar pergelangan kaki Irene.


"Sudah enakan." Irene tersenyum bangga dengan hasil pijatan Bastian. Tangannya belum lepas dari bahu Bastian.


"Sejak saat itu aku jadi ahli dalam memijat. Kalau kamu perlu pijatan, panggil saja aku."


"Haha, kuakui pijatanmu memang hebat. Tanpa perlu belajar tapi kamu sangat mahir, sudah seperti tukang pijat profesional saja." Irene tertawa lepas menunjukkan wajah yang semakin manis. Wajah yang selama ini dirindukan Bastian.


"Ya kamu benar. Mungkin karena aku terlalu mencintaimu hingga menuntunku melakukan yang terbaik. Aku tidak mau kamu kenapa-napa." Ucap Bastian penuh cinta.


Deg. Irene tersadar. Wajah mereka sudah sedekat ini. Irene merubah ke posisi semula, melepas tangannya dari bahu Bastian.


"Tian, terima kasih."


"Jangan sungkan Irene. Aku malah tidak bisa melihat kamu kesakitan atau tersiksa."


Drrtt. Telepon Irene bergetar.


Tuan Pandu menelepon. Pertemuan dengan pengacara lancar-lancar saja kan?


"Halo tuan."


"Apakah saya mengganggu acara romantis kalian? Saya menunggu di mobil." Pura-pura Pandu sok berwibawa.


Tuuutt... tuut....


Apa dia bilang, acara romantis? Dia menunggu di mobil? Mati aku sudah membuatnya menunggu lagi.

__ADS_1


__ADS_2