
Tadi malam sekretaris Sam menelepon Irene ingin tahu keadaan perusahaan dan juga tuan muda. Sekretaris Sam terdengar menarik napas lega karena semua berjalan lancar. Baru kali ini dia meninggalkan Irene sendirian bersama tuan muda. Sekretaris Sam dan Irene harus bekerja sama mengemban pekerjaan supaya berjalan dengan baik.
"Tuan, ini jadwal anda hari ini." Irene menyerahkan jadwal itu.
Pandu hanya menerima tanpa melihat dan tanpa berkata apa pun pada Irene.
"Tuan, manager produksi yang dikirim beberapa waktu lalu ke negara X sudah tiba kemarin. Sekarang dia sudah ada di ruangannya." Irene memberitahu dengan hati-hati setelah Pandu selesai membaca jadwalnya.
Pandu menatap Irene dan segera berdiri dan melangkah pergi. Irene gelagapan. Raut wajah Pandu terlihat seperti memancarkan api kemarahan. Pandu yang biasanya dibukakan pintu tapi sekarang dia membuka pintu itu sendiri. Langkahnya besar-besar membuat Irene harus berlari dibelakangnya.
Bagaimana ini? Apa akan ada perang dunia ke dua?
Irene tidak berani berkata apa-apa di dalam lift. Bernapas pun dia hati-hati agar tidak terdengar. Padahal dia cukup terengah-engah mengejar langkah tuan Pandu tadi.
Suasana hati tuan Pandu sekarang seperti lava panas yang mengalir. Entah apa yang akan dilakukannya kepada manager itu.
Pandu menghentikan langkahnya di depan meja sekretaris pak Sandi, manager produksi yang akan ditemuinya. Pandu tidak melihat sekretaris manager itu di meja kerjanya. Kemana sekretarisnya jam segini? Pandu mengeram.
Pandu berjalan lagi, membuka pintu ruang manager produksi dan mendorongnya keras.
"Siapa yang tidak sopan dan berani masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu?!" Suara pak Sandi keras dan terdengar membentak. Pria paruh baya itu duduk di kursi kerjanya yang membelakangi pintu, dia tidak tahu siapa yang datang. Dan yang lebih gilanya dia sedang bercumbu mesra dengan sekretarisnya yang ada di pangkuannya.
"Cih, menjijikkan sekali." Pandu membuang wajahnya kasar setelah melihat hal tak senonoh yang dilakukan manager dengan sekretarisnya. Pandu mengepalkan tangannya. Dia ingin sekali menghajar manager itu dan menyeretnya keluar. Tetapi dia tidak ingin mengotori tangannya yang sempurna.
Mendengar pemilik suara itu, manager dan sekretarisnya menoleh. Si sekretaris buru-buru bangun, merapikan pakaian dan rambutnya yang sudah berantakan kemana-mana. Demikian juga dengan pak Sandi. Pak Sandi mendekat dan langsung berlutut di hadapan Pandu. Pandu masih jijik untuk melihat wajahnya.
__ADS_1
Ini di luar dugaan pak Sandi. Sebelumnya belum pernah Pandu datang sendiri kesana. Biasanya kalau Pandu ingin bertemu dengannya, sekretarisnya akan memberitahu dan dia sendiri yang akan menjumpai Pandu di ruangannya.
Irene diam seribu bahasa. Dia tidak menyangka hal memalukan seperti ini akan dia saksikan di depan matanya sendiri.
"Sebenarnya siapa yang tidak sopan?" Pandu berbicara dengan membara, masih tidak ingin memandang wajah yang sudah berlutut lemas di depannya.
"Maafkan perbuatan saya yang sudah tercela tuan muda, anda boleh tidak menggaji saya selama setahun atau dua tahun atau berapa lama pun yang anda mau. Saya mohon tuan untuk tidak memecat saya. Saya mohon maafkan saya tuan muda." Suara pak Sandi gemetar, mungkin sudah menangis dan tangannya dilipat di depan dadanya memohon.
"Berani sekali tikus got membuat pilihan denganku. Bahkan sampai kau mati bekerja di perusahaan ini tanpa digaji pun, aku tidak sudi." Amarah Pandu semakin memuncak.
"Ampuni saya tuan muda." Pak Sandi semakin terkulai lemah. Sekretarisnya sudah gemetar ketakutan dan berkeringat.
"Sam sudah memberitahuku tentang kekacauan yang kau buat di cabang perusahaan di negara X. Bagaimana mungkin aku masih harus mempertahankan penjilat sepertimu." Kali ini Pandu menatap tajam pak Sandi. Pak Sandi semakin membungkukkan kepalanya tak berdaya.
Aku sudah ketahuan duluan. Aku bahkan belum mendapatkan apa-apa. Seharusnya aku berpikir dua kali lipat sebelum melakukan ide gila itu. Aku memang bodoh sekali mengikuti kemauan wanita ini. Pak Sandi.
"Seharusnya kau bersyukur karena aku tidak melibatkan pihak yang berwajib dalam hal ini." Tambah Pandu lagi.
"Sekretaris Irene." Pandu membalikkan badan dan menatap Irene yang ada di belakangnya.
"Eh, iya tuan Pandu." Irene gelagapan menjawab.
Dia barusan memanggil namaku kan. Ini pertama kalinya dia menyebut namaku dengan bibirnya itu. Ternyata aku dianggap olehnya.
"Setelah ini hubungi pengacara perusahaan ini untuk menyita semua asetnya, termasuk rumah dan mobil dan yang lainnya. Pastikan kedua tikus berwujud manusia ini tidak berkeliaran lagi di perusahaan ini. Aku tidak mau melihat mereka lagi, bahkan aku muak hanya melihat barang-barangnya saja." Pandu masih menatap Irene.
__ADS_1
"Baik tuan muda." Irene.
"Jangan tuan muda. Mohon berbelas kasihanlah kepadaku dan keluargaku." Pak Sandi memohon dengan segenap keberanian dan dengan tenaga yang masih tersisa.
"Tutup mulut menjilatmu itu! Seharusnya kau berpikir sepuluh kali lipat sebelum kau mengambil tindakan." Pandu berteriak sangat keras.
"Ganti juga kursi itu. Kalau perlu dibakar. Aku sangat jijik melihatnya." Pandu menunjuk kursi kerja manager tanpa melihatnya dan kembali menatap Irene. Irene mengangguk mengerti.
Pandu melangkah ingin keluar, tetapi berbalik lagi dan menatap Irene.
"Pastikan juga tidak akan ada perusahaan besar lain yang akan menerima mereka. Kalau sampai aku tahu mereka bekerja di perusahaan lain, aku juga tidak akan segan memecatmu." Pandu pergi.
Glekk. Ini gilaa. Irene
Sekretaris pak Sandi langsung terkulai lemah di lantai. Suaranya sudah terdengar mulai terisak. Pak Sandi juga langsung terduduk. Tidak tahu seberapa sedih dan pucat wajah mereka.
"Maaf pak Sandi dan nona. Segeralah mengemasi barang-barang kalian dari sekarang. Kalian harus meninggalkan perusahaan dalam setengah jam ke depan. Jangan sampai tuan muda masih melihat kalian di sini."
"Sekretaris Irene, saya mohon agar anda membujuk tuan Pandu. Hanya andalah harapan kami." Pak Sandi memohon.
"Maaf pak Sandi, apa yang diucapkan tuan muda adalah keputusan akhir. Tidak ada kesempatan kedua bagi tuan Pandu. Anda pasti sudah tahu itu." Irene mengingat tentang aturan yang ditulis sekretaris Sam yang salah satunya adalah tidak ada kesempatan kedua bagi karyawan yang melakukan kesalahan walau sekecil apapun itu.
"Mohon untuk segera berkemas sebelum tuan muda semakin murka nantinya." Irene pergi.
Pak Sandi dan sekretarisnya benar-benar seperti disambar petir. Pak Sandi yang sudah bekerja selama belasan tahun tidak pernah menyangka akan di phk seperti ini.
__ADS_1