Cerita Cinta Irene

Cerita Cinta Irene
Melamar kerja


__ADS_3

Mulai dari perjalanan pulang sampai tiba di apartemen, Irene terus sibuk dengan laptopnya. Ekspresi wajahnya berubah-ubah, kadang tersenyum, tertawa, cemberut, dan kadang tanpa ekspresi.


Dia mengeluarkan semua ijazah, ktp, kk dan berkas lainnya dari lemari.


"Hm, besok aku harus memfotokopi ini, ini, dan juga ini." Irene bicara dengan dirinya sendiri.


"Kak, kantor polisi jauh ga sih dari sini?" Irene keluar dari kamar dan menemui kakak di sofa sedang sibuk dengan ponsel dan laptopnya.


"Ga jauh, jalan kaki 10 menit juga sampai. Perlu kakak antar?" Ivone masih fokus dengan laptop.


"Ga perlu kak, besok pagi aku sendiri yang kesana, sekarang sudah malam. Kak, kakak lagi apa sihh?" Irene


"Kerja." Ivone


Irene mengintip sedikit layar laptop tapi tidak berhasil melihatnya.


"Sudahlah, ini bukan bidang kamu." Ivone mematikan dan menutup laptopnya.


"Kakak kok gitu sih, aku juga kan mau tau." Irene


"Nanti juga kamu tau." Ivone beranjak.


Keesokan harinya Irene pergi ke kantor polisi mengurus SKCK, foto 3x4, 4x3, atau ukuran apapun itu sesuai permintaan perusahaan dan keperluan-keperluan lain yang berhubungan dengan syarat lamaran kerja. Setelah selesai dia pulang tak lupa dia juga membeli beberapa koran terkini agar banyak pilihan lowongan.


Dia tidak melihat Ivone di apartemen, padahal tadi sebelum pergi Ivone sedang mandi. Irene mengeluarkan ponselnya berniat hendak menghubungi Ivone. Tapi ada pesan masuk yang mengatakan bahwa Ivone sudah pergi kerja. Irene membatalkan niatnya.


Irene segera menyusun berkas-berkas lamaran kerjanya dengan rapi kedalam beberapa map warna coklat. Dia tidak hanya melamar di satu perusahaan,tapi ada beberapa. Tak lupa dia mencantumkan nomor ponsel.


"Semoga cepat di terima." Irene mencium map itu. Lalu dia beranjak lagi menuju kantor pos untuk mengirim lamaran-lamaran kerjanya.


Sudah lebih seminggu tapi belum ada juga perusahaan yang menghubunginya. Irene cemberut dan mulai sedikit kesal.


"Kak, gimana ini. Kok belum ada yang menghubungi aku ya?" Irene memutar-mutar sendoknya diatas piring yang berisi mie goreng sambil matanya menerawang jauh. Makan malamnya itu sama sekali belum dimakan.


"Duh Irene, ini sudah kesekian ratus kali kamu menanyakannya. Sabar ya baru juga seminggu, pasti beribu-ribu orang yang melamar kerja bukan hanya kamu saja. Cepat makan makananmu." Ivone


"Tapi kalau ga dipanggil-panggil juga bagaimana dong kak." Irene


"Besok kamu bikin lagi lamarannya, cari perusahaan lain, ok. Semangat!" Ivone menyemangati.


Baiklah besok aku akan membuat lamaran kerja lagi, semoga langsung ada yang panggil. Irene menghabiskan makan malamnya.

__ADS_1


Besoknya Irene pergi membeli koran lagi, kali ini dia berjalan santai menikmati keadaan kota yang sangat sibuk. Tentu saja sibuk, ini kan kota besar. Dia menarik nafas panjang sambil melangkahkan kakinya ke taman kota. Ya, taman itu tidak terlalu jauh dari apartemen kakaknya.


Ada pohon rindang yang dibawahnya terdapat bangku panjang, dia duduk disitu. Dia mengamati sekitarnya, hanya ada beberapa orang saja karena ini memang jam kerja dan jam sekolah. Jadi mustahil taman ini ramai pada saat sekarang.


Lalu dia membuka lembar demi lembar koran yang di beli tadi. Dia membaca satu per satu perusahaan yang membutuhkan tenaga kerja tapi tidak ada yang membutuhkan sekretaris. Dia mulai gusar. Huff sesusah ini ya cari kerja, apa kak Ivone dulu merasakan apa yang aku rasakan sekarang. Irene melamun bersandar menengadah ke langit.


Tiba-tiba ada seseorang menghampirinya dan membuyarkan lamunannya.


"Kak, mau beli korannya." Anak yang mau beranjak remaja itu menyodorkan satu koran kehadapannya.


Irene memperhatikan anak itu. Kalau dilihat-lihat dia kayak anak abege. Tunggu ngapain dia disini.


"Dik, ngapain kamu disini? Ga sekolah?" Irene menatap lekat wajah remaja itu.


Laki-laki remaja itu tersenyum.


"Sudah ngga kak."


"Oh sini duduk." Irene menepuk bangku sampingnya. Remaja itu pun duduk.


"Kok sudah ngga?" Irene makin menatap lekat lelaki itu.


Degggg.. Irene merasa tersentuh. Ia jadi ingin sekali memeluk kakaknya.


"Dik, kamu hebat sekali." Mata Irene berkaca-kaca. Kamu bahkan lebih hebat dari aku.


" Baru kali ini ada orang yang bilang aku hebat. Terima kasih kak."


Hah terima kasih? Kamu memang hebat dik, aku tidak ada apa-apanya dibanding kamu. Diumurmu yang masih segini kamu sudah mampu berpikir dewasa begitu.


"Jadi gimana kak, mau beli korannya?" Remaja itu menyodorkan lagi koran kehadapan Irene.


"Oh iya tentu saja." Irene mengambil uang disaku celananya.


"Ini kembaliannya kak."


Irene menerima dan masih menatap lekat wajah remaja itu.


"Koraannn.." Tiba-tiba ada yang memanggilnya dari seberang.


"Kak, terima kasih ya. Aku permisi dulu mau bekerja lagi." Remaja itu setengah berlari dan menyeberang jalan.

__ADS_1


"Ehh dik tunggu dulu, kita belum kenalan?" Tapi remaja itu tidak mendengarnya dan berlalu.


Irene menarik nafasnya sangat panjang. Baiklah aku harus semangat kayak si anak remaja itu. Dia saja bisa aku juga pasti bisa. Irene mengambil koran yang diletakkan remaja tadi disampingnya lalu pulang ke apartemen.


Di apartemen


Setelah makan siang Irene menyambar koran yang di beli dari remaja tadi. Perlahan-lahan dia mulai membaca dan sampai akhirnya..


"Central Group.." Irene kaget


Ya Central Group adalah tempat magang Irene dulu untuk menyelesaikan S1nya.


"Kenapa aku ga kepikiran kemarin-kemarin ya, ini kebetulan sekali mereka butuh sekretaris.. Baiklah aku akan membuat lamaran kesana." Irene semangat mempersiapkan segala sesuatunya dan langsung mengirimkannya.


Semoga rejekiku ada di Central Group.


Hari demi hari telah berlalu, namun panggilan belum ada juga.


"Irene, jangan cemberut gitu dong. Sana kamu mandi dulu." Perintah Ivone sambil menyiapkan makan malam. Irene beranjak ke kamar mandi.


"Kak, cari kerja ternyata susah ya." Irene sudah duduk di kursi meja makan.


"Susah-susah gampang." Ivone


"Maksudnya?" Irene


"Maksudnya nasib orang itu beda-beda Irene, ada yang langsung dapat kerja tanpa tantangan dan rintangan, dan ada juga yang harus melewati proses rumit. Dan kamu bukanlah keduanya." *Ivone


Berpikir*. "Bukan keduanya, maksudnya apa kak?" Irene


"Semenjak kamu melamar kerja kesana sini pikiran kamu hanya fokus kesitu tanpa memperdulikan keadaan sekitar kamu. Lihatlah dirimu, bernafas tapi tak bernyawa." *Ivone


Bernafas tapi tak bernyawa, aduh kak maksudnya apa sihh? Aku jadi pusing*.


"Kamu harus melibatkan Dia sang empunya hidup Irene. Jangan lupakan Dia dalam kondisi apapun kamu dan apapun yang kamu kerjakan."


Plaaak .. Kata-kata kak Ivone seperti menampar keras hatinya. Benar, akhir-akhir ini dia menjauh dari Dia sang pencipta alam semesta. Irene menghabiskan makanannya. Ia menghampiri kakaknya dan memeluknya erat-erat.


"Kak, aku menyayangimu." Irene setengah berlari ke kamar.


" Dasar gadis kecil ini."

__ADS_1


__ADS_2