Cerita Cinta Irene

Cerita Cinta Irene
Menangis


__ADS_3

"Pak, berhenti sebentar." Pinta Irene kepada supir taksi yang ia naiki. Taksi berhenti di bahu jalan. Irene keluar.


"Adik koran, kesini.." Irene melambaikan tangan dan agak berteriak. Laki-laki itu berlari mendekati Irene.


"Hai, kak. Kakak mau beli koran?" Tanya laki-laki beranjak remaja itu sambil ngos-ngosan.


"Nggak dik, nama kamu siapa? Kita belum sempat kenalan." Irene mengusap-usap punggung laki-laki itu.


"Dika kak." Sambil menghapus peluh di keningnya.


"Nama kakak Irene. Dik, sekarang kakak sudah dapat kerja dan itu berkat koran kamu yang kakak beli dulu. Kakak sangat berterima kasih. Ini ada hadiah kecil dari kakak, kamu terima ya.."Irene mengambil amplop dari tasnya.


"Apa ini kak?" Dika bingung.


"Hadiah kecil dari kakak. Kamu terima ya, semoga saja bisa bantu kamu."


"Beneran nih kak untuk aku?"


"Iya untuk kamu, kakak sengaja menyiapkannya loh."


"Baik, aku terima ya kak. Terima kasih ya kak." Dika menerima amplop itu walau sebenarnya dia tidak tau apa isinya.


Irene tersenyum menatap kepergian Dika.


Semoga saja bisa membantu sedikit ekonomi keluarga Dika.


Di kantor


Irene sudah membaca semua konsep aturan mengenai tuan Pandu, yaitu:


-Tuan Pandu suka semua makanan yang higienis tapi yang paling disukai adalah steak+kentang. Kematangan steak harus pas, tidak boleh sedikit saja kurang matang atau kelebihan matang. Dia tidak suka pedas.


-Warna kesukaan tuan Pandu hitam, putih dan biru.


-Kalau tuan Pandu bad mood, segera buatkan teh yang punya aroma menenangkan.


-Kalau tuan Pandu marah, jangan pernah sekalipun membantah kata-katanya.


-Tuan Pandu tidak suka di sentuh sembarang orang.


-Tuan Pandu tidak suka membahas masalah pribadi.


-Tuan Pandu tidak suka wanita yang tebar pesona.

__ADS_1


-Jadwal tuan Pandu ke barber shop setiap tanggal lima.


-Nomor telp dokter pribadi tuan Pandu 0123456789.


-Kalau tuan Pandu tertidur, longgarkan dasi dan lepas kancing kemeja paling atas.


-Jangan sampai tuan Pandu menelepon berkali-kali, karena kalau terjadi anda akan di sp 3.


-Tuan Pandu bla bla......


............................ sampai yang ke sekian ratus.


Aturan macam apa itu?


Pagi itu setelah mengantarkan tuan muda presdir ke ruangannya, sekretaris Sam meminta Irene untuk mengantarkan jadwal yang mulia hari ini.


"Kenapa bukan anda sekretaris Sam? Biasanya anda yang melakukannya."


"Nona harus memulainya mulai hari ini. Karena setelah makan siang nanti saya akan terbang ke negara XX dalam beberapa minggu ke depan."


"Apa?" Teriak Irene.


"Semoga anda sudah mengingat di luar kepala tentang aturan mengenai tuan muda. Silahkan nona, jangan sampai tuan muda menunggu dan datang kesini."


Glekkk, apa kiamat sudah dekat.


Irene cepat-cepat menyadarkan dirinya.


"Maaf tuan, ini jadwal anda hari ini." Irene menunduk sambil kedua tangannya menyodorkan map dengan masih gemetar.


"Bacakan." Pandu sama sekali tidak melirik Irene. Dia masih fokus pada ponselnya. Dia sendiri tidak terkejut ada suara wanita di ruangannya karena dia yang memerintahkan sekretaris Sam untuk berangkat mengurus suatu proyek di salah satu cabang perusahaan di luar negeri. Jadi otomatis Irene yang akan menggantikan sekretaris Sam.


"Baik tuan. Pukul sembilan anda akan rapat dengan komisaris, setelah itu rapat dengan dewan direksi. Siang nanti anda di undang untuk makan siang oleh pimpinan perusahaan Rupwell Grup dan membahas produk ponsel yang baru. Nanti malam anda juga di undang dalam peresmian hotel Mutiara. Itu saja jadwal anda hari ini."


"Baiklah, keluar." Pandu sama sekali tidak melihatnya lagi.


"Maaf tuan, ada beberapa dokumen yang harus anda tanda tangani. Akan saya ambilkan sebentar." Irene menunduk dan berjalan keluar mengambil dokumen yang di maksud di meja kerjanya.


Setelah mengetuk pintu lagi, Irene masuk dan meletakkan dokumen-dokumen penting. Irene menunggu. Pandu masih fokus dengan ponselnya.


Dia ini tuli atau buta.


"Kenapa kau masih berdiri disitu. Keluar."

__ADS_1


"Maaf tuan saya menunggu dokumen-dokumen itu untuk anda tanda tangani."


Pandu menatap Irene tajam, malah sangat tajam. Pandu menatap lagi ponselnya. "Aahhh sial, gara-gara kau aku mati." Pandu berteriak keras.


Memang apa yang ku lakukan sampai kau mati?? Jelas-jelas kau masih bernafas dan berteriak di depanku. Eh tunggu dulu..


Irene bergerak ke samping meja Pandu dan melirik ke arah ponsel yang masih di pegangnya.


"Kau sangat tidak sopan. Pergi dan menjauh." Pandu sangat kesal karena Irene berani mendekat ke arahnya.


Benar dugaanku. Hobi ini juga ada di lembaran yang diberikan sekretaris Sam.


"Tuan muda, saya mohon supaya anda menanda tangani dokumen ini. Dokumen ini sangat penting dan harus segera di serahkan kembali ke divisi administrasi, pemasaran dan keuangan."


"Siapa kau sampai berani mengaturku. Aku yang menentukan itu penting atau tidak."


"Saya memang bukan siapa-siapa tuan. Tapi saya mohon agar anda membaca dan menandatangani dokumen itu."


"Keluar..." Teriakan yang sangat keras sampai menggema di ruangan itu.


"Saya akan keluar kalau anda sudah menandatanganinya tuan." Nada suara Irene masih normal tapi sedikit gemetar seperti menahan tangis.


Wanita ini berani sekali membangkangku. Baiklah aku akan mengetes sejauh apa kau bisa bertahan jadi sekretarisku.


Pandu membaca dan menanda tangani semua dokumen. Irene mengambilnya dan menundukkan kepala lalu pergi keluar.


Di meja kerjanya dia menitikkan air mata. Baru kali ini ada yang membentaknya seperti tadi. Dia pergi berlari ke toilet untuk menenangkan diri. Setelah merasa tenang dia membasuh wajahnya agar tidak terlihat sembab.


Waktunya untuk meeting. Sekretaris Sam masuk ke ruang presdir yang terhormat sepertinya menjemput baginda raja. Benar saja, mereka berdua keluar beberapa saat dan Irene sudah menunggu di balik pintu.


Sekretaris Sam melihat wajah Irene.


Sepertinya anda baru menangis nona.


Meeting berjalan dengan lancar. Tuan muda Andrew Pandu Bagaskara memimpin rapat dengan penuh wibawa, cakap, tegas dan tidak berbelit-belit. Jiwa kepemimpinannya seperti sudah mendarah daging di tubuhnya.


Sementara Irene mencatat semua inti sari rapat itu.


"Nona, sebentar lagi hanya anda yang akan menemani tuan muda bertemu klien. Dan nanti malam ke acara peresmian hotel. Saya harap anda bijak menyikapinya." Sekretaris Sam memperhatikan wajah Irene yang tertunduk.


"Saya mengerti sekretaris Sam." Jawab Irene parau.


"Nona kalau anda ingin menanyakan sesuatu jangan sungkan kepada saya. Anda bisa mengirim E-mail atau menelepon saya saat saya tidak ada."

__ADS_1


"Baik sekretaris Sam, saya mengerti."


Anda tidak bisa menyembunyikan wajah sedih anda itu dengan baik nona. Bertahanlah menghadapi kegilaan tuan muda.


__ADS_2