
Irene mengikuti langkah kaki Pandu setengah
berlari sambil membawa proposal. Baru kali ini Irene ikut meeting di luar kantor karena biasanya sekretaris Sam lah yang diinginkan tuan Pandu menemaninya.Tuan Pandu sedikit terpaksa untuk mengikutsertakan Irene, 'ini keinginan tuan besar tuan muda' begitu yang di ucapkan sekretaris Sam tadi sebelum dia terbang.
Semoga tidak ada kendala nanti.
Mobil mewah nan indah sudah menunggu di depan lengkap dengan supir. Biasanya kalau ketemu klien di luar perusahaan, sekretaris Sam yang akan sekaligus jadi supir. Sekretaris Sam sebelumnya sudah mempersiapkan segala sesuatu dengan sempurna agar tuan muda merasa nyaman.
Supir yang gagah dengan sigap membuka pintu belakang mobil setelah melihat tuannya keluar perusahaan. Semua karyawan yang ada disana terlihat memberi hormat. Irene memilih duduk di samping supir, dia membuka pintu depan mobil sebelum supir menutup pintu tuan Pandu.
Klien sudah memberi tahu Irene bahwa mereka sudah sampai di restoran. Mobil melaju ke tujuan yang tidak terlalu jauh dari perusahaan.
Ruang privat dan tertutup sudah ditentukan klien demi kenyamanan rapat mereka nanti.
"Maaf Tuan Pandu, tuan kami sudah menunggu. Mari di sebelah sini." Seseorang mempersilahkan dan sepertinya sedari tadi sudah menunggu.
"Terima kasih." Irene yang menjawab karena Pandu diam membisu.
Irene melihat ke belakang merasa ada yang mengikuti mereka.
Apa mereka itu pengawal tuan Pandu? Apa semua bos harus dikawal? Horang kaya memang beda.
Pintu dibukakan. Orang yang sepertinya klien berdiri dan mengulurkan tangannya. Pandu menerima uluran itu tetapi mengerutkan kening karena bukan orang yang dihadapannya ini klien yang harus ditemuinya.
"Silahkan duduk tuan Pandu. Suatu kehormatan bagi saya bertemu langsung dengan anda. Saya menggantikan papa saya karena beliau sedang kurang sehat saat ini." Orang itu menjelaskan karena melihat wajah Pandu yang bingung. Dan dia pun hendak menyalami Irene tapi..
"Irene.. Ini benar-benar kamu?" Agak berteriak dan terkejut setengah mati.
Irene juga terkejut bukan main. Kenapa saat seperti ini sih aku ketemu dia? Dan yang paling membuat Irene geram, orang itu adalah klien mereka. Namun Irene segera sadar akan situasi sedang bersama siapa dan menyambut uluran tangan itu.
"Halo tuan Bastian. Senang bertemu dengan anda." Senyum Irene terpaksa.
Pandu kebingungan. Bagaimana bisa dia mengenal orang yang tidak kukenal??
Mereka duduk. Beberapa pelayan datang menyiapkan hidangan makan siang. Irene tentu saja sudah menjelaskan makanan seperti apa yang dimakan tuan Pandu kepada sekretaris Bastian tadi lewat telepon.
__ADS_1
Irene merasa tidak nyaman karena Bastian selalu memandanginya. Selesai makan mereka mulai membahas tentang produk baru. Irene juga memberi pendapatnya supaya produk hp itu disukai oleh semua orang. Bastian dan Pandu manggut-manggut mendengar penjelasan Irene tentang cara kerja fitur itu.
"Baiklah, saya setuju fitur itu ditambahkan di dalamnya. Bagaimana dengan anda tuan Bastian?" Pandu
"Saya juga setuju tuan Pandu. Ide Irene memang sangat memuaskan." Bastian dengan sadar memuji Irene.
Mereka terus membahas produk baru itu. Irene mencatat pokok-pokok hasil rapat sampai rapat usai.
"Saya sangat senang bisa bekerjasama dengan anda tuan Pandu. Anda sangat cerdas memberi gagasan."
"Saya juga senang berbisnis dengan anda tuan Bastian. Walaupun anda terlihat masih muda tetapi jiwa bisnis anda luar biasa sama seperti pak Heru, ayah anda. Semoga bisnis kita ini berjalan lancar."
"Seperti kata papa, bekerjasama dengan perusahaan Central Group adalah kesempatan luar biasa. Bisnis kita kali ini juga pasti berhasil, sama seperti sebelum-sebelumnya."
Mereka saling berjabat tangan mengakhiri rapat.
"Irene, aku mau bicara denganmu sebentar saja." Irene hendak melangkah keluar mengikuti Pandu tapi dicegah oleh Bastian.
"Maaf tuan Bastian, saya harus bekerja." Irene melepaskan tangan Bastian dari lengannya dan mengejar Pandu yang sudah jauh beberapa meter.
Irene tidak perduli ucapan Bastian. Dia terus mengejar Pandu. Dan Pandu mendengar itu tetapi terus saja berjalan karena menurutnya itu sudah masalah pribadi.
Di dalam mobil semua diam dengan pikirannya masing-masing.
Bagaimana bisa dia menyatakan cinta lagi setelah berkhianat? Dia benar-benar tidak tau
malu. Irene
Kenapa banyak orang yang suka dengannya? Pertama papa, si Felix, lalu Bastian. Aku ga tau apa si Sam juga suka atau ngga. Sebenarnya dia ini siapa? Pandu
Pandu sangat penasaran. Setelah sekretaris Sam pulang nanti, dia harus menanyakan hal ini. Tidak mungkin dia menanyakan langsung ke orangnya, karena dari awal hubungan mereka tidak baik. Dan lagi, mengingat watak Pandu yang dingin terhadap wanita mustahil dia akan berbicara duluan.
Mereka sampai di kantor. Sebenarnya jam kerja sudah hampir usai beberapa menit lagi. Tapi Irene memutuskan untuk membuat laporan hasil rapat hari ini. Dia tidak mau menunda kerjanya besok.
Irene belum melihat tuan Pandu keluar dari ruangannya. Irene sedikit memundurkan kursinya tanpa beranjak dan mencoba melihat kedalam ruang presdir melalui kaca.
__ADS_1
Kenapa dia mondar-mandir dan kelihatan bingung begitu?
Irene teringat dengan aturan yang diberi sekretaris Sam. Dia meninggalkan pekerjaannya dan pergi ke suatu ruangan. Beberapa saat kemudian dia membawa sesuatu di tangannya dan mengetuk pintu presdir.
"Masuk."
"Tuan, saya membawakan teh dan beberapa potong kue." Irene meletakkan nampan itu di atas meja. Kali ini dia tidak terlalu gugup lagi dan tangannya juga tidak gemetaran. Mungkin karena seharian ini dia terus bersama Pandu.
Pandu melihat yang dibawa Irene dan duduk di sofa nyamannya. Pandu menatap lekat Irene.
Sebenarnya kelebihannya apa sampai orang-orang menyukainya?
"Apa kau mengenal papa?"
"Tidak tuan, saya tidak mengenal orang tua anda." Jawab Irene jujur.
Lalu kenapa papa menginginkannya jadi sekretarisku kalau mereka tidak saling kenal?
"Bagaimana bisa kau jadi sekretarisku?" Lupa sudah kalau dia sedang menanyai seorang wanita. Menunggu sekretaris Sam pulang terlalu lama. Rasa penasarannya jauh lebih besar daripada gengsinya.
"Tentu saja saya membuat lamaran kerja dan mengikuti setiap proses yang sudah ditentukan perusahaan ini tuan."
Dia kenapa sih. Tentu saja aku mengikuti interview menegangkan itu. Mana mungkin aku dipungut di jalanan dan ditempatkan di tempat kerja sebagus ini. Irene
Ini makin bikin aku bingung. Sebenarnya pertanyaan terbesarku adalah kenapa kau bisa membuat orang-orang penting dan hebat menyukaimu??? Pandu
"Ya sudah, keluar sana." Kali ini Pandu mengusir dengan suara agak lembut.
"Baik tuan." Irene keluar setelah membungkukkan kepala.
Irene bernafas lega. Syukurlah, dia ga marah-marah lagi mengusirku.
Pandu mencium dan menyeruput teh buatan Irene. Dia menikmati setiap tegukan yang jatuh membasahi tenggorokannya.
Dia hendak mengambil jas yang ada di gantungan. Matanya tertuju ke meja kerja Irene melalui kaca. Dia melihat jam tangannya. Kenapa dia masih kerja? Ini sudah lewat satu jam dari jam pulang.
__ADS_1