Cerita Cinta Irene

Cerita Cinta Irene
Perjalanan ke kampung halaman


__ADS_3

Pagi-pagi sekali mereka sudah bangun. Mereka bersiap-siap mulai dari mandi, sarapan dan sedikit bersih-bersih apartemen. Irene membereskan kopernya yang dia bawa kemarin dan menyusun pakaian ke lemari yang sudah disediakan kakaknya. Tak lupa mereka membawa koper kecil yang isinya beberapa potong pakaian dan keperluan lainnya karena mereka akan menginap di rumah paman. Mereka naik taksi ke terminal, karena mereka akan naik bus menuju kampung halaman dimana mereka dilahirkan.


Ivone membeli karcis sedang Irene membeli beberapa camilan dan minuman ringan karena perjalanan panjang akan dimulai.


"Kak, aku kangen banget ke kampung. Bagaimana keadaan disana ya, masih kayak dulu atau sudah berubah?" Irene menatap keluar kaca bus setelah mereka duduk.


"Ya ada perubahan, ada beberapa gedung penginapan yang baru dibangun beberapa bulan yang lalu. Jalan juga bagus berkat kebijakan pemerintah yang sekarang."


Irene manggut-manggut mendengar penjelasan kakaknya. Bus pun meninggalkan hiruk-pikuk terminal, meninggalkan banyaknya pedagang asongan yang silih berganti keluar masuk bus.


"Kenalkan aku pacar kakak kapan-kapan ya."


"Uhuk.. Uhukk..." Ivone terkejut mendengar perkataan Irene sampai menyemburkan minuman yang dia minum dari kemasan.


" Irene, kamu pikir dengan tanggung jawab kakak terhadapmu kakak masih bisa mikirin hal semacam itu." Ivone menjitak lembut kepala adiknya lalu melap mulutnya dengan tisu.


"Kalau begitu mulai sekarang kakak harus memikirkan itu. Aku ga mau di cap sebagai penyebab kakak perawan tua." Jawab Irene enteng.


"Irene..." Ivone dengan refleks sedikit berteriak. Dengan sigap menutup mulut adiknya yang sudah lantang mengucap kata-kata seperti itu yang tanpa memperdulikan tempat. Ivone melihat situasi sekeliling, banyak yang memperhatikan mereka namun ada juga yang mengacuhkan. Ivone hanya tersenyum dan mengangguk kepada penumpang lain yang melihatnya.


"Irene, pelankan suaramu. Kamu benar-benar mau mempromosikan kakak sebagai perawan tua." Bisik Ivone kesal.


"Barangkali jodoh kakak memang ada di bus ini."


"Ahh kamu ini benar-benar ya, kamu mau bikin kakak malu."

__ADS_1


"Aku ga mau kakak berlama-lama sendiri terus. Begini saja, sekarang ini kan aku sudah ada disini, kakak mulailah membuka hati untuk laki-laki. Pikirkan juga masa depan kakak kak. Kakak sudah memenuhi tanggung jawab kakak terhadapku. Sekarang aku hanya tinggal mencari pekerjaan saja kak. Aku sudah menjadi wanita dewasa dan punya pendidikan sekarang dan itu semua karena kakak."


Ivone menarik nafas panjang. Apa yang dikatakan adiknya memang benar. Namun mendengar penuturan Irene hatinya teriris. Dia tidak mau mengalami nasib seperti ibu. Baginya semua laki-laki itu sama, tidak bertanggung jawab dan hanya mau enaknya saja. Mengingat ibunya dulu berjuang keras untuk kehidupannya dan adiknya tidaklah mudah. Enaknya hanya diawal pernikahan saja. Setelah memiliki anak dan tuntutan ekonomi yang semakin meningkat, maka laki-laki akan lepas tanggung jawab dan pergi. Begitulah yang dipikirkan Ivone.


"Kak, aku juga ingin melihat kakak bahagia. Sekarang aku sudah bahagia berkat kakak. Apalagi yang kakak khawatirkan." Ucap Irene lagi.


"Sudah, diamlah Irene." Ivone menyandarkan punggungnya dan memejamkan matanya.


Irene cemberut. Dia tahu membujuk kakaknya ini seperti meratakan gunung. Sudah berkali-kali dia menyinggung tentang laki-laki tapi kakaknya tidak pernah menanggapi serius. Tapi kali ini Irene tidak mau diam. Dia akan berusaha agar kakaknya luluh.


Perjalanan panjang memang sangatlah panjang. Setelah meninggalkan ibu kota dan mendekati tujuan, hal yang dikhawatirkan pun benar terjadi. Macet panjang di dua jalur. Kepolisian terpaksa harus melakukan sistem buka tutup jalan. Padahal kalau perjalanan normal hanya butuh waktu 3-4 jam saja. Ya, tujuan yang mereka tuju adalah objek wisata yang diminati banyak orang, wajar saja macet karena hari ini adalah akhir pekan.


Setelah menempuh perjalanan hampir 9 jam, merekapun sampai dirumah paman. Mereka memutuskan besok saja kemakam ibu karena mereka tiba sudah petang. Suasana masih sama terlihat asri dan udara sangat sejuk. Hanya ada sedikit perubahan, dinding rumah paman dicat menjadi lebih mencolok. Yang dulunya putih sekarang jadi kuning terang, biar lebih menantang katanya. Memang siapa yang mau ditantang ya?


"Irene, bagaimana kuliahmu dulu di luar negeri? Apa kamu suka kuliah disana?" Tanya paman setelah mereka makan malam dan berkumpul diruang tamu.


"Kamu memang cerdas nak, wajar saja kamu bisa kuliah disana." Timpal bibi sambil membelai rambut hitam Irene.


"Aku juga mau kuliah disana nanti ah, biar keren kayak kak Irene." Tia putri bungsu paman yang masih duduk di bangku SMP tak mau ketinggalan suara.


"Iya Tia, kamu pasti bisa. Semangat belajar ya." Irene menjawab sambil mengepalkan tangannya di dada. Mereka semua tertawa.


"Lalu apa rencana kamu selanjutnya? Apa mau ambil S3?" Tanya paman lagi.


"Ga paman, aku mau melamar kerja. Aku rasa dengan ilmu yang aku miliki sekarang sudah bisa memenuhi syarat. Aku ga mau lagi menyusahkan kak Ivone. Aku mungkin ga bisa membalas semua perjuangan kakak menyekolahkanku sampai kapanpun, tapi setidaknya mulai sekarang aku harus bisa berdiri di kaki sendiri." Irene menatap Ivone dengan penuh cinta.

__ADS_1


"Paman dan bibi bangga pada kalian berdua. Apapun rencana kalian kedepan paman dan bibi pasti selalu mendukung kalian seperti biasa." *Paman


Adik kecilku ini ternyata bisa membuatku terharu. Ivone*


"Dan kamu Ivone, paman pikir kedatanganmu kali ini akan membawa calon menantu."


Degg. Ah paman. Kukira dengan diamnya aku dari tadi, paman ga akan menanyakan itu. Tapi mana mungkin, paman kan ga pernah absen sama pertanyaan itu. Ivone


"Iya paman, nanti kalau sudah ketemu pasti kubawa kemari." Ivone


"Bagaimana bisa ketemu kalau tidak dicari." Mereka semua tertawa.


"Kalau dalam hal ini paman tidak bangga padamu Ivone." Paman geleng-geleng kepala. "Apa perlu paman turun tangan." Paman


"Tidak paman..." Suara Ivone keras. " Karena kemarin-kemarin aku hanya fokus untuk Irene, nanti setelah Irene dapat kerja aku akan memikirkannya."


"Jangan hanya dipikirkan tapi harus dicari. Garis bawahi kata DICARI Ivone. Mana ada pria langsung datang kalau hanya dipikirkan saja." Ucap paman tegas.


Ahh, kalau dalam hal ini aku selalu kalah adu argumen dengan paman. Kenapa sih manusia harus menikah??


"Sudahlah, kalian pergilah tidur. Kalian pasti lelah. Tapi kata-kata paman tadi tidaklah main-main Ivone. Pikirkan itu baik-baik." Paman pergi beranjak.


"Iya Ivone, apa yang dikatakan pamanmu benar. Itu semua semata-mata untuk masa depanmu. Tidak mungkin kan kalau kamu melajang seumur hidup." Bibi


"Iya bibi, mohon doanya ya."

__ADS_1


Mereka beranjak kekamar tidur dan merebahkan diri. Kata-kata paman barusan terngiang-ngiang di telinga Ivone. Dia tidak bisa tidur.


__ADS_2