
Jarak dari rumah paman ke makam ibu tidak terlalu jauh, hanya butuh waktu 10 menit naik kendaraan. Setelah membeli beberapa tangkai bunga, bunga tabur dan air mineral mereka menapaki pemakaman itu. Irene mulai terisak. Karena selama 2 tahun kebelakang dia tidak berjiarah, dia sangat merindukan ibunya.
Sesampainya di makam ibu, Irene langsung berhambur memeluk batu nisan ibu sambil sesenggukan. Ibu aku merindukan ibu, kira-kira begitu isi hati Irene.
Bibi memegang kedua pundak Irene, berusaha menenangkannya dan memberi sedikit kekuatan melalui sentuhannya. Sedangkan Ivone ada disamping batu nisan ibu yang sebelahnya yang juga mulai terisak.
Mereka mencabuti rumput ilalang yang tumbuh, menaburi bunga tabur, dan menyiram makam ibu. Ivone dan Irene memasukkan bunga tangkai ke dalam vas yang ada disamping kanan dan kiri nisan ibu. Lalu paman mulai membaca doa dan diikuti oleh mereka bertiga. Setelah selesai berdoa paman mengajak bibi menunggu di parkiran saja, membiarkan Ivone dan Irene sendiri.
"Ibu, apa kabarmu disana? Kuharap baik-baik saja ya bu." Irene menangis lagi.
"Bu, terima kasih banyak ya bu karena ibu memberikan aku seorang kakak yang seperti malaikat. Dia kakak yang luar biasa bu, dia ga pernah mengeluh didepanku walau sebenarnya aku tau dia capek, dia lelah. Tapi dia selalu terlihat kuat dan selalu menyemangatiku bu. Kakak tidak pernah menyerah walaupun itu diluar batas kemampuannya." Irene masih sesenggukan sementara Ivone juga mulai pecah tangisnya.
"Bu, mohon doa restu ibu ya, karena aku akan mencari pekerjaan. Aku sekarang sudah mendapat gelar S2 bu, dan itu semua karena kerja keras kakak. Dia sangat giat menyekolahkan aku bu, aku yakin ibu pasti melihat dari atas sana bagaimana kegigihan kakak menyekolahkanku. Ibu pasti bangga kan sama kakak, aku juga bangga sekali sama kakak bu." Irene menghapus air matanya.
"Ibu, sekarang aku sangat bahagia. Aku sudah menyelesaikan studyku dengan nilai yang sangat bagus. Semoga kedepannya lancar-lancar saja ya bu. Oh ya bu, aku juga berharap agar kakak juga bahagia untuk dirinya sendiri. Aku ga mau kakak hanya selalu memikirkan tentang aku. Ibu juga pasti mau melihat kakak hidup bahagia kan. Kita sama-sama berdoa untuk kakak ya bu." Irene masih berkata-kata meluapkan semua yang ada di hatinya.
Adik kecilku ini benar-benar banyak bicara sekarang. Curahkanlah semua isi hatimu Irene. Ibu pasti sangat menantikan kunjunganmu. Dan apapun yang kamu doakan semoga dikabulkan, amin.
Setelah beberapa waktu Ivone dan Irene meninggalkan makam ibu, mereka mengampiri paman dan bibi yang sudah lama menunggu di mobil.
Di rumah paman
Benar kata Ivone, disepanjang perjalanan kerumah paman sudah ada bangunan-bangunan baru. Pepohonan hijau masih banyak yang tumbuh, perkebunan teh juga terlihat sangat rapi di barisannya. Inilah kampung halaman mereka, tempat yang mengajari biar mereka bisa berdiri tegak setegar karang.
"Paman bagaimana kabar Tio, apa kuliahnya lancar di kota?" Irene menanyakan anak sulung paman.
"Dia baik-baik saja, nanti dia pasti berkunjung ke apartemen kalian." Mobil paman mulai memasuki pekarangan rumah.
__ADS_1
"Jam berapa kalian kembali ke kota?" Bibi
"Sekarang kami akan mulai berkemas bi, kalau kesorean takutnya kami terjebak macet lagi." Timpal Ivone yang sudah memprediksi.
"Ya itu bagus, tapi sebelum berangkat kalian makan sianglah dulu." Paman
Ivone dan Irene mempacking barang-barang mereka, lalu makan siang sesuai perintah paman. Paman memang begitu orangnya, tegas, berwibawa, karena paman seorang guru. Paman adalah saudara ibu satu-satunya, kehidupan Ivone dan Irene tidak lepas dari campur tangan paman.
"Ini, kalian bawalah bekal di jalan nanti." Bibi menaruh kotak kardus yang sudah di bungkus plastik diatas meja makan.
"Paman, bibi terima kasih banyak untuk kebaikan kalian. Dari kecil kami selalu merasakan kasih sayang kalian yang tak pernah putus. Kami merasa tidak seperti yatim piatu lagi." Ivone menatap paman bibi bergantian.
Paman menarik nafas panjang.
"Apa yang kamu bicarakan ini Ivone. Kita ini keluarga kandung, paman dan bibi dan sepupu kalian sangat menyayangi kalian. Sudah berapa kali paman katakan itu. Hiduplah dengan bahagia. O iya, paman dan bibimu menunggu kabar baik dari kalian."
Ivone dan Irene bangkit dari duduk. Mereka berhambur ke pelukan paman dan bibi, lumayan lama mereka berpelukan. Mereka akhirnya pamit pulang.
"Iya Tia, kamu rajin belajar ya. Nanti kakak juga bakal datang lagi kesini kok." Irene memeluk Tia.
"Paman, bibi mohon doanya ya supaya Irene cepat dapat kerjaan sesuai kemauannya." Ivone
"Iya itu pasti sayang, kalian harus saling mendukung ya. kalian juga harus saling melindungi satu sama lain. Kalau ada apa-apa langsung hubungi paman atau bibi." Bibi
Paman memasukkan koper ke bagasi dan duduk di belakang kemudi. Dia akan mengantar keponakannya ke terminal. Irene dan Ivone melambaikan tangan ke bibi dan Tia, sementara mobil perlahan mulai melaju.
Di terminal lagi
__ADS_1
Paman mengeluarkan koper dari bagasi. Sekali lagi paman memeluk Ivone dan Irene bergantian. Entah kenapa dia menitikkan air mata, cepat-cepat dia menghapus air matanya itu agar tidak dilihat.
"Ivone.. Irene.. jagalah diri kalian baik-baik. Di kota ada banyak kejahatan. Jagalah harga diri dan kesucian kalian. Berpacaran boleh, tapi jangan sampai terlibat pergaulan bebas. Doa paman selalu menyertai kalian." Paman mengecup kening mereka.
"Iya paman, kami akan selalu ingat pesan paman."
"Tunggu disini."
Paman pergi ke loket membeli karcis. Siang itu belum terlalu ramai tapi tidak sepi juga, semoga saja mereka tidak terjebak macet seperti kemarin. Mereka tidak naik kereta api karena sedang ada perbaikan rel. Padahal kalau naik kereta api pasti lebih cepat.
"Ayo paman antar ke bus itu." Paman menunjuk bus yang dimaksud.
Setelah menemukan nomor bangku Irene dan Ivone duduk. Paman memberikan karcis yang dibeli tadi.
"Kalian hati-hati dijalan ya." Paman
"Iya paman." Mereka mencium punggung tangan paman.
"Paman langsung pulang saja, 15 menit lagi baru kami akan berangkat.
"Baiklah, semoga sukses buat kalian." Paman
"Amin.. terima kasih paman."
Paman turun dan menuju mobil. Dia langsung pulang.
Irene mengambil laptop dari ranselnya,menghidupkannya, dan mensearching sesuatu. Ivone memperhatikan Irene dan melirik sekilas ke arah laptop.
__ADS_1
Ohh ternyata dia sedang mencari lowongan kerja. Baiklah kubiarkan saja dia, dia pasti tau apa yang harus dia lakukan.
Bus pun melaju meninggalkan kampung halaman. Kali ini perjalanan ramai lancar, tidak semacet kemarin.Mereka hanya butuh waktu 6 jam kurang sampai ke ibu kota.