Cerita Cinta Irene

Cerita Cinta Irene
Felix menyukai Irene


__ADS_3

Irene sudah menelepon sekretaris Sam melalui telepon kerjanya, namun tidak dijawab.


Apa sekretaris Sam ada di ruang presdir?


Irene harus berani mengetuk pintu itu untuk yang pertama kalinya. Dia menelan kasar ludahnya.


Tok.. tok.. tok.


"Siapa itu Sam? Berani sekali mengetuk ruang kerjaku." Pandu ketus karena selama ini tidak ada yang berani ke ruang itu selain sekretaris Sam. Bahkan OB sekali pun harus ada jadwal untuk membersihkan ruangan itu.


"Saya lihat dulu tuan muda." Sekretaris Sam bergegas membuka pintu.


"Maaf sekretaris Sam, klien sudah menunggu di ruang rapat." Irene menunduk saat pintu di buka takut bersitatap dengan yang punya mata elang.


"Terima kasih nona." Jawab sekretaris Sam sedikit berbisik.


Siapa itu Sam?" Pandu tidak melihat siapa yang datang karena dihalangi tubuh sekretaris Sam.


Sekretaris Sam berbalik dan menghampiri tuannya.


"Tuan, sekarang jadwal anda bertemu dengan tuan Felix. Beliau sudah ada di ruang rapat."


"Kenapa tidak bilang dari tadi." Pandu menjawab ketus dan beranjak dari kursi. Dia melihat sekilas Irene yang sudah tertunduk dari tadi di samping pintu luar.


Sekretaris Sam melirik Irene seperti berkata 'ayo nona, jangan mematung begitu'. Melihat lirikan itu Irene pun segera mengikuti di belakang.


"Hola Felix, has venido?" (hai Felix,kau sudah sampai)


"Hola Andrew, como estas?" (hai Andrew, apa kabar)


Mereka berdua berjabat tangan dan berpelukan.


"Estoy bien gracias." (aku baik-baik saja terima kasih)


Tuan Felix dan sekretarisnya juga menyapa sekretaris Sam. Tak ada yang dimengerti Irene sama sekali. Untuk menutupi kecanggungannya dia hanya mampu tersenyum.

__ADS_1


Pandu dan Felix adalah dua sahabat mulai dari mereka kuliah di Amerika. Persahabatan mereka tetap terjalin sampai sekarang. Mereka bekerjasama dalam beberapa proyek di berbagai negara. Walaupun mereka masih tergolong muda tetapi perusahaan mereka sukses dan memiliki cabang di hampir semua negara maju. Memang orang tua mereka lah yang merintis terlebih dahulu, tapi setelah mereka yang mengambil alih perusahaan berkembang sangat pesat.


Tuan Felix dan sekretarisnya lebih banyak tersenyum. Berbeda dengan tuan Pandu dan sekretaris Sam, mereka hanya tersenyum tipis yang hampir tidak terlihat.


Pemandangan ini berbeda sekali, bagaikan pelangi dan langit berpetir pikir Irene.


Setelah cukup lama berbasa-basi mereka akhirnya terlibat dalam pembahasan serius. Mereka membahas tentang proyek yang akan di bangun di Spanyol. Irene tau karena sekretaris Sam menyerahkan bahan yang dibahas.


Sesekali tuan Felix melirik Irene sedikit genit dan Pandu tau itu. Sebenarnya Felix orang yang tidak mudah tergoda, tetapi setelah melihat senyum manis Irene dia akhirnya luluh.


Acara rapat pun usai.


"Tieres una bella y dulce secretaria. Por que nunca me la presentaste?" Felix. (kau punya sekretaris cantik dan manis. Kenapa tidak pernah mengenalkannya padaku)


"Ella es mi nueva secretaria. Me acabo de enterar esta manana." Pandu. (Dia sekretaris baru. Aku juga baru tau tadi pagi)


Felix melongo tapi cepat-cepat tersenyum.


"Nuestra cooperacion en Espana, tambien trarga a esa bella secretaria. Quiero ir con ella." Felix. (kerjasama kita nanti di Spanyol, bawalah juga sekretaris cantik ini. Aku ingin kencan dengannya)


Pandu ingat betul kalau Felix sangat anti dengan wanita. Begitu pun sebaliknya Pandu tidak suka didekati wanita. Sifat mereka hampir sama tetapi Pandu lebih dingin dan arogan.


Pandu menatap tajam Felix. "Te gusta esta chica? En serio??" (kau menyukai gadis ini? kau serius??


"Por supuesto. Incluso quiero decir 'te amo'." (tentu saja. Aku bahkan ingin mengatakan 'aku mencintaimu'). Felix tersenyum semanis mungkin sambil menatap Irene. Yang di tatap juga tersenyum.


Mereka bertiga benar-benar seperti di sambar petir dengan semua pernyataan Felix. Felix yang baru pertama bertemu dengan Irene bisa secepat kilat luluh. Ini benar-benar sebuah keajaiban.


"Por que no la traes ahora?" Pandu. (kenapa kau tidak membawanya sekarang)


"No. Quiero hacer una sorpresa." Felix. (tidak. aku ingin membuat kejutan)


Pandu geleng-geleng kepala. Felix pasti serius dengan ucapannya. Dia tidak pernah sejauh ini membahas tentang wanita. Pandu melirik Irene, dia sedang membalas senyuman Felix yang sedari tadi tersenyum padanya.


Cihh, dia ini seperti wanita murahan. Dia senyum seperti itu karena tau Felix adalah pria mapan dan tampan dan menyukainya. Aku tidak akan tergoda dengan wanita sepertinya. Felix saja yang sudah buta tidak bisa membaca matanya yang matre itu.

__ADS_1


Padahal kebenarannya bukan seperti yang dipikirkan Pandu. Irene tersenyum karena memang wajib membalasnya demi kerjasama yang mulus. Irene hanya berpikir kalau mereka sedang membahas proyek penting .


Felix dan sekretarisnya pamit pulang. Mereka tidak bisa berlama-lama karena sehabis dari sini mereka harus terbang lagi ke negara XX. Felix memang bisnisman yang sangat sibuk sama seperti Pandu. Mereka bertiga mengantarkan klien mereka sampai ke pintu utama.


"Ms Irene, can I have your phone number? Felix.


"Sorry, don't you alredy have the company's telephone number and Sam's secretary?" Irene merasa risih atas permintaan Felix yang menurutnya sudah privasi.


"Did you forget my request earlier? I want to learn directly from you.


Sebenarnya apa yang dibahas mereka ini. Sekretaris Sam.


Sok jual mahal. Padahal itu yang di inginkan. Tapi baguslah biar dia cepat di lamar Felix dan pergi dari sini. Kasihan sekali si Felix, dia menyukai gadis matre ini. Pandu.


Sergio hanya senyum-senyum. Dia tau apa maksud tuannya itu.


Setelah Irene memberi nomor teleponnya, Felix dan Sergio pamit dan mobil membawa mereka pergi ke bandara.


Di dalam lift menuju lantai paling atas.


"Sam, aku lapar." Tuan Pandu hanya mengatakan itu dan sekretaris Sam segera mengambil ponselnya, menggeser-geser jarinya di layar ponsel. Apalagi kalau bukan memesan makanan kesukaan tuan yang terhormat.


Tuan Pandu sudah masuk ke ruangannya.


Sekretaris Sam masuk juga ke ruangannya tetapi beberapa detik kemudian keluar lagi dan menghampiri Irene.


"Nona, ini beberapa lembar kertas yang isinya kesukaan dan yang tidak di sukai tuan muda. Mulai dari makanan, minuman, hobi, semua ada disini menyangkut tuan muda. Saya harap nona mengingat semua yang sudah saya tulis ini."


Irene menerimanya.


Ini bukan beberapa lembar tapi tumpukan lembar. Huff . Sekretaris itu selalu memberi tugas yang aneh-aneh.


Irene membaca secara acak kertas-kertas itu.


Memalukan sekali. Aku bahkan harus tau ukuran celana dalamnya.

__ADS_1


Namun bagaimana pun juga Irene adalah seorang sekretaris. Dia harus tau dan mengerti luar dalam pimpinannya yang luar biasa dingin itu.


__ADS_2