
Hari-hari melelahkan tetapi juga menyenangkan dilalui Irene dengan suka cita. Dia bekerja dengan sepenuh hati. Dia sudah mengenal beberapa orang dan cukup akrab dengannya.
" Selamat pagi pak Budi, pak Rudi dan Bu Sari. Bagaimana kabar bapak-bapak dan ibu hari ini?" Irene selalu menyapa para satpam penjaga depan dengan ramah setiap pagi. Irene adalah karyawan perusahaan itu yang paling ramah menurut mereka.
" Seperti yang nona Irene lihat, kami baik." Jawab bu Sari dan disetujui oleh kedua satpam lain.
"Ini saya bawakan bolu cookis. Tadi malam saya dan kakak saya membuatnya. Saya teringat bapak dan ibu jadi saya pikir untuk membuatkannya juga."
"Anda baik sekali nona Irene, terima kasih sudah repot untuk kami." Satpam-satpam bergantian berterima kasih.
"Tidak apa-apa pak, bu. Kalau begitu saya masuk dulu ya, permisi.." Irene berlalu.
Semua satpam tersenyum hangat menatap kepergian Irene.
Irene juga tersenyum dan menyapa karyawan lain yang berpapasan dengannya walaupun mereka tidak saling kenal. Tersenyum dan menyapa duluan tidak ada ruginya kan? Apalagi kalau melihat senyuman Irene yang lebih manis dari madu, behhh siapapun akan tersanjung melihatnya.
Seperti hari-hari sebelumnya Irene terlebih dahulu latihan mengetik untuk mengasah kemampuannya, sebelum sekretaris Sam memintanya untuk melakukan pekerjaan lain. Kemampuan mengetik Irene sudah cukup meningkat. Dia terus berusaha demi gelar sekretaris teladan. Walau jari-jari tangannya berasa mau copot.
Di sela-sela kesibukannya mengutak-katik keyboard tiba-tiba dia mendengar suara langkah kaki bersahutan mendekat. Dia menatap ke arah suara. Ada seseorang dan sekretaris Sam di belakangnya. Irene langsung berdiri.
Aku pikir sekretaris Sam sudah ada di ruangannya. Dia kan selalu lebih cepat datang daripada aku. Dan itu pasti orang penting sampai-sampai sekretaris Sam berjalan dibelakangnya.
Langkah kaki orang paling depan berhenti dan menatap tajam Irene setajam mata burung elang. Irene bergetar. Irene cepat-cepat menundukkan kepalanya seperti memberi hormat tapi tidak sanggup berucap.
Sekretaris Sam mengambil langkah ke depan dan sigap membuka pintu ruang presiden direktur yang ada di kiri Irene. Laki-laki itu masih menatap Irene lalu berjalan masuk.
Apa itu presdirnya???
Irene menelan ludahnya tapi terasa sangat susah ditelan seperti ada duri di tenggorokannya.
Di dalam ruang presdir
"Siapa dia?" Tanya sang presdir Andrew Pandu Bagaskara ketus dan masih berdiri di dekat pintu, tentu saja dengan tatapan mematikan.
"Sekretaris baru anda tuan muda."
"Kenapa aku harus punya sekretaris baru, kan sudah ada kau."
"Ini perintah tuan besar tuan muda."
__ADS_1
"Selalu saja kau mengaitkan papa dengan hal-hal yang tidak ku suka. Sekarang pecat dia, aku tidak membutuhkannya." Tuan baginda raja bergegas dan duduk di kursi kebesarannya.
"Saya harus mendapat ijin dari tuan besar, tuan muda." Sekretaris Sam berjalan dan berdiri di depan meja sang tuan baginda raja.
"Kalau kau tidak bisa, biar aku saja." Pandu hendak bangkit dari singgasananya.
"Anda akan mendapat masalah tuan muda."
"Cih, kau ini sebenarnya sekretarisku atau pesuruh papa. Baiklah, dia boleh bekerja diperusahaanku. Tapi pindahkan saja dia ke departemen lain."
"Tidak bisa tuan muda. Inilah jabatan yang sudah di tetapkan tuan besar untuknya."
"Keluar kau!" Pandu sedikit berteriak kesal.
"Baik tuan muda, saya permisi." Sekretaris Sam mengangguk dan pergi.
Tuan Pandu mengambil ponsel di saku.
"Halo pa.. Pa kenapa ada sekretaris baru di kantor?"
"Dia akan sangat membantumu Pandu."
"Aku cukup mempunyai Sam saja pa. Lagipula aku sudah sangat pintar untuk mengelola perusahaan."
Apa-apaan papa ini. Dia bahkan tidak merundingkannya dulu denganku. Memang siapa dia sampai-sampai papa menginginkannya.
kembali ke Irene
Sekretaris Sam sudah memberi tahu Irene jadwal tuan presdir hari ini setelah keluar dari ruang presdir tadi.Sebentar lagi ada jadwal bertemu klien.
"Nona, tolong anda sambut klien kita dan bawa mereka keruang rapat yang ada di lantai ini. Mereka adalah salah satu yang terpenting bagi perusahaan ini. Sebentar lagi mereka akan tiba di bawah. Mereka dari Spanyol."
Apa??? Spanyol??? Irene melotot ngeri.
"Ada apa nona? Bergegaslah. Jangan sampai mereka yang menunggu."
"Baik sekretaris Sam. Saya permisi."
Irene beranjak dengan perasaan yang sangat cemas. Bagaimana kalau aku akan mengacaukan semua?
__ADS_1
Irene sudah di lantai dasar. Dia bertanya pada resepsionis apa ada tamu penting datang. Ternyata belum. Dia menunggu dengan perasaan berdebar-debar. Kali ini dia benar-benar takut, lebih takut ketimbang menghadapi interview kemarin. Dia mondar-mandir sambil menunggu.
Baiklah aku harus tenang menghadapi ini. Terlebih dahulu aku harus jujur mengatakan tidak bisa bahasa spanyol. Itu akan lebih baik.
Orang yang di tunggu pun datang. Irene melihat dan langsung berpikir kalau itulah klien penting itu. Irene dengan sigap menghampiri mereka tanpa membiarkan resepsionis yang menyapa terlebih dahulu.
"Good morning sir, how are you?
Irene menyapa tamu-tamu, menjabat tangan mereka, dan tersenyum manis. Hanya itu yang bisa Irene lakukan untuk saat ini.
"I apologize first, I can't speak Spanish, I hope you don't get angry and understand." Irene menundukkan kepalanya menyesal.
Ke dua tamu itu saling bertatapan.
"Who are you?" Tanya seorang dari mereka.
"I'm sorry I haven't introduced myself. I am Mr.President Director's secretary. My name is Irene." (Maaf saya belum memperkenalkan diri. Saya sekretaris tuan presiden direktur. Nama saya Irene)
"Isn't Mr.Andrew's secretary Sam?"(bukankah sekretaris tuan Andrew adalah Sam)
"I'm the other secretary." Irene masih terus tersenyum.
Klien itu manggut-manggut. Irene membawa mereka ke lantai paling atas sesuai yang di minta sekretaris Sam.
"Ms.Irene..?" Klien itu memulai percakapan di dalam lift.
" Yes sir."
"Just call my name, Felix.. l apologize first. I can't speak Indonesian."(panggil saja namaku, Felix. Saya minta maaf. Saya tidak bisa bahasa Indonesia) Klien itu tersenyum kepada Irene. Sepertinya dia menyukai keterbukaan Irene.
"That's no big deal to me, Mr.Felix. Please don't apologize."(bukan masalah besar tuan Felix. Mohon jangan minta maaf)
"Can you teach me Indonesien?"
Haaah, orang ini kenapa sih. Dia kan bisa privat bahasa Indonesia. Dasar orang kaya aneh. Cakep sih, masih muda juga. Irene sadarlah, dia ini klien penting!!
"I will help as much as I can, Mr.Felix."(Saya akan membantu sebisa saya tuan Felix)
Pintu lift terbuka. Irene mempersilahkan kliennya itu untuk duduk di ruang rapat dengan masih wajah yang ceria plus senyum manis.
__ADS_1
...........................
Note: Maaf teman-teman kalau bahasa Inggris author jauh dari kata sempurna. Author akan berusaha agar lebih baik lagi.