
"Irene, Gisel sudah membodohi aku dan kamu. Saat itu tiba-tiba saja dia muncul dihadapanku sambil menangis. Aku bahkan tidak mengenal dia siapa."
"Sudahlah Tian. Aku sudah melupakan itu semua." Irene menarik nafas.
"Maka dari itu, mari kita mulai dari awal Irene." Bastian mengambil kedua tangan Irene. Berharap Irene luluh.
"Maaf Tian, untuk saat ini aku hanya mau bekerja dengan baik. Tolong kamu jangan ganggu aku." Irene menarik tangannya.
Pandu yang cukup berada jauh dari mereka benar-benar tidak tahan lagi, apalagi Bastian memegang tangan Irene. Dia sebenarnya tidak mendengar percakapan mereka, tapi menurut Pandu mereka sedang berbicara tentang percintaan. Dia langsung pulang saat seorang artis menyanyikan lagu romantis, padahal acara belum selesai. Sebelumnya dia sudah minta ijin pulang duluan kepada pemilik hotel kalau dia ada urusan penting dan mendadak. Tentu saja itu adalah bohong.
"Bagaimana mungkin Bastian mengatakan cinta berulang-ulang padanya? Apa itu tidak berlebihan? Memalukan sekali."
Pandu berbicara sendiri di belakang mobil. Sementara supirnya terkejut mendengar ocehan Pandu dan melirik dari spion sambil mulai melajukan mobil.
"Adrian."
"Ya tuan." Adrian adalah supir kepercayaan tuan Pandu. Dia masih muda, bahkan lebih muda dari tuan Pandu.
"Bagaimana hubunganmu dengan istrimu?"
Hah, sejak kapan tuan muda tertarik dengan kehidupan pribadiku? Diakan tidak tertarik membahas kehidupan pribadi orang lain.
"Hubungan kami baik-baik saja tuan." Adrian dan istrinya baru menikah beberapa bulan yang lalu.
"Apakah kau selalu menyatakan cinta pada istrimu?"
Pertanyaan macam apa ini? Haha, bukankah memalukan kalau kujawab disetiap tarikan nafasku aku selalu ingin menyatakan cinta pada istriku. Adrian tersenyum dengan pikirannya itu.
"Tidak selalu tuan. Saat sedang diperlukan saja." Adrian memilih menjawab seperti itu saja biar tidak terdengar berlebihan.
"Apakah menyatakan cinta itu perlu?"
"Tentu saja itu sangat perlu tuan. Selain membuat hati kita puas dan senang, menyatakan cinta itu seperti memberi semangat hidup kepada pasangan." Kali ini Adrian menjawab tanpa berpikir panjang dulu.
"Sepertinya kau paham betul arti cinta ya." Tuan Pandu menatap lekat wajah Adrian dari kaca spion.
"Tidak juga tuan. Saya hanya mengatakan apa yang saya rasakan."
"Lalu bagaimana kalau hanya satu pihak yang mencintai?" Tuan Pandu masih terus meluncurkan pertanyaannya.
"Menurut saya kalau seperti itu, seseorang yang mencintai harus berusaha lebih keras untuk mendapat orang yang dicintainya. Dan kalau dia sudah berusaha semaksimal mungkin dan orang yang dia cintai tidak membalas cintanya juga, lebih baik dia mundur tuan. Cinta itu bukanlah paksaan. Dia malah akan menyakiti diri sendiri dan orang yang dicintainya." Aku seperti motivator cinta saja.
__ADS_1
Apakah tuan Pandu mencintai seseorang dan cintanya tidak dibalas? Kalau ia, berani sekali wanita itu menolak tuan Pandu yang sempurna ini. Adrian.
Mungkin dia lebih memilih Felix daripada Bastian. Pasti dia sudah tahu perusahaan Felix ada di banyak negara. Cih matre sekali.
Semua wanita memang sama. Mencintai seseorang melihat hartanya dulu. Pandu menyimpulkan sendiri di dalam hati.
Sebenarnya di dalam hati yang paling dalam dia tidak rela Irene didekati laki-laki lain. Tapi dia menutup rapat kebenaran itu. Diakan pria arogan. Dengan hatinya saja dia tidak mau jujur.
"Adrian." Pandu mengeluarkan suaranya lagi setelah beberapa saat mereka terdiam dengan pikiran masing-masing.
"Ya tuan."
"Apakah istrimu pernah menuntutmu agar memiliki uang lebih? Atau apalah itu yang menyangkut tentang ekonomi."
"Tidak tuan. Kami tidak pernah ribut masalah uang. Kami sangat bahagia dengan apa yang kami miliki sekarang. Gaji saya sudah sangat besar bahkan istri saya bisa menabung dari sisa uang belanja bulanannya."
"Benarkah? Apa ada wanita seperti itu?"
"Tentu tuan. Istri saya bukan tipe wanita materialistis. Dia selalu bersyukur dengan gaji yang saya berikan padanya."
Kurasa Adrian sama seperti Felix. Dibutakan oleh cinta. Kasihan sekali mereka berdua tidak bisa menilai wanita dengan benar. Pandu tetap bersikukuh dengan pendapatnya tentang wanita.
Sementara di hotel.
Dia mengirim pesan.
Tuan, anda sedang dimana?
Saya sudah pulang.
Apa? Dia pulang dan tidak memberitahu. Dasar tuan kutub ini.
Irene beranjak pergi.
"Irene, kamu mau kemana?"
"Aku mau pulang." Irene terus berjalan tanpa memalingkan wajahnya.
Bastian mengikuti dari belakang.
"Irene biar aku antar kamu pulang."
__ADS_1
"Tidak usah, terima kasih." Irene menaiki taksi yang sedang parkir di dekat hotel.
Irene, aku memang bodoh membiarkanmu dulu saat kau sudah mulai membuka hati untukku. Wanita sialan itu selalu punya cara untuk menjauhkanku darimu. Kau harus percaya kalau cintaku tulus. Kali ini aku harus bisa memenangkan hatimu bagaimanapun caranya.
Di dalam taksi.
Maaf Tian, aku tidak punya perasaan apa-apa lagi padamu sekarang. Aku tidak bisa membuka hatiku lagi untukmu. Semakin kau berusaha mendekatiku, semakin kuingat bagaimana hancurnya hatiku dulu.
Irene menikmati perjalanannya. Ia memalingkan wajahnya ke kanan dan ke kiri memandangi keadaan kota di malam hari sambil mengenang masa lalunya di London dulu.
Flashback
Dulu Irene dan Bastian kuliah di salah satu universitas terkenal di dunia yang ada di kota London. Mereka juga satu fakultas, fakultas bisnis dan manajemen. Mereka tidak sengaja bertemu di bawah sebuah pohon yang ada di taman universitas itu. Mulai dari pertemuan itu mereka semakin dekat.
"Irene, aku boleh kan ya lebih dekat sama kamu." Terang Bastian setelah mereka menghabiskan waktu belajar bersama selama beberapa pekan mulai dari pertemuan pertama mereka yang tidak disengaja itu.
Irene hanya mengangguk malu-malu dan itu membuat Bastian semakin bersemangat.
"Irene, aku suka sama kamu." Bastian menatap dalam mata Irene. "Kamu tidak harus membalas rasa sukaku sekarang. Aku mau kamu membuka hati dulu untukku. Aku tidak mau ada keterpaksaan diantara kita." Ucap Bastian sambil membelai rambut Irene.
Irene saat itu seperti ada di awang-awang. Untuk pertama kalinya ada laki-laki menyentuh hatinya dengan lembut seperti itu. Irene tidak dapat berkata apa-apa. Irene hanya bisa tersenyum dan menatap kejujuran di mata Bastian.
"Nanti kalau kamu udah punya jawabannya, kabari aku ya." Bastian tersenyum.
"Eh aku harus pergi. Ada mata kuliah sebentar lagi. Aku duluan ya. Jangan lupa kasih aku jawabannya." Bastian pergi sambil melambaikan tangannya.
Sekali lagi Irene hanya bisa tersenyum tanpa berkata-kata.
Hari ini setelah beberapa hari pernyataan suka Bastian, Irene akan memberi jawaban kepadanya. Dia sudah mendapatkan jawabannya.
"Hai, kenalin namaku Gisel. Kamu Irene kan?!
Aku kesini cuman kasih tahu kamu kalau aku itu calon istrinya Bastian. Bastian selama ini mendekati kamu cuman untuk membuatku cemburu saja. Ya, kamu ngertilah kita ada cekcok. Kamu jangan menganggap semua ucapannya itu serius ya." Tiba-tiba gadis cantik, tubuh tinggi indah semampai mendekati Irene dan menyerocos semaunya.
"Apa?" Irene tak percaya dan hampir menangis mendengar semua itu.
"Iya betul. Begitulah Bastian kalau sudah marah padaku. Dia akan mencari pelampiasan. Eh itu Bastian. Aku kesana dulu ya, bye...."
Dan benar saja. Irene melihat Bastian dan Gisel bergandengan tangan. Irene juga sering mendapati mereka sedang berduaan. "Jadi aku dianggap olehnya hanya pelampiasan."
Tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata bagaimana hancurnya perasaan Irene saat itu.
__ADS_1
Semenjak pengakuan Gisel itu, Irene tidak mau lagi bertemu Bastian. Dia mati-matian menghindari Bastian. Yang dia pikirkan saat itu hanya belajar dan belajar agar dia cepat mendapat gelar S2 dan pulang ke tanah air.