
Ivone tersenyum bahagia mendengar penuturan adiknya. Citra sampai mengedipkan matanya berkali-kali karena baru kali ini dia melihat Ivone tersenyum seperti itu.
Ini seperti bukan mba Ivone yang asli. Atau aslinya mba Ivone seperti ini ya? Ahh entahlah, tapi yang pasti mba Ivone cantik sekali kalau tersenyum begitu. Citra takjub melihat pemandangan langka itu.
" Kapan kamu wawancara?" Ivone merapikan pakaiannya yang berantakan akibat pelukan bertubi-tubi Irene.
"Senin kak." Irene bergelayut manja di lengan kakaknya dan masih tersenyum bahagia.
"Selamat ya mba Irene, semoga wawancaranya lancar." Citra
" Amin.. Makasih Citra."
" Irene kamu pilihlah pakaian untuk wawancara. Citra kamu bantu dia!" Ivone
" Makasih kak."
Ivone pergi ke meja kerjanya.
" Mba Irene pasti cocok pakai kemeja sama rok ini." Citra memberi pendapat setelah beberapa saat mereka memilah-milih.
Irene pergi ke ruang pas yang ditunjuk Citra. Dan benar saja, warna dan ukurannya pas di badan Irene. Irene tersenyum puas lalu dia pergi ke meja kerja kakaknya menunggunya sampai selesa bekerja. Dia tidak mau mengganggu Citra atau yang lainnya yang sedang sibuk.
Sore hari mereka pulang. Semua karyawan juga pulang karena memang jam kerja sudah usai. Mereka terkejut, Tio ada di depan apartemen.
"Tioo.." Irene berlari kecil setelah keluar dari lift.
"Kak Irene.." Mereka berpelukan.
"Kamu sudah menunggu lama Tio?" Tanya Ivone sambil membuka pintu.
"Barusan kak, ini juga mau nelepon tapi kakak berdua udah keburu datang." Mereka masuk.
"Kak, ini aku bawa bakso. Kita makan yuk."
" Enak tuh. Kamu tau aja Tio setelah pulang aku belum pernah makan bakso." Irene menelan ludahnya.
__ADS_1
"Kebetulan sekali dong, ayo langsung kita hajar saja takut keburu dingin." Tio
Mereka makan dengan lahap sambil sesekali diselingi tawa.
Mereka duduk di sofa setelah Ivone dan Irene membersihkan diri.
"Tio bagaimana kabar kamu? Bagaimana kuliahmu?" Irene menatap tubuh kekar Tio. "Kamu makin gagah dan tampan saja." Dia mencubit gemas hidung Tio, Tio meringis. Sedangkan Ivone seperti biasa sibuk sendiri dengan laptopnya. Dia berpikir lebih baik banyak bekerja daripada berbicara. Kira-kira siapakah nanti yang mampu mencairkan watak dingin Ivone yang setinggi gunung Everest itu ya?
" Kabarku luar biasa sangat baik kak. Sekarang aku sudah semester akhir rencananya aku mau menyusun skripsi beberapa bulan kedepan." Tio
"Bagus itu Tio, aku mendukungmu." Irene
" Iya kak sekarang aku lagi fokus memilih topik dan metode yang cocok dan pas buat aku."
"Itu harus Tio biar kamu ga kewalahan saat sidang nanti.
Tio banyak menanyakan tentang apa-apa saja yang harus dipersiapkan sebelum penyusunan skripsi. Dia bersyukur Irene pulang ke tanah air tepat pada waktu dia membutuhkan bimbingan seperti sekarang ini. Sebenarnya bisa saja membahasnya lewat chatting atau media sosial tapi bertemu langsung rasanya lebih puas. Mereka bercakap-cakap sambil sesekali bersenda gurau, dan tak lupa cemilan juga. Ivone berbicara kalau ditanyai saja. Hufft begitulah Ivone tidak banyak bicara, HARAP DI GARIS BAWAHI
Malam semakin larut dan Tio pamit pulang.
"Kita kemana kak?" Tanya Irene setelah di dalam taksi.
" Kesuatu tempat. Kamu duduk saja dan diam!" Perintah sang kakak.
Ivone mengeluarkan ponselnya, dan menggeser-geser layarnya beberapa detik. "Halo, kamu sudah dibutik?" Sesaat mendengarkan. "Bagus, kamu layani pelanggan kita yang akan fitting baju. Gaun dan jasnya sudah terpasang di manekin disamping meja kerja saya. Kalau mereka ada keluhan langsung kabari saya." Mendengar lagi. "Baik, setelah selesai kamu langsung pulang tutup butik dengan benar." Panggilan berakhir.
Irene tau kalau panggilan itu pasti dari karyawan butik. Irene mendengar percakapan Ivone dan Citra kemarin kalau ada calon pengantin yang akan fitting baju. Sebenarnya hari minggu butik milik kakaknya itu tutup, tapi demi kepuasan pelanggan.. (gapapa dong dibuka sebentar).
Taksi berhenti disebuah mall. Irene melongo. Ngapain kesini, pikirnya.
"Udah jangan bengong, ayo masuk." Ivone menarik paksa tangan adiknya.
Mereka mendatangi dan melihat-lihat isi toko yang berbaris. Semua sangat menarik. Tentu saja menarik. Ini kan mall paling besar di kota ini. Jadi semua barang harus terlihat menarik.
"Kamu pilihlah barang yang kamu suka. Tapi kakak sarankan pilih buat keperluanmu besok buat wawancara."
__ADS_1
Huhh, kakak ini bagaimana sih. Katanya pilih barang yang disuka tapi memberi batasan.
Irene membeli tas dan sepatu ber-hak dan juga beberapa asesoris sesuai petunjuk sang kakak.
"Kak, besok kan hanya wawancara saja. Apa ini diperlukan?" Irene mengangkat paper bag ditangannya.
"Kamu ini bagaimana sih Irene. Kamu ini kan melamar jadi sekretaris, tentu saja penampilan juga dinilai."
"Ohhh iyaaa.." Irene tersenyum imut menunjukkan lesung pipinya yang manis tapi di dalam hati dia mengutuki dirinya yang bodoh karena lupa poin yang satu itu.
Karena sudah lama jalan-jalan mengitari mall, akhirnya mereka berdua tepar. Mereka dengan tenaga yang masih tersisa menyeret kaki ke sebuah kafe. Dan mereka dengan tidak tau malu menyantap makanan yang mereka pesan dengan rakusnya tanpa perduli orang sekitar. Yang melihat pasti berpikir, mereka tidak pernah makan enaklah, mereka baru keluar dari pedalaman yang sangat dalamlah atau apapun itu terserah mereka yang melihat.
Sesudah selesai urusan di kafe, Ivone mengajak Irene ke salon yang juga masih ada di mall itu. Tentu saja Irene semangat 45. Suasana salon lumayan ramai sampai-sampai mereka harus mengantri. Tibalah giliran mereka.
"Mba, saya mau dibikinin poni tapi tipis saja ya sepanjang alis mata saya. Dan tolong ujung rambut saya dirapikan." Pinta Irene.
"Baik mba, silahkan sebelah sini."
Sedangkan Ivone minta creambath plus pijit, dia ingin merilekskan pikiranya.
Setelah acara potong rambut selesai, Irene pun minta creambath dan pijit. Dia juga mau menjernihkan pikirannya. Dia merasai setiap sentuhan-sentuhan tangan yang memijat kepalanya itu sampai memejamkan mata.
Acara nyalon pun selesai. Irene menatap dirinya di depan kaca. Dia tersenyum melihat gaya rambut barunya. Wajahnya lebih fresh.
Mereka pulang. Mereka tiba di apartemen sudah sore.
"Kak, te.."
"Terima kasih kamu sudah terlalu banyak Irene. Memori di kepala kakak sudah penuh sama ucapan terima kasihmu." Ivone menyela sambil tersenyum.
"Ahh kakak ini.." Irene memeluk kakaknya. Kakak tau aja kalo aku mau bilang terima kasih. Hari ini Irene benar-benar sangat senang bisa menghabiskan waktu dengan kakaknya seharian.
"Besok kamu harus jadi adik terbaik di dunia. Ingat, banggakan kakak dengan keberhasilanmu!" Ivone mencium kening adiknya yang manis itu.
BERSAMBUNG.....
__ADS_1