Cerita Cinta Irene

Cerita Cinta Irene
Cemburu?


__ADS_3

Setelah mendapat nomor ponsel tuan Pandu dari sekretaris Sam lewat E-mail yang dikirimkannya barusan, Irene hendak menghubungi Pandu. Dia menimang-nimang ponselnya, bingung mau menelepon atau mengirim pesan.


Aku ini kenapa sih. Kayak mau hubungin gebetan aja. Ini jantung juga pakai berdebar-debar segala. Sadarlah, dia itu tuan Pandu si mata elang, si manusia kutub, lelaki kasar.


Irene berdehem mengetes suara. Dia memutuskan menelepon saja biar cepat. Panggilan tidak dijawab. Bagaimana ini? Irene kembali mencoba menelepon.


"Halo."


Akhirnya dijawab juga.


"Halo tuan Pandu, dimana saya harus menjemput anda?" Sebenarnya Irene sudah tau alamat rumah Pandu dari E-mail yang dikirim sekretaris Sam tadi. Tapi apakah tidak akan mengejutkan tuan Pandu kalau tiba-tiba


saja Irene nongol di rumahnya.


"Siapa ini?" Pandu terkejut. Bagaimana bisa ada seorang wanita berani mengatakan ingin menjemputnya.


"Maaf tuan, saya Irene."


Ah, kenapa suaranya di telepon dan berbicara langsung sangat berbeda.


"Kau tunggu saja aku di hotel itu."


"Baik tuan."


Pandu masih terperangah di ruang ganti pakaiannya. Apa ini? Kenapa hatiku berdebar- debar mendengar suaranya barusan.


Irene menatap dirinya di kaca. "Bagaimana penampilanku Citra?"


"Ya ampun mba Irene, pertanyaan ini sudah yang ke seribu dan jawabanku tetap sama, PERFEKTO."


Irene sebelum pulang dari kantor tadi sudah memberitahu Ivone akan ada acara peresmian hotel. Ivone sengaja mengajak Citra ke apartemen untuk membantu Irene berdandan. Citra lumayan jago dalam hal ini. Peresmian hotel memang bagian dari pekerjaan, tapi karena di luar kantor Citra menyarankan Irene memakai bussines dress putih polos namun terlihat elegan yang bagian belakangnya lebih panjang dari bagian depan dan sepatu flat hitam yang didepannya ada pita berwarna merah muda.


Polesan make-up kali ini lebih mencolok dari biasanya karena acara diadakan malam hari, biar tidak kelihatan pucat begitu yang dikatakan Citra. Rambut digulung namun tidak terlalu rapi, menyisakan bagian poni dan sedikit di bagian depan kedua telinganya. Irene sangat cantik.


Irene keluar dari taksi. Melangkahkan kakinya sambil membawa tas tangan mungil di jemarinya.


"Hotel ini memang indah." Gumamnya. Papan bunga berjejer dari depan hotel sampai ke kiri dan kanan jalan raya. Bagian depan hotel dihias sedemikian rupa memanjakan mata yang melihatnya. Irene terkagum-kagum.


Tamu undangan sudah banyak yang datang. Tapi Irene tidak mengenal satupun dari mereka. Tuan Pandu juga belum menunjukkan batang hidungnya.


"Irene!" Seseorang melambaikan tangan dan menghampiri Irene. Irene mencari-cari asal suara tersebut.


"Bastian, ngapain kamu disini?" Tanya Irene tidak bersemangat.

__ADS_1


"Kamu lupa, aku ini juga adalah seorang pebisnis. Tentu saja mereka juga harus mengundangku. Dan aku sudah yakin kalau kamu juga pasti hadir di acara ini. Kamu cantik sekali Irene." Irene hanya diam.


"Irene, aku sama sekali tidak mencintai Gisel. Dia yang terus mendekati dan menggodaku."


"Sudahlah Bastian, aku menganggapmu hanya masa lalu."


"Percayalah Irene. Apa perlu aku melamarmu sekarang juga?" Bastian mengambil tangan Irene yang tidak memegang tas.


"Kau sudah gila." Irene menarik paksa tangannya.


"Iya, aku gila. Aku tergila-gila padamu sejak dulu." Bastian bicara dengan berapi-api.


"Cih, aku sudah muak dengan gombalan seperti itu."


"Lalu bagaimana caranya agar kamu percaya kalau aku mencintaimu setengah mati?"


Irene tidak perduli perkataan Bastian. Dia hendak melangkah pergi. Tapi ....


"Tuan Pandu. Anda sudah datang?" Irene kaget bukan main melihat Pandu sudah berada di samping mereka. Tatapannya sama saat pertama Irene melihat Pandu. Tatapan mematikan. Irene sedikit gemetar.


Kenapa tatapan mata elang itu diperlihatkan lagi?


"Sepertinya kalian sedang bicara serius."


"Ya." Bastian


Bastian dan Irene menjawab bersamaan tetapi dengan jawaban yang berbeda.


"Selesaikan saja dulu urusan kalian." Pandu hendak melangkah.


"Tidak tuan Pandu. Saya ikut dengan anda."


Pandu terus melangkah. Entah kenapa dia seperti terbakar. Saat Felix dulu bilang menyukai Irene, perasaannya tidak seperti ini. Pandu menjentikkan jarinya memanggil pelayan dan mengambil minuman, meneguknya sampai habis. Sebenarnya Pandu tidak suka alkohol tapi karena tidak ada teh untuk menurunkan amarahnya, jadi apa yang dia lihat itu yang diminum.


Pandu melihat ke arah Irene menatapnya tajam lalu mengambil satu gelas lagi dan meneguknya sampai habis.


"Sudah tuan. Sudah cukup minumnya." Cegah Irene saat Pandu mau mengambil lagi minuman alkohol itu.


"Apa pedulimu?"


"Tentu saja saya peduli. Anda atasan saya."


"Kalau aku bukan atasanmu, apa kau masih peduli?" Pandu buang muka.

__ADS_1


Dia ini kenapa sih.


Pandu pergi meninggalkan Irene yang masih mematung. Pembawa acara memulai dengan membacakan tata acara.


Acara potong pita riuh dengan tepuk tangan para tamu. Sang empunya hotel mempersilahkan tamu-tamu kehormatannya untuk masuk ke dalam hotel.


Semua meja yang disiapkan sudah diberi nama atau nama perusahaan. Pemilik hotel tidak hanya mengundang kalangan bisnis saja. Gubernur dan pejabat daerah juga diundang.


Pandu dan Irene duduk di meja yang bertuliskan Central Group. Pandu masih kesal menatap Irene. Entah kenapa dia kesal, dia juga tidak tahu. Sampai tibalah waktu makan malam.


"Tuan, anda ingin makan apa?"


"Akan aku ambil sendiri." Pandu beranjak dengan muka kesalnya.


Irene mengikuti dari belakang.


Setelah mengambil makanan masing-masing, mereka kembali ke meja. Irene memperhatikan isi piring Pandu.


"Tuan, lauk itu pedas. Perut anda tidak akan cocok dengan makanan itu."


"Tuan Pandu, apakah saya boleh bergabung di meja anda?" Bastian datang entah darimana sambil membawa piringnya.


"Silahkan tuan Bastian." Pandu masih dengan sikap wibawanya.


Bastian menatap Irene dan tersenyum. Tapi Irene membuang muka. Melihat Bastian menatap Irene seperti itu, Pandu semakin terbakar. Dia menyendokkan makanan kemulut dan mengunyahnya. Dan benar saja, makanan itu sangat pedas di mulutnya.


"Tuan saya sudah bilang makanan itu tidak cocok untuk anda." Irene menyodorkan gelas minumnya ke Pandu. Pandu menerima dan meminumnya karena sudah kepedasan.


"Anda makanlah punya saya ini." Irene menukar piringnya dengan piring Pandu. Irene mengambil sayur sop dan ayam kecap ke piringnya tadi karena sudah melihat apa yang diambil Pandu.


Bastian sedikit bingung dengan sikap mereka. Tadi saat rapat mereka terlihat sangat dingin seperti tidak peduli satu sama lain. Dan sekarang?


"Saya pergi dulu." Pandu bangkit dari kursinya setelah selesai makan walau makanannya tidak habis. Dia tidak tahan melihat Bastian menatap Irene seperti itu.


"Saya ikut tuan." Irene menggeser kursinya.


"Tidak usah. Habiskan saja makananmu."


"Kenapa kau harus duduk disini?" Irene marah setelah kepergian Pandu.


"Kenapa? Tuan Pandu saja mengijinkan." Bastian santai sambil menyantap makanannya.


"Tapi aku tidak." Irene tegas.

__ADS_1


"Dengar Irene, aku tidak akan pernah berhenti untuk mendapatkanmu."


BERSAMBUNG


__ADS_2